alexametrics
Sabtu, 23 Oktober 2021
Sabtu, 23 Oktober 2021

Ini Dia Wahidin, Pembuat Tas dari Kain Tenun Khas Lombok

Disukai Bule karena Unik dan Motifnya Beragam

Tas buatan Wahidin cenderung disukai Wisatawan Mancanegara (Wisman). Maklum, tas yang dibuatnya memang terlihat unik dengan motif yang beragam.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

“SAYA belajar menjahit otodidak,” kata Wahidin ditemui di rumahnya, kemarin.

Bapak tiga anak ini terlihat santai di teras depan rumahnya di Lingkungan Pelita, Dasan Agung Baru, Kota Mataram. Sesekali rokok yang ada ditangannya dihisap sembari melihat anak buahnya bekerja.

Wahidin tidak pernah menyangka dirinya akan mengembangkan usaha menjahit. Khususnya membuat tas berbahan dasar kain tenun khas Lombok. “Saya tidak pernah sekolah menjahit,” ucap pria asal Lombok Tengah ini.

Ia mulai memproduksi tas kain tenun Lombok sejak 2013 lalu. Awalnya dia hanya penjahit biasa dengan keahlian seadanya.

“Bukan hanya tas, topi dan dompet juga kami buat dari kain tenun,” ucap pria 50 tahun ini.

Membuat tas berbahan kain tenun, katanya, gampang-gampang susah. Tingkat kesukaran pembuatan akan memengaruhi harga.

“Tas yang banyak dipesan dengan motif burung, subhanale, dan kabut rinjani,” ujar Wahidin sesekali menghisap rokoknya.

Sementara motif lainnya sepeti kangkung, nanas, katak, dan lumbung agak jarang yang pesan. Selain motif, ukuran tas juga mejadi penentu dalam memberikan harga. Besar kecilnya tas akan menentukan harga.

Jika besar, otomatis harganya akan lebih mahal. Untuk tas kain tenun dibanderol bervariasi. Mulai dari Rp 50 ribu hingga Rp 1,5 juta. “Kalau dompet kita jual Rp 50 ribu,” tuturnya.

Wahidin terlihat galau. Seperti ada beban. Dia menuturkan, pesanan tas kain tenun sejak pandemi Covid-19 menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Saat ini kata dia, jarang sekali ada konsumen datang ke rumah memesan tas. Tak hanya itu, pihaknya juga terkendala pemasaran yang membuat pesanan sepi.

Dulu, sebut dia, Dinas Perindustrian, Koperasi, dan UKM Kota Mataram dan NTB kerap mengadakan pameran. Dari ajang tersebut dia bisa mempromosikan tas tenun yang dibuatnya. “Kalau ada pameran kita berikan kartu nama kepada pengunjung dengan harapan nanti ada pesanan,” harapnya.

Menurutnya, pameran ini dampaknya cukup besar. Bahkan dulu dia sempat memiliki agen di Jakarta yang memasarkan produksi tasnya. Tas-tas dibuatnya dipasarkan di Jakarta karena waktu itu cukup banyak peminatnya.

“Tapi sekarang sudah tidak ada lagi agen di Jakarta,” kata Wahidin.

Disamping itu, dia juga kerap mendapat konsumen dengan langsung datang ke rumahnya. Bahkan waktu itu banyak wisman yang datang langsung ke rumahnya memesan tas sesuai keinginan. “Bule-bule dulu sering datang ke sini,” kenang Wahidin.

Namun, usaha pembuatan tas khas tenun belum ada geliat sampai sekarang. Ruang gerak masyarakat yang dibatasi di masa pandemi Covid-19 membuat usahanya berjalan stagnan.

“Jika ada orang yang datang memesan, baru dibuatkan. Jika tidak ada maka hanya membuat saja tanpa terjual,” kata Wahidin. “Kalau tidak ada pesanan, kita buat contoh tas saja untuk kita pajang,” imbuhnya.

Kendati demikian dari skill menjahit dia mampu menyekolahkan tiga anaknya. Bahkan saat ini anak sulungnya sudah kuliah.

Dia akan coba memasarkan produk tas tenun di media sosial (medsos). Dia akan menawarkan tas tenun melalui facebook dan Instgram. Bahkan jika pesanan yang datang maka dua berencana akan memasarkan melalui pasar online. “Kalau sekarang kita punya nama dari cerita mulut ke mulut,” tukasnya. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks