alexametrics
Senin, 24 Januari 2022
Senin, 24 Januari 2022

Menyeruput Kupi Tujak Lombok yang Dipasarkan sampai ke Turki

Kupi Tujak Lombok diroasting secara tradisional. Kopi ini disangrai menggunakan kayu bakar. Meski begitu, jangkauan pasarnya sudah sampai ke Turki.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

AROMA Kopi Tujak Lombok memang beda dengan kopi pada umumnya. Harum dan kerasa aroma kopinya. Dalam bahasa Sasak, Kupi artinya Kopi. Sedangkan Tujak artinya tumbuk. Jadi jika diartikan kupi tujak menjadi kopi tumbuk.

Warna Kupi Tujak terlihat beda. Pekat. Anisa Salsabila Fitria, manager Kupi Tujak terlihat berdiri di depan stand kopi  pada pameran beberapa waktu lalu. Sesekali dia meminta  pengunjung yang melintas meyeruput kopi yang diracik sang ayah H Muh Najamudin.

Kupi Tujak cukup kental. Aromanya pun wangi dan rasanya lebih segar. “Kita pakai kopi yang masih fresh. Bukan yang diproduksi lama,” kata Owner Kupi Tujak Lombok H Muh Najamudin.

Ada dua jenis Kupi Tujak yang diproduksi, arabika dan robusta. Keduanya diproses dengan cara tradisional dengan menggunakan tungku dan wajan penggorengan dari tanah liat.

Tak hanya itu, api yang digunakan berasal dari kayu bakar. Bukan gas atau minyak tanah. Cara tradisional dalam menyangrai kopi ini kata Najam, sapaan karibnya, dilakukan selain hemat, cita rasa kopi akan muncul. Tentunya, dengan cara yang benar dan sesuai  standar.

Najam menguraikan, dalam proses pengolahan Kupi Tujak seringkali didatangi sejumlah warga atau konsumen. Selain melihat, mereka juga mendapatkan edukasi pengolahan kopi secara langsung. Hal ini agar masyarakat mempunyai wawasan yang berbeda terkait cita rasa kopi.

“Selama ini masyarakat cenderung beranggapan bahwa kopi itu hitam, kopi itu pahit,” ucapnya.

Beralamat di Karang Jangkong, Kupi Tujak menawarkan  produk olahannya yang dibanderol Rp 20 ribu dengan kemasan 100 gram untuk robusta. Sedangkan yang arabika dibanderol Rp 25 ribu. “Kalau diluar atau pameran kita tawarkan Rp 25 ribu yang robusta,”  ujarnya.

Beberapa waktu lalu, Kupi Tujak mendapat kesempatan dipamerkan World Superbike (WSBK).  Tak hanya itu, produk kopi ini memperluas akses pasar UMKM dengan mengikuti berbagai pameran di luar negeri. “Kemarin kopi kita dipamerkan di Turki,” terangnya.

Sejauh ini Najam mempromosikan kopi khas Lombok melalui media sosial. Seperti facebook dan instagram. Konsumen yang akan membeli kopi akan datang langsung ke tempatnya. “Banyak dari luar daerah yang langsung datang ke sini beli kopi,” ujarnya.

Kopi yang dijajakan masih fresh. Karena untuk Kupi Tujak produksinya tidak dalam jumlah besar. Sekali produksi maksimal  25 kilogram. Ketika habis baru kembali akan melakukan produksi. “Kadang satu kali produksi habisnya sampai satu bulan. Kadang juga cepat,” ucap pria 63 tahun ini.

Tak hanya kopi arabika dan robusta, namun Najam juga menyajikan kopi rempah. Kopi yang dicampur dengan rempah seperti jahe, kayu manis, dan rempah lainnya. Kupi Tujak menjadi usaha keluarga. Setiap produksi dibantu isteri dan anak-anaknya. “Kalau banyak pesanan baru kita produksi banyak,” jelasnya.

Jika melihat dari Packaging-nya cukup menarik. Mampu bersaing di pasar modern. Namun Najam enggan melakukan. Karena menurutnya jika dipasarkan di ritel modern hanya bisa dilihat saja. Tidak bisa dicicipi seperti apa rasanya.

“Kalau di sini (rumah) kita minta konsumen mencicipi dulu. Kalau mau ngopi pakai gula merah biar tambah enak,” kata Najam sembari tersenyum.

Begitu juga tingkat kemanisan pada kopi harus diukur. Karena ridak semua orang menyukai kopi manis. Pasti ada yang menyukai kopi dengan sedikit gula, bahkan ada yang tanpa gula. “Tergantung selera,” pungkasnya.

Menyeruput Kupi Tujak Lombok yang Dipasarkan sampai ke Turki (2-Habis)///SUB

Gunakan Biji Kopi Pilihan demi Pertahankan Rasa

 

Dari Biji Kopi Terbaik

 

“KUPI Tujak Lombok menggunakan biji kopi yang sudah matang di pohonnya,” kata Owner Kupi Tujak Lombok H Muh Najamudin.

Selain proses roasting dan seduh, biji kopi sangat menentukan kualitas rasa. Kopi yang rasanya enak tentu datang dari biji kopi yang matang saat dipanen.

Najamudin tahu betul mana biji kopi yang sudah matang dan masih muda. Pengalamannya sebagai ASN di Dinas Kehutanan membuat dia tahu mana biji kopi matang dan belum saat dipanen.

“Sebelum saya pensiun, dulu saya banyak kirim kopi,” kata pria asal Karang Jangkong, Kota Mataram ini.

Najam begitu dia disapa. Sebelum melakukan sangrai, terlebih dahulu dia memastikan biji kopi benar-benar matang atau tua. Karena ini akan mempengaruhi kualitas rasa.

Sebelum kopi disangrai di Wajan Tanah Liat, Najam terlebih dulu mencuci biji-biji kopi tersebut. Pada saat proses mencuci akan ketahuan mana biji kopi yang masih muda saat dipanen.

“Kalau biji kopi  masih muda pasti akan mengapung di air. Ini kita buang karena akan merusak rasa kopi,” ujar Najam.

Kupi Tujak Lombok diproduksi di rumahnya memiliki rasa tersendiri bagi pecinta kopi. Paling tidak orang yang menyeruput kopi  yang diracik tradisional akan tahu langsung bahwa itu Kupi Tujak. Kualitas rasa kopi menjadi hal utama yang harus dipertahankan.

“Kopi yang kita tawarkan masih fresh semua. Tidak ada kopi kedaluwarsa,” ucap dia.

Menurutnya, kopi memiliki masa kedaluwarsa. Jika terlalu lama dalam kemasan, tentu akan memengaruhi rasa. Apalagi jike kemasannya bocor.

Beda jika biji disimpan lama rasanya akan lebih enak setelah diroasting. “Kalau biji kopi disimpan lama maka rasanya akan lebih enak,” terangnya.

Sebagai orang yang cukup lama bekerja di Dinas Kehutanan. Najam tahu di mana potensi daerah yang memiliki kopi andalan. Untuk kopi robusta didatangkan dari Selelos, Rempek, dan sejumlah wilayah lainnya di Kabupaten Lombok Utara (KLU).

“Kalau kopi arabika kita ambil di Sajang dan Sembalun,” ucapnya.

Bahkan dia juga mencari biji kopi sampai ke Dompu dan Sumbawa untuk jenis arabika.

Di masa pandemi Covid-19 terjadi penurunan tingkat penjualan Kupi Tujak. Harusnya tahun ini kopi yang disangrai tradisional akan melakukan kerja sama dengan salah satu ritel modern, namun ditunda. Karena pandemi Covid-19 berdampak pada perekonomian.

“Jadi sampai sekarang kita masih pasarkan di medsos saja,” ucapnya.

Tak hanya itu, pihaknya juga kerap diundang mengikuti berbagai pameran. Baik itu skala lokal maupun internasional. “Kita sekarang ini persiapkan ikut pameran di Malaysia,” tutur Najam.

Disamping itu, tambah dia, Kupi Tujak Lombok dikenal dari cerita mulut ke mulut. Konsumen yang suka kopi ini mempromosikan kembali ke teman-temannya. Memang kata dia, Kupi Tujak agak mahal dibandingkan kopi yang diproduksi UMKM lainnya. Tapi dia menjamin kopi ini memiliki kualitas rasa tersendiri.

“Kupi Tujak sudah lengkap izinnya. Ada sertifikat dari Kemenkumham,” ucapnya. Selain itu, Kupi Tujak ada sertifikat halal. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks