alexametrics
Rabu, 4 Agustus 2021
Rabu, 4 Agustus 2021

SMKN 5 Mataram Bersiap jadi BLUD : Buat Showroom, Produksi Batik Massal

SMKN 5 Mataram siap memproduksi batik dalam jumlah besar. Itu jika sekolah kejuruan  ini ditunjuk menjadi SMK  Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).

 

ALI ROJAI, Mataram

 

SUASANA SMKN 5 Mataram kemarin terlihat sepi. Sekolah kejuruan yang ada di Jalan Merdeka Raya, Karang Pule ini merupakan salah satu sekolah di Kota Mataram yang halamannya cukup luas. Bahkan sekolah ini memiliki ruang produksi dari semua jurusan di sekolah yang memperdalam ilmu seni ini.

Di sisi lain, nampak beberapa guru terlihat bercengkrama di salah satu ruangan. Ruang ini biasanya disebut  para guru sebagai showroom. Karena dalam ruangan ini ratusan batik produksi siswa, baik berupa batik tulis maupun batik cap dipajang. Bahkan ada juga yang sudah dalam bentuk pakaian.

“Kalau guru menyebut ruangan ini showroom,” kata kepala SMKN 5 Mataram H Istiqlal Makrip, kemarin.

Meski baru menjabat beberapa tahun, Istiqlal mempunyai mimpi besar memajukan sekolah ini. Dia ingin produksi batik dilakukan dalam skala besar. Karena, pemasarannya tidak hanya di tingkat lokal, namun juga sampai keluar negeri.

Pengalaman Istiqlal sebagai kepala sekolah luar negeri di Kota Kinabalu Malaysia membuatnya memiliki jejaring dan pengalaman. Bahkan sebelum Covid-19 melanda, pihaknya mendatangkan siswa dari berbagai negara untuk belajar membatik di sekolah ini.

“Tapi sekarang di situasi Covid-19, kita tidak bisa berbuat banyak,” tutur mantan kepala SMKN 4 Mataram ini.

Jika sekolah dinahkodainya ditunjuk sebagai SMK BLUD, dia berjanji akan mengubah wajah sekolah ini. Di bagian depan dia akan membuat sejumlah showroom. Di dalam showroom ini akan dipajang hasil kerajinan siswa. Terutama batik yang sudah menjadi khas sekolah yang ada di Pagesangan, Kota Mataram ini.

“Lebih banyak akan kita produksi batik kalau sudah menjadi BLUD,” terang pria asal Turida, Kota Mataram ini.

Saat ini, kata dia, pemasaran batik diproduksi siswa terbatas. Promosi masih dilakukan sebatas sekolah dan teman-teman guru. Belum sampai keluar daerah karena produksi terbatas. “Produksi batik kita ini punya nilai lebih dibandingkan batik pada umumnya. Karena dibuat siswa langsung,” urai dia.

Saat ini, sekolah menghentikan produksi batik untuk sementara. Apalagi sekarang ditengah pandemi Covid-19, jarang orang mencari batik karena alasan keuangan. Yang datang ke sekolah mencari batik hanya beberapa orang untuk dijadikan oleh-oleh. “Satu dua yang datang ke sekolah mencari batik,” tutur dia.

Sebelum Covid-19 melanda kata dia, pengunjung yang datang ke sekolah mencari batik cukup banyak. Ada yang datang dari lembaga, organisasi, dan wisatawan. “Kalau yang datang dari lembaga atau organisasi, biasanya beli dalam jumlah banyak,” urainya.

Selain itu, Istiqlal juga akan menjadikan sekolah yang dipimpinnya sebagai pusat studi jika ditunjuk menjadi BLUD. Siswa luar daerah atau negeri bisa belajar membatik di sekolah yang  diajarkan langsung oleh guru dan siswa di sekolah. “Kita  akan menyiapkan tempat bagi orang luar untuk belajar membatik,” tutur Istiqlal. (*/r3)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks