alexametrics
Kamis, 22 Oktober 2020
Kamis, 22 Oktober 2020

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

 

Dedi Shopan Shopian, Lombok Tengah

 

Kisah cinta itu terjadi di Dusun Montong Praje Timuq Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah. Desa yang bertetangga dengan Desa Bonjeruk tersebut, mendadak ramai diperbincangkan.

Nama Suhaimi dan Nur Herawati pun ibarat artis ibu kota. Jadi buah bibir masyarakat di mana-mana. Belum lagi, di media sosial (medsos).

Saat beberapa kali Lombok Post, mencari dan menanyakan alamat rumah keduanya, warga langsung menunjukkan posisinya. Warga langsung menyebut nama keduanya.

Suhaimi lahir 1 Januari 2005. Dia bersekolah di salah satu madrasah di Desa Beber. Sedangkan, Nur Herawati lahir pada 8 Agustus 2008. Bersekolah di salah satu madrasah di Desa Bonjeruk.

Perkenalan keduanya, cukup singkat. Berawal dari telepon genggam temannya, Suhaimi diperkenalkan dengan calon istrinya. “Itu lewat video call,” cerita Nur -panggilan akrabnya.

Keduanya pun saling tukar nomor telepon. Alhasil, komunikasi keduanya berlanjut hingga memutuskan bertemu. Keduanya sepakat bertemu di Depan Puskesmas Bonjeruk atau dekat pasar, beberapa hari lalu.

Pertemuan pertama itu, ternyata menjadi pertemuan selanjutnya. Suhaimi mengutarakan isi hati, ingin berpacaran.

Tanpa berfikir panjang, Nur menerima. Keduanya resmi menjadi pasangan kekasih. “Kami pacaran hanya empat hari saja. Setelah itu, menikah,” ujar Nur, sembari menundukkan kepala dan tersenyum simpul malu.

Pernikahan digelar Sabtu (12/9) di musala dekat rumah Suhaimi. Pernikahan itu berawal, saat keduanya bertemu kembali di salah satu objek wisata di Desa Pringgarata. Mereka janjian bertemu pukul 16.00 Wita. Saking asyiknya berpacaran, mereka lupa waktu. Tidak terasa sudah larut malam.

Suhaimi pun mengantarkan kekasihnya pulang ke rumah. Sayangnya, orang tua Nur menolak. Suhaimi kemudian meminta bantuan keluarga, namun lagi-lagi ditolak.

“Alasannya, daripada keluar malam terus dan pacaran terus, lebih baik dinikahkan saja,” cetus Kepala Dusun (Kadus) Montong Praje Timuq Ehsan disela-sela Lombok Post berbincang dengan Suhaimi dan Nur.

Nur sendiri merupakan anak tunggal dari pasangan Sutomo dan Sahmin. Nur tinggal dengan kakek dan neneknya di Desa Bonjeruk. Itu karena, kedua orang tuanya bercerai.

Sedangkan, Suhaimi anak kelima dari lima bersaudara. Ibunya Rahimin dan bapaknya meninggal dunia, sejak Suhaimi duduk dibangku kelas 6 sekolah dasar.

Sejak itulah, keduanya kurang mendapatkan perhatian lengkap dan lebih, dari kedua orangnya masing-masing. Sehingga mereka memutuskan ingin berkeluarga, punya anak dan ingin hidup mandiri. Tidak mau bergantung lagi dengan orang tua.

 

Sudah Belajar Mandiri

Didampingi istri tercinta Nur Herawati dan ibunya Rahimin, Suhaimi ternyata sudah belajar mandiri. Dia bekerja sebagai pedagang di beberapa pasar tradisional di Gumi Tatas Tuhu Trasna. Dia menjual sandal, sabun, dan perlengkapan rumah tangga.

Pekerjaan itu digelutinya sejak bapaknya dan tiga kakaknya meninggal dunia. Suhaimi menjadi tulang punggung keluarga. Kini, dia tinggal bersama ibunya di Dusun Montong Praje Timuq Desa, Pengenjek, Kecamatan Pringgarata, Lombok Tengah.

Rumah berlantai semen, beratapkan genteng dan dinding yang terkelupas, menjadi saksi perjalanan hidupnya.

Kata dia, boleh orang di luar sana mencibir dan mengatakan yang tidak-tidak. Tapi, dia ingin membuktikan bahwa, keputusannya menikah dini menjadi pilihan yang tepat.

Dengan menikah dini itu, dia bisa bersemangat bekerja. Dengan menikah, dia bisa menghindari dosa. Terbukti, uang kebutuhan pernikahan, diperoleh dari kantongnya sendiri. Tidak sampai menyusahkan orang tua, keluarga atau kerabat terdekat lainnya.

“Maharnya uang Rp 2 juta, tanpa seperangkat alat salat,” cerita Suhaimi.

Sedangkan uang untuk keluarga mempelai perempuan diberikan sebesar Rp 6 juta. Itu diluar uang untuk syukuran atau bagawe. Karena Covid-19, dia memutuskan tidak ada acara nyongkolan atau resepsi, cukup dengan akad nikah saja.

 

Sementara itu Nur Herawati mengaku akan   setia untuk suami tercinta.  Dia tidak ingin meniru kedua orang tuanya, yang bercerai. Dia ingin keluarganya tetap utuh.

Sementara itu, Rahimin, ibu dari Suhaimi berdoa, semoga kedua anaknya tersebut sakinah, mawadah dan warahmah. Diberikan keturunan yang berbakti kepada orang tua, nusa dan bangsa, dan bermanfaat bagi masyarakat. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Kenali La Nina, Waspadai Dampaknya

HUJAN dengan intensitas sedang hingga tinggi mengguyur sebagian wilayah Indonesia beberapa waktu belakangan ini. Tentu banyak pihak yang bertanya-tanya, apakah memang musim hujan telah datang ? Berdasarkan prakiraan awal musim kemarau tahun 2020/2021 oleh BMKG, musim kemarau tahun 2020 ini sifatnya memang tidak sekering tahun sebelumnya.

17 Ribu Tenaga Kesehatan NTB Bakal Divaksin Lebih Dulu

Pemprov NTB telah menyetor nama-nama tenaga kesehatan untuk diberikan vaksin anti Covid-19. ”Daftar tenaga medis sudah saya serahkan ke pusat,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, kemarin (20/10).

Kampanye Sehat di Dompu Pasangan Eri-HI Bagi Masker untuk Para Lansia

PASANGAN Calon Bupati dan Wakil Bupati Dompu Eri Aryani-H Ichtiar (Eri-HI) terus menyuarakan kampanye sehat. Salah satunya dengan bagi-bagi masker saat ada kegiatan kampanye tertutup.

Juri Kampung Sehat NTB Mulai Menilai Pemenang di Sumbawa

Tim Penilai Lomba Kampung Sehat tingkat provinsi sedang berada di Sumbawa. Penilaian kini sedang dilakukan pada tiga pemenang Lomba Kampung Sehat tingkat kabupaten di wilayah tersebut. Yang sudah dinilai hingga kemarin Kelurahan Samapuin dan Desa Moyo Hilir.

XL Axiata, Pertama di Asia Tenggara yang Pakai SAP S/4HANA Cloud

“XL Axiata berhasil melakukan transformasi menjadi pemimpin dalam hal penyedia layanan digital dan data. Kami sangat percaya dan berkomitmen penuh terhadap transformasi digital sebagai bagian dari strategi bisnis perusahaan,” kata Yessie D. Yosetya, Director & Chief Information-Digital Officer XL Axiata.

Anggota DPR RI Ragukan NTB Siap Selenggarakan MotoGP

”Kami belum melihat ada promosi besar-besaran di tengah masyarakat,” katanya dalam keterangan pers di restoran Taliwang H Moerad, Rabu (20/10/2020).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

52 Ribu UMKM NTB Bakal Dapat Bantuan Presiden Rp 2,4 Juta

Pemprov NTB mengusulkan 52.661 UMKM sebagai penerima bantuan presiden (banpres) produktif. ”Data ini terus kita perbarui sampai minggu kedua bulan September,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB H Wirajaya Kusuma, pada Lombok Post, kemarin (23/8).

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Pemerintah Janji Bantu UMKM NTB Terdampak Korona, Ini Syaratnya

encairan bantuan Rp 800 triliun bagi UMKM dan IKM masih menunggu petujuk pemerintah pusat. ”Kita tunggu petunjuk teknisnya dari kementerian koperasi UKM,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB Wirajaya Kusuma, Jumat (10/7
Enable Notifications    Ok No thanks