alexametrics
Senin, 3 Oktober 2022
Senin, 3 Oktober 2022

Owner Keripik Sarinah Jaya Pagutan Bercerita Tentang Perjuangan Usahanya

Keripik Sarinah Jaya bukan keripik biasa. Kuliner yang diproduksi di Pagutan ini banyak ditemukan di sejumlah supermarket dan toko oleh-oleh.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

USIA boleh saja muda. Namun soal berwirausaha pemilik nama Ni Wayan Wiartini tidak bisa diremehkan. Buktinya usaha keripik dengan brand Keripik Sarinah Jaya dirintis sejak 2016 lalu lolos Program Kemenparekraf Inkubasi Kuliner. “Pas MotoGP tahun lalu kita juga dapat stand untuk pasarkan produk,” kata Tini, sapaan karibnya.

Keripik Sarinah Jaya yang diproduksi di Rumah Keripik Pagutan memiliki berbagai varian dan rasa. Mulai dari keripik rasa sukun, ubi, talas, pisang, nangka, dan sebagainya. Usaha keripik ini sudah memiliki izin Pangan Industri Rumah Tangga (PPIRT) dan label halal. Dan tak kalah penting proses pembuatannya mengedepankan kualitas karena menggunakan bahan-bahan premium.

“Kita tidak pakai bahan pengawet. Dalam proses pembuatan kita menggunakan minyak premium,” kata dara kelahiran 1993 ini.

Baca Juga :  Le-Bui Sepeda Listrik Lombok : Dibeli Gubernur dan Bos Pertamina (2)

Keripik yang rasanya renyah dan empuk mudah ditemukan di Kota Mataram. Keripik ini tidak hanya dijajakan di kios atau toko kelontongan. Namun keripik ini banyak ditemukan di sejumlah supermarket dan toko oleh-oleh.

“Wisatawan juga banyak datang ke rumah produksi mencari keripik sebagai oleh-oleh,” cetus alumni SMAN 4 Mataram ini.

Keripik ini memiliki berbagai varian rasa dan kemasan. Mulai dari 80 gram yang dibenderol dari harga Rp 5 sampai Rp 6 ribu. Sedangkan 250 gram dibanderol mulai Rp 15 sampai Rp 20 ribu. Sementara untuk kemasan 500 gram dihargakan mulai dari Rp 18 sampai Rp 30 ribu. “Kalau keripik pisang biasanya lebih mahal,” ucap dia.

Keripik Sarinah Jaya tiap hari produksi. Maklum, karena keripik ini cukup laris di pasaran. Apalagi bahan baku yang digunakan untuk pembuatan keripik dari pangan lokal tanpa ada bahan pengawet. Untuk ketersediaan  bahan baku sendiri kata Tini, tidak pernah ada kendala selama ini. “Tetap ada kalau bahan baku,” ucap dara 29 tahun ini.

Baca Juga :  “Maling Ekeeekkk” Pencuri di Mataram Tinggalkan Jejak, Berak di Kamar Korban

Hanya saja lanjut dia,  untuk keripik rasa sukun yang produksinya menyesuaikan musim. “Kalau keripik sukun tergantung musim kita produksi,” cetusnya.

Tini tidak menampik Rumah Keripik Sarinah Jaya ini dirintis orang tuanya. Namun sejak beberapa tahun lalu dia yang memegang kendali dalam usaha ini. Sehingga berbagai trik pemasaran  terus dilakukan guna meningkatkan omzet. “Produksi keripik masih manual untuk mempertahankan kualitas rasa. Kita tidak pakai mesin,” ucapnya.

Selama ini Keripik Sarinah Jaya dipasarkan secara ofline. Tidak seperti produk lainnya yang banyak dipasarakan secara online.  Namun kini mau tidak mau dia mulai memasarkan keripik ini juga secara online untuk memperluas jaringan. “Kemarin beberapa pesanan datang dari luar daerah secara online,” pungkasnya. (*/r3)

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/