alexametrics
Rabu, 4 Agustus 2021
Rabu, 4 Agustus 2021

PPKM Darurat di Ampenan: Jualan Rp 20 Ribu, Tiap Malam Didatangi Aparat

Sebelum pukul 21.00 Wita, Suriawatun, seorang pedagang di Pantai Boom Ampenan harus beres-beres. Karena kalau tidak, aparat dari TNI, Polri, dan  Satpol PP akan datang menegurnya.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

KONDISI Pantai Boom Ampenan terlihat sepi siang kemarin. Tidak ada satu pun pengunjung yang terlihat melintas.

Di sisi lain, alunan musik dangdut terdengar dari lapak pedagang yang berada di ujung selatan. Namanya Suriawatun. Pedagang di salah satu Pantai Boom Ampenan ini begitu asyik mendengar musik karena tidak ada pengunjung. “Silakan duduk mas,” kata dia ramah.

Selama beberapa hari ini, Atun, sapaan karibnya terlihat cukup kecewa dengan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat  yang diterapkan pemerintah. Gara-gara kebijakan ini, waktunya berjualan pada malam hari dibatasi.

Sebelum pukul 21.00 Wita, dia dan suaminya harus beres-beres. Memasukkan kursi dan meja yang ada di depan lapaknya dan mematikan lampu.

“Setiap malam polisi, tentara, Pol PP datang ke pantai  mengawasi pedagang. Jam sembilan malam ini kita harus tutup,” kata perempuan asal Kampung Melayu Bangsal, Ampenan ini.

Atun memilih jualan dari pagi karena tidak ada aktivitas di rumah. Dia dan suaminya banyak menghabiskan waktu di Pantai Boom Ampenan untuk berjualan.

“Dari pada kita tidak ada kegiatan di rumah, lebih baik kita buka. Berdagang,” terang perempuan berjilbab ini.

Sejak diberlakukan PPKM Darurat, dia diminta tutup pukul 21.00 Wita. Kebijakan ini ditentang hampir semua pedagang di pantai Ampenan. Karena dianggap merugikan. Terutama bagi pedagang yang mulai buka pukul 16.00 Wita.

“Dengan kebijakan ini kita hanya capek angkat kursi dan meja saja. Karena kalau buka lapak, kursi dan meja ini kita jejer di luar. Kalau kita tutup kita masukkan lagi,” kata perempuan 63 tahun ini.

Para pedagang yang berjualan di Pantai Boom  Ampenan tidak membuka lapak begitu saja. Namun mereka harus mengangkat meja dan kursi yang disimpan di lapaknya. Karena kalau tidak para pengunjung tidak ada tempat duduk untuk menikmati makanan atau kuliner yang disajikan.

“Kalau sekarang kita capek keluar masukin kursi dan meja saja,” cetus dia.

PPKM Darurat yang diterapkan Pemkot Mataram membuat semuanya sepi. Tidak hanya di Pantai Boom Ampenan, namun juga di pasar atau tempat lainnya. Selama ini, Atun jarang ke pasar karena tidak ada pendapatan dari hasil jualan.

“Pasar sekarang juga sepi, kita juga jarang ke pasar karena hasil jualan tidak ada. Apa yang mau kita beli kalau endak ada uang,” kata dia.

Atun mulai jualan di Pantai Boom sejak 2015 lalu. Dalam sehari dia bisa mendapat Rp 200 ribu. Namun kini sejak diberlakukannya PPKM Darurat, dia hanya dapat jualan Rp 20 ribu per hari.

Meski begitu, dia tetap bersyukur. Karena kebutuhan sehari-hari hanya untuknya bersama suaminya. “Kalau anak-anak sudah besar dan sudah bekerja semua,” ujar ibu enam anak ini.

Meski demikian dia melihat pedagang lain. Harus membiayai anak sekolah dengan berjualan. Bahkan ada juga pedagang yang harus tinggal di lapak demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kalau ada ganti rugi selama PPKM Darurat mungkin pedagang tidak akan keberatan diminta tutup jam sembilan malam. Paling tidak bisa dikasi beras selama PPKM Darurat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari,” urai dia.(*/r3)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks