alexametrics
Rabu, 8 Desember 2021
Rabu, 8 Desember 2021

Keunikan Prosesi Adat Nunas Nede di Desa Kesik, Kecamatan Masbagik

Tradisi Memohon Kesuburan Tanah dan Hasil Panen Melimpah

Prosesi adat nunas nede sudah menjadi tradisi leluhur yang rutin dilaksanakan satu kali setahun oleh masyarakat setempat. Sebagai upaya melestarikan budaya tersebut, pemerintah desa setempat mengusungnya menjadi sebuah acara budaya dan pariwisata.  

 

Fatih Kudus Jaelani, Lombok Timur

 

Puluhan perempuan Desa Kesik berjalan menyusuri pematang sawah. Mengenakan baju adat Sasak, mereka berjalan beriringan memanggul dulang. Nampan yang dipanggul berisi makanan. Dalam tradisi nunas nede di desa Kesik, hal itu disebut ngater, yang berarti mengantar dulang ke petani yang tengah bekerja di tengah ladang.

Ngater menjadi salah satu prosesi adat yang disuguhkan dalam acara prosesi adat nunas nede di Desa Kesik, Kecamatan Masbagik. Tradisi tersebut masih lestari di tengah masyarakat. Bukan ada hanya untuk sebuah acara budaya untuk membantu promosi pariwisata di desa tersebut. “Di tahun sebelumnya, kami dari pemerintah desa selalu diundang menjadi tamu,” kata Kepala Desa Kesik M Kadri.

Namun melihat potensi wisata di Desa Kesik, juga untuk melestarikan tradisi leluhur, Kadri berinisiatif untuk membuatnya menjadi acara tahunan yang dikelola oleh pemerintah desa. Kendati demikian, ia menekankan jika kemurnian tradisi tersebut tetap terjaga. Sebab yang melaksanakannya adalah murni dari masyarakat setempat.

Nunas nede sendiri diawali dengan gotong royong membersihkan sumber mata air. Kemudian menanam pohon dan membuka jalan baru. Kata Kadri, ritual utama dari prosesi nunas nede adalah masyarakat membawa makanan ke petilasan ratu bernama tirta ratu Desa Kesik.

“Sumber mata air yang dipercaya sebagai tempat mandinya ratu ini kami kembangkan menjadi taman wisata tirta ratu,” jelasnya.

Di tempat tersebut, warga memanjatkan doa-doa pada yang maha kuasa. Di sana, warga memohon agar tanah mereka dijaga kesuburannya dan dilimpahkan hasil panennya. Kata Kadri, ritual juga menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas nikmat yang diberikan Allah SWT.

Selain untuk melestarikan tradisi leluhur, Kadri berharap kegiatan tersebut juga dapat mengembangkan wilayahnya sebagai desa wisata. Selain itu, nunas nede juga diangankan dapat memupuk rasa kebersamaan dan kerukunan warga. (*/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks