alexametrics
Selasa, 29 September 2020
Selasa, 29 September 2020

Senggigi Makin Sepi, Hotel dan Restoran Mulai Berguguran

Laporan Khusus : Menata Kembali Pariwisata Senggigi (Bagian I)

Dulu primadona, sekarang Senggigi malah merana. Hotel dan restoran gulung tikar. Tiga tahun terakhir, angka kunjungan wisatawan tak kunjung bersinar. Senggigi butuh perhatian dan kebijakan afirmasi. Pilihan di tangan pemerintah. Mau Senggigi mati, atau justru bangkit kembali.

————

BANGUNAN megah itu kini tak ubahnya rumah hantu. Ada kolam renang. Tapi, di sana, sekarang sudah menjadi sarang nyamuk raksasa. Gerbang masuknya sudah berlumut. Portal-portalnya sudah terbengkalai. Tak ada lagi satuan pengaman yang sigap di sana. Posko tempat mereka berjaga dan bersiaga pun sudah tak elok dipandang mata. Jangan tanya bagian dalamnya. Benar-benar horor.

Hanya karena berada di kawasan wisata Senggigi, orang tahu bahwa bangunan itu pastilah tadinya hotel. Kalau saja berada di luar kawasan Senggigi, orang mungkin tak akan mengira. Begitulah kondisi Hotel Santosa sekarang. Dibangun tahun 1989 dan direnovasi pada 2007, hotel ini tutup awal tahun 2019. Baru setahun berhenti menerima tamu, kondisinya sudah begitu buruk rupa.

Padahal, kala masih jaya, hotel ini begitu dipuja. Lokasinya memang strategis. Berada persis di bibir Pantai Senggigi yang memesona. Hotel bintang empat ini juga kerap menjadi tuan rumah acara-acara istimewa. Presiden keenam Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono tercatat sudah berkali-kali menggelar kegiatan di hotel ini. Bersama ibu negara, Presiden SBY juga bermalam di sana. Jangan hitung acara menteri-menteri dan pejabat setingkatnya.

Dan saat ini, Santosa Hotel tidak sendiri. Sejumlah hotel di Senggigi sedang kembang-kempis. Yang tutup seperti Santosa tercatat ada hotel berbintang lainnya yakni Hotel Bintang Senggigi. Sementara yang sudah nyaris menyerah dan berencana dijual ada sedikitnya yang terungkap ada tujuh hotel. Yakni Hotel Panorama, Hotel Bukit Senggigi, Hotel Alang-Alang, Hotel Damari, Hotel Omasita, dan Hotel Pasific. (Selengkapnya lihat grafis)

“Senggigi sudah cukup lama tidak ada perkembangan,” kata Ketua Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) NTB Ketut Wollini kepada Lombok Post.

Tak lagi menjanjikan, menyebabkan hotel dan restoran di kawasan wisata yang dulu adalah primadona tersebut tutup. Pengunjung kian hari makin sepi membuat pemasukan para pelaku wisata tidak seberapa. Sementara biaya operasional dan pajak yang besar terus mencekik mereka.

Data Dinas Pariwisata Lobar menunjukkan bahwa angka kunjungan wisatawan ke Gumi Patut Patuh Patju dalam tiga tahun terakhir memang terus anjlok. Tahun 2017, angka kunjungan masih 732.475 orang. Namun, tahun berikutnya hanya tinggal separo yakni 391.282 orang. Dan tahun lalu naik sedikit 447. 750 orang. Semenjak Lombok dilanda gempa beruntun medio 2018, Senggigi memang belum mampu recovery hingga hari ini.

Akibatnya, satu per satu restoran, tempat hiburan, hingga hotel mulai tutup. Wolini bahkan mengungkapkan, kalau dua hotel melati di kawasan Senggigi sudah konsultasi ke pihaknya karena berencana tutup juga.

Tak ada tamu, berarti tak ada pemasukan. Sementara beban operasional harus terus tersedia. Belum lagi gaji pegawai. Akibatnya, nyaris setiap bulan para pengusaha penginapan khususnya hotel melati ini harus menombok biaya operasional.

“Saya sarankan agar mereka bertahan dulu minimal enam bulan. Sambil kita lihat bagaimana perkembangan ke depan,” kata Wolini. Sementara mereka masih mau.

Kepala Seksi Bina Usaha Dinas Pariwisata Lobar Gede Sukawibawan kepada Lombok Post Senin (9/3) lalu tak menampik, kalau sejumlah hotel kini kondisinya memang merintih di Senggigi.

Ditanya soal kondisi sejumlah hotel yang tanpa aktivitas, pihaknya tidak bisa memastikan jika hotel tersebut tutup tanpa ada pemberitahuan dari manajemen hotel. Gede memaparkan, ada 26 unit hotel berbintang yang ada di Senggigi. Dengan rincian dua hotel bintang 5, empat hotel bintang 4, tujuh hotel bintang 3, tiga hotel bintang dua dan 13 hotel bintang satu.

Sementara untuk hotel melati, jumlahnya mencapai 106 hotel. Sedangkan untuk restoran, Dinas Pariwisata Lobar mencatat ada 171 restoran yang ada di kawasan Senggigi. Termasuk yang ada di hotel. Diakuinya, ada yang memang sepi terlihat tidak beraktivitas.

Disebutkan pula, kondisi kunjungan Senggigi dua tahun yang terakhir terus menurun diyakini menjadi penyebab tutupnya hotel. (ton/nur/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Turunkan Angka Pernikahan Anak, Lobar Apresiasi Program Yes I Do

"Sudah pas Peran NGO melalui Program Yes I Do sangat bagus menekan tingkat pernikahan anak," kata Kepala DP2KBP3A Lobar Ramdan Hariyanto.

Tetap Tumbuh, Sektor Tambang Topang Ekonomi NTB di Masa Pandemi

Sektor pertambangan memang tak lepas dari fondasi ekonomi provinsi NTB. Di triwulan II 2020, sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 47,78 persen mampu menahan laju penurunan ekonomi NTB. Pada triwulan II, ekonomi NTB kontraksi 1,4 persen, namun tanpa sektor pertambangan dan penggalian, kontraksi akan lebih dalam lagi hingga mencapai 7,97 persen.  

Taspen Lindungi JKK JKM Non ASN

PT Taspen kini memberikan jaminan dan perlindungan penuh terhadap pegawai non Aparatur Sipil Negara (ASN)

Nomor 4, Era BARU, Industri 4.0, Menang!

Aqi berkomitmen membuat lompatan besar membawa Kota Mataram lebih maju, nyaman, dan beradab. Ia yakin dengan dukungan semua pihak yang menginginkan ibu kota provinsi NTB bersinar terang. “Sebagai putra Mataram, saya ingin memberikan karya terbaik saya buat tanah kelahiran saya,” katanya dengan suara bertenaga.

UT Mataram Beri Beasiswa KIP-K dan CSR se-NTB

“Penerima beasiswa KIP-K mendapatkan bebas biaya kuliah, buku dan uang saku Rp 700 ribu per bulan yang dibayar di akhir semester,” terang Raden.

Dorong Industri Kreatif : HARUM Rancang Mataram Creative District

ebagai sebuah kota yang terus berkembang, Kota Mataram harus menangkap peluang ini sebagai salah satu penguat daya saing global di masa mendatang.  Bagaimana rencana pengembangan Industri Kreatif di Mataram di masa mendatang berikut petikan wawancara kami dengan H Mohan Roliskana calon wali kota Mataram.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks