alexametrics
Selasa, 24 Mei 2022
Selasa, 24 Mei 2022

Bikin Syok, Harga Kamar Hotel di Lombok Menggila saat MotoGP 2022

Harga kamar hotel melambung tinggi. Tidak cuma mahal, kamar di hotel-hotel berbintang pun sudah full booked di pekan pelaksanaan MotoGP pada 18-20 Maret. Kondisi tersebut menyulitkan calon penonton hingga asosiasi travel agent, yang paket wisatanya sangat bergantung pada ketersediaan kamar hotel. Pemerintah diminta bertindak dan tidak tutup mata. Apakah ada andil para broker?

————————————————

KETUA Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) NTB  Dewantoro Umbu Joka gusar bukan main. Baru saja asosiasi travel perjalanan mendapat kabar gembira. Yakni mendapat alokasi tiket MotoGP untuk dijual bersama paket wisata kepada para customer loyal mereka. Namun, kegembiraan itu pun nyaris sirna.

“Bagaimana mau jual paket, kalau kamar hotel sudah penuh,” kata Dewantoro bersungut-sungut.

MotoGP memang bisa menjadi magnet bagi kunjungan wisatawan ke NTB. Namun, ia melihat ada keganjilan dengan situasi harga kamar hotel yang terlampau mahal, hingga sudah tidak ada lagi kamar hotel bintang yang available.

”Penuhnya itu sudah dari lama. Desember. Itu saya tanda tanya, tiket (MotoGP) kan belum keluar, harga tiket pesawat juga kita belum tahu berapa besok, tapi hotel sudah penuh, kan aneh,” bebernya.

Total ada 3.000 tiket MotoGP yang dialokasikan untuk travel agen di NTB. Tiket itulah yang hendak dikemas bersama paket perjalanan wisata. Nilainya berbeda-beda. Tergantung harga tiket, dan lamanya paket wisata yang dipilih para wisatawan.

Tadinya, banyak pihak yang gembira, hotel-hotel sudah full booking. Maklum. Sudah begitu lama semenjak pandemi, hotel tidak penuh seperti itu. Hotel penuh, berarti wisatawan yang datang melancong berarti banyak. Sehingga ekonomi pun dipastikan menggeliat.

Baca Juga :  Listrik Menyempurnakan Kehidupan Warga Desa Puncak Jeringo di Kaki Rinjani

Namun tak dinyana. Penuhnya hotel-hotel tersebut rupanya diikuti dengan harga yang tinggi. Bahkan, bagi sebagian kalangan kelewat tinggi. Tak masuk akal. Pengecekan Lombok Post di Kota Mataram misalnya. Hotel Santika yang dari harga standarnya Rp 500 ribu per malam, selama Maret tarifnya naik menjadi Rp 1,5 juta per malam. Dan sudah tak ada lagi kamar tersedia untuk periode 18-21 Maret 2022 saat MotoGP sedang digelar.

Sementara untuk harga kamar hotel di Senggigi, Lombok Barat, salah satunya adalah Holiday Resort. Hotel bintang empat ini memasang tarif mulai kisaran Rp 4 juta permalam dengan minimal periode menginap selama empat malam. Sebelumnya, harga kamar hotel ini dapat dinikmati dengan harga Rp 600 ribuan per malam.

Sementara di salah satu hotel di Mandalika, Lombok Tengah yakni Raja Hotel Kuta Mandalika kisaran harganya mulai Rp 5 jutaan per malam dengan periode menginap minimal tiga malam saat event MotoGP.

Atas tingginya harga hotel tersebut, sebagai ketua asosiasi, Dewantoro mencurigai ada peran broker yang bermain di kamar hotel. Pemodal besar yang memborong ratusan kamar hotel bintang dengan memanfaatkan momentum balapan MotoGP. Meski ia menyadari bahwa kecurigaannya perlu juga dibuktikan.

”Kalau dilihat dari sisi bisnis, kita tidak bisa marah juga harga kamar naik. Tapi paling tidak yang sewajarnya saja,” tutur Dewantoro.

Baca Juga :  Mengenang Camat Mataram Edwin Zamrony : Pekerja Keras, Loyal pada Sahabat

Karena itu, menurutnya, pemerintah harus turun tangan. Setidaknya membuat surat edaran yang mengatur soal tata niaga kamar hotel di masa event-event internasional.

”Jangan kita terkecoh, event ini bukan satu kali saja. Kalau nanti tinggi sekali, tidak ada orang mau datang. Lebih pilih nginap di tempat lain,” tegas Dewantoro.

Tak cuma ASITA. Kolega Dewantoro, yakni Ketua Asosiasi Travel Agent Indonesia (Astindo) NTB Sahlan M Saleh juga meminta pemerintah mengatensi harga hotel dan transportasi menjelang gelaran MotoGP.

”Gubernur harus mengambil sikap. Harus ada harga batas atas dan batas bawah,” kata Sahlan.

Dia menyebut, harga kamar hotel menjelang MotoGP ada yang naik hingga 300 persen. Situasi tersebut tentu tidak menguntungkan bagi pelaku pariwisata di NTB yang modalnya tidak seberapa.

Astindo sebenarnya berharap pihak hotel bisa memberikan kuota kamar kepada pelaku usaha pariwisata lokal. Setidaknya 50 persen dari total kamar yang tersedia. Dengan begitu, pelaku usaha tidak kesulitan mencari kamar untuk tamu-tamu yang datang menonton MotoGP.

”Kami tidak pernah mengalami seperti ini. Ketika anggota kami hendak booking hotel, semua full booked,” sebut Sahlan.

Kata Sahlan, balapan MotoGP pada Maret 2022 nanti di Pertamina Mandalika International Street Circuit, memang menjadi momentum untuk mengambil manfaat ekonomi. Tapi bukan sebagai aji mumpung. Hingga menaikkan harga yang di luar batas.

Harus ada perhitungan harga kamar yang ideal. Salah satunya dengan intervensi dari pemerintah. ”Harus ikut dalam proses menentukan dan mengendalikan harga,” katanya. (dit/eka/kus/r6)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/