alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Kisah Sukses Juragan Lobster NTB : Sekali Panen Rp 1 Miliar

Budi daya lobster sungguh menjanjikan. Inilah hikayat mereka-mereka yang hidupnya berbalik 180 derajat karena lobster. Sekali panen, ratusan juta hingga Rp 1 miliar bisa diraup. Sayang, budi daya masih jauh dari berseri. Pemerintahlah tak boleh setengah hati.

—————————

 

NAMANYA Sapardi. Dia masih muda, tapi sudah bergelimang harta. lobster mengubah hidupnya.

Sapardi mulai membudidaya lobster dengan modal Rp 750 ribu. Saat itu usianya masih belia. Kini, di usia yang terbilang masih muda, lelaki kelahiran 1985 itu sudah menyulap keramba kecil jadi 50 lubang. Satu lubang lobster mutiara menghasilkan Rp 20 sampai 35 juta. Kalikan saja dengan 50 lubang keramba. Itulah uang Sapardi.

Di sebuah siang pekan lalu, Sapardi mengajak Lombok Post menuju Keramba Jaring Apung (KJA) Lobster miliknya di Teluk Jukung, Telong-elong. Air laut cukup tenang saat Sapardi menghidupkan mesin perahunya. Angin bertiup seadanya. Ombak mengikuti juga irama angin di Teluk Jukung, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur.

Keramba lobster milik Sapardi sudah terlihat dari pesisir pantai. Sepertinya tidak butuh waktu lama untuk dapat menghirup aroma lobster yang hendak dipanen. “Tiga menit saja,” kata Sapardi menenangkan. Cuaca terik memang sudah langsung menyergap.

Sesampai di sana, sebuah bendera merah putih kecil berkibar di atas atap pondokan KJA. Seolah menyambut nelayan dengan mengatakan merdekalah para nelayan di laut Indonesia.

 

Sapardi mengatakan, Teluk Jukung merupakan salah satu surganya lobster di Lotim.

Sapardi memiliki dua buah keramba di sana. Yang didatangi ini adalah keramba kedua. Satu

keramba memiliki 25 lubang. Tahun ini, 40 lubang diisi lobster pasir. Sebanyak 10 lubang lobster mutiara. Ukuran per lubang 3×3 meter. “Memang luas. Tapi di laut ukuran seperti ini tetap saja kecil,” katanya.

Siang itu, Sapardi belum saatnya memanen lobster yang ditaksir sudah mencapai berat rata-rata 200 gram per ekor. Ia mengatakan ada kendala pengiriman diakibatkan oleh virus Korona.

“Terutama keran ekspor ke Shanghai, Cina. Ini yang besar,” jelas dia sembari menarik jaring keramba.

Dari dekat, kulit tangan Sapardi dipenuhi bekas sayatan duri lobster. Tahu diri diperhatikan, ia malah memperlihatkan bekas luka lama dan baru di kedua punggung dan jari-jari tangannya. Kalau bos nelayan saja begitu, apalagi pekerjanya.

“Kalau mau bersih sebenarnya bisa. Tapi rasanya ada yang kurang kalau saya tidak memegangnya langsung,” kata Sapardi.

Wajar jika Sapardi masih turun memanen sendiri lobsternya. Karena usaha ini ia jalankan dari nol. Tepatnya tahun 1998 silam. Saat itu ia masih duduk di bangku SMA. Dengan modal Rp 750 ribu, ia membuat dua lubang keramba. Kala itu, modal membuat keramba masih murah.

Harga lobster pasir per kilo saat itu berkisar antara Rp 125 sampai Rp 150 ribu. Panen

pertamanya, ia mendapat Rp 2,5 juta. Dikurangi modal Rp 750 ribu, bersih ia kantongi Rp

1,75 juta. Uang segitu tentu sangat besar bagi remaja sepertinya. “Keuntungan tidak saya

pakai belanja. Tapi untuk mengembangkan keramba,” katanya.

Sejak saat itu, per dua tahun ia menambah dua lubang. Sampai pada 2009, ia sudah

memiliki 6 lubang. Hasilnya tentu semakin besar. “Ditambah lagi peraturan menteri KKP

belum keluar. Kita masih bisa jual kapanpun,” jelasnya.

Sampai di sana, Sapardi memperlihatkan raut wajah haru mengenang masa sulitnya. Saat ayahnya meninggal dunia, ia harus putus sekolah. Dia mengaku sempat merasa terkucilkan karena kondisi ekonominya saat itu. Melihat ia rajin bekerja pun, para remaja di kampungnya di Desa Pare Mas, Kecamatan Jerowaru cenderung menghindar.

“Jarang ada yang mau berteman sama saya,” kenangnya.

Lobsterlah yang membuat kehidupan Sapardi berubah. Perubahan itu drastis. Ia seperti dibawa terbang ke langit oleh lobster-lobster yang ia budidaya di keramba miliknya. Meski di tahun 2009, modalnya sempat melayang untuk membiayai pernikahannya.

Tak butuh waktu lama untuk memulai kembali usahanya. Bermodal enam lubang keramba lobster, ia kembali berusaha. Dulu, para nelayan tidak banyak main lobster mutiara. Karena lobster pasir lebih bagus di pasaran. “Setelah peraturan menteri ini lobster mutiara jadi idaman,” jelasnya.

Yang dia maksud dengan peraturan menteri adalah aturan pelarangan ekspor benih lobster saat Menteri Kelautan dan Perikanan dijabat Susi Pudjiastuti. Itu tahun 2016.

Tahun 2011, selain mengembangkan kerambanya dari 6 lubang menjadi 25, ia juga mulai menjadi pengepul. Tak sulit baginya merambah ke dunia yang lebih menjanjikan. Karena pengalaman sejak remaja sudah menggunung.

Di saat menjadi nelayan, ia juga bekerja menjadi pengepak lobster di salah seorang

pengepul. Tak lama kemudian ia dipercaya menjadi tukang timbang. Menurutnya,

mengetahui cara mengepak lobster dan menimbangnya adalah dua tahapan dasar menjadi

seorang pengepul.

Setelah memahami alurnya, ia mulai memberanikan diri menjalankan bisnis tersebut.

Prosesnya tak secepat saat diceritakan. Terlalu panjang bila dirincikan. Namun yang pasti,

semua itu dilalui dengan langkah yang tak mudah.

Di usia mudanya, selain membudidaya, Sapardi juga belajar dari pengepul-pengepul senior. Tak hanya di Lombok, ia juga belajar sampai ke Bali. Mengenal satu persatu pembeli. Dari dalam daerah sampai luar negeri.

“Dulu saya pernah mengirim langsung ke Sanghai. Sekarang sudah tidak karena terlalu banyak transitnya,” kenangnya.

Menurutnya, kesulitan menjadi pengepul adalah menjaga kepercayaan penambak.

Keberhasilan seorang pengepul dinilai dari apakah ia bisa membayar lobster yang

diambilnya atau tidak.

“Bagusnya kalau kita bisa membayar langsung,” terangnya.

Kini Sapardi sedang berusaha mengembangkan bisnisnya. Selain itu, ia juga membuka diri bagi siapa saja yang ingin menjadi nelayan dan pengepul. Kata dia, sudah terlalu banyak

teman kerabat yang memulai bisnis tersebut, namun tak bisa bertahan. “Memang tak

semudah menghitung labanya yang besar,” katanya.

Berbicara laba, harga lobster tergantung dolar. Dengan 25 lubang keramba yang ia miliki, ia bisa meraup sekitar Rp 350 juta sekali panen. Dengan rincian, satu lubang lobster pasir rata-rata menghasilkan Rp 6 juta. Lobster mutiara Rp 20 juta. “Perlubang kita lepas 100 ekor. Dipanen saat beratnya 200 gram,” terangnya.

Tahun lalu, dengan keuntungan yang ia miliki, ia membuat lagi satu keramba dengan 25 lubang. Jadi ada dua keramba dengan 50 lubang. Jika 25 lubang menghasilkan Rp 350 juta, maka sekali panen ia bisa meraup keuntungan Rp 700 juta.

 

Juragan Baru

 

Nashrullah, 40 tahun, nelayan Desa Ketapang Raya, Kecamatan Keruak, Lombok Timur, adalah yang juga hidupnya diubah lobster. Beda dengan Sapardi, Nashrullah adalah pemain baru. Dia baru merintis usaha budi daya lobster saat Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti melarang penangkapan benih lobster. Itu berarti baru tahun 2016. Mau masuk empat tahun.

Kala itu, dia baru menikmati hasil panen pertamanya saat musim imlek. ”Jualan pertama dapat Rp 82 juta,” kata Nas, sumringah. Lombok Post menemuinya saat Nas tengah memberi pakan di keramba jaring apung miliknya di perairan laut Desa Ketapan Raya, akhir pekan lalu.

Sayang, kondisi itu tidak bertahan lama. Peraturan Menteri (Permen) Nomor 56 Tahun 2016, membuat semuanya ambyar. Aturan itu menyulitkan, tidak hanya bagi nelayan penangkap benih, tapi juga pembudidaya seperti dirinya.

Dia kesulitan mendapat benih. Benih dengan berat di bawah 200 gram tidak boleh ditangkap, baik untuk ekspor maupun budi daya. ”Tapi saya tetap bertahan,” katanya.

Meski usaha lobster sedang tidak menentu,  dia optimis bisa meraup sukses. ”Saat yang lain sedang mati suri saya justru memulai,” tuturnya.

Tahun pertama, Nashrullah total menghabiskan biaya sampai Rp 81,3 juta. Itu untuk keramba Rp 23,5 juta dan pembelian benih lobster Rp 14 juta. Sisanya untuk biaya operasional, pakan, dan tenaga kerja.

Dia hanya memiliki satu keramba dengan 12 lubang ukuran 3×3 meter. Empat lubang untuk budi daya lobster mutiara dan delapan lubang untuk lobster pasir. ”Benih lobster mutiara lebih mahal, tapi hasilnya banyak,” katanya.

Pengeluaran paling besar adalah untuk biaya operasional. Setahun dia habiskan Rp 43,8 juta. Biaya pakan dan tenaga kerja masing-masing Rp 18,2 juta. ”Modal itu dari tabungan hasil jadi buruh,” katanya.

Meski tertatih-tatih, namun hasil panen lobster cukup memuaskan. Penjualan setahun mencapai Rp 217,6 juta. Jika dikurangi modal, dia mendapat penghasilan bersih Rp 136,3 juta. ”Keuntungan itu kita pakai bayar utang dan simpan untuk modal,” katanya.

”Tahun kedua biaya operasional lebih sedikit sehingga untung lebih besar,” tambahnya.

Nashrullah sangat paham, budi daya lobster itu akan menguntungkan. Meski masih tertatih, dia terus berupaya hasil panennya lebih banyak. ”Sekarang mau jual langsung ke bos di Jakarta, kalau ke pengepul di Telong-elong selisih berat lobster bisa sampai 2 kg,” katanya.

Jika memiliki lebih banyak keramba, dia optimis bisa mendapatkan untung hingga miliaran rupiah. ”Apalagi kalau budi daya lobster mutiara. Sebab, satu lubang bisa menghasilkan Rp 35 juta sekali panen,” katanya.

Abdullah, pembudidaya lobster di Telong-elong mengaku, usaha budi daya masih lancar hingga saat ini. Dia memiliki satu unit keramba dengan 20 lubang. Telong-elong berada di Kecamatan Jerowaru. Bertetangga dengan Keruak, tempat budi daya lobster Nashrullah.

Dia menuturkan, Budi daya lobster mutiara lebih menjanjikan. Lobster ukuran 500 gram harganya antara Rp 700 ribu – Rp 1 juta per kg. ”Dua ekor baru dapat jadi 1 kg,” jelasnya.

Sedangkan lobster jenis pasir, lima ekor baru mendapatkan 1 kg dengan harga Rp 300 ribu hingga Rp 450 ribu per kg. ”Untuk yang pasir kami panen di atas 200 gram,” katanya.

Sepanjang tahun, mereka bisa panen hingga tiga kali. Panen pertama biasanya hasilnya sedikit. Panen kedua baru maksimal dan ketiga penghabisan. ”Hasil penjualan tergantung harga saat itu,” katanya.

Hasil penjualan lobster pasir per lubang rata-rata Rp 7 juta. Dia pernah panen empat lubang dan mendapatkan 310 ekor setara 80,2 kg. Dengan harga Rp 350 ribu  per kg, dia dapat Rp 28 juta lebih.

Sedangkan lobster mutiara, dengan 50 ekor saja dia sudah mendapat Rp 60 juta. Lobster mutiara dijual ketika beratnya mencapai 1 kg. Harganya antara Rp 1 juta – Rp 1,2 juta.  ”Tapi lobster mutiara modalnya besar, bibit mahal dan rentan mati,” katanya.

Jika mampu mengurangi tingkat kematian, pembudidaya lobster akan panen untung. ”Insya Allah nanti kita akan menggunakan sistem Vietnam, dia pakai kerangkeng besi sehingga tidak terkena arus,” katanya.

Para pembudidaya di Telong-elong banyak mendapatkan Rp 1 miliar setiap panen. ”Yang punya keramba banyak baru dapat segitu,” kata Ketua Kelompok Usaha Budi Daya Andalan Indonesia ini.

Di Telong-elong, terdapat 258 orang pembudidaya, jumlah keramba 150 unit dengan 1.500 lubang. ”Kami di sini banyak kekurangan modal, ada juga yang numpang dan hutang untuk modal,” katanya.

Dia berharap, penangkapan benih lobster diperbolehkan untuk budi daya. ”Tidak perlu diekspor, berikan saja benihnya ke kami untuk budi daya,” katanya.

Abdullah menantang pemerintah, jka serius mendukung budi daya, lobster Indonesia akan berjaya dan menjadi penguasa pasar. Caranya, ringankan biaya pakan dan larang ekspor benih ke Vietnam. ”Asal jangan ada celah untuk ekspor kita menjadi kemudi pasar,” ujar dia.

Saat ini, Indonesia sangat bergantung pada kondisi Vietnam. ”Kita tunggu barang Vietnam habis dulu baru kita bisa kirim,” katanya.

Vietnam selama ini lebih maju dalam budi daya, namun 80 persen benih mereka dipasok dari Indonesia. ”Kalau budi daya digalakkan, jangan ekspor bibit. Tangkap boleh tapi jangan diekspor,” harapnya.

Fakta yang terjadi selama ini, pembudidaya hanya menerima benih bekas. ”Benih yang kita dapat udah hitam, ini rentan mati,” katanya.

Butuh Keramba Modern

 

Terpisah, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan NTB H Lalu Hamdi memahami kondisi itu. Pemprov tidak bisa berbuat banyak setelah pelarangan penangkapan benih. ”Tapi kita sudah siapkan rencana pengembangan kalau aturan direvisi nanti,” katanya.

Ia menyebut, potensi budi daya laut NTB mencapai 72.862,83 hektare (ha). Ruang itu dibagi menjadi budi daya rumput laut 14.454,98 ha, mutiara 26.615,55 ha, ikan dan udang 26.389,12 ha. ”Sisanya budi daya lain-lain seluas 5.403,18 hektare,” jelasnya.

Budi daya lobster masuk di dalam kategori budidaya ikan dan udang. Dari 26 ribu hektare lebih ruang budi daya ikan dan udang, sekitar 305 hektare dialokasikan untuk budi daya lobster. ”Lokasinya tersebar dari Lombok Barat hingga Bima,” kata Hamdi.

Dalam ruang 305 ha itu, jumlah KJA lobster yang ingin dikembangkan 11.870 unit dalam lima tahun. ”Ini membutuhkan benih lima juta ekor,” katanya.

Kebutuhan benih lima juta ekor mampu dipenuhi. Sebab, potensi benih lobster NTB mencapai 20 juta ekor. Jumlah itu hanya sebagian kecil dari potensi benih nasional 12,32 miliar ekor. ”Benih kita sangat melimpah,” kata Hamdi.

Dengan potensi yang besar, sangat memungkinkan NTB mengembangkan budi daya lobster. ”Tapi benih ini tidak boleh kita ambil semua,” katanya.

Program yang akan dilakukan ke depan yakni meningkatkan standar KJA. Jika selama ini pembudidaya menggunakan keramba tradisional, ke depan akan diubah pelan-pelan menjadi keramba modern. ”Kami juga berniat mengawinkan budi daya lobster ini dengan pariwisata,” jelasnya.

Peningkatan sumber daya manusia (SDM) juga perlu. Dengan SDM unggul, usaha budi daya akan berkembang dan kompetitif. ”Selama ini pola budi daya kita masih tradisional,” jelasnya.

Selain itu, yang harus disiapkan juga adalah ketersediaan pakan lobster. ”Pakan ini berupa ikan-ikan, kerang-kerangan dan udang,” katanya.

Pengambangan budi daya lobster tidak bisa sekaligus. ”Kita akan lakukan bertahap,” jelas Hamdi.

Bila peraturan menteri benar-benar diubah, DKP NTB berencana mengembangkan 450 unit KJA di tahun pertama pasca revisi. ”Benih sudah tersedia di alam, tinggal kita manfaatkan,” katanya.

Budi daya lobster memiliki nilai ekonomi tinggi. Bila tiap KJA rata-rata menghasilkan Rp 245 juta, dikali 450 unit KJA, maka ada potensi Rp 110,2 miliar setiap tahun.

Jika dalam lima tahun rencana pengembangan 11.870 unit KJA berhasil, potensi penjualan lobster mencapai Rp 2,9 triliun per tahun. ”Tapi ini bisa diwujudkan kalau benih lobster bisa ditangkap untuk budi daya,” katanya.

Bahkan, potensi itu masih bisa ditingkatkan jika budi daya lobster menggunakan teknologi. Pola budi daya yang tepat akan membuat benih lobster lebih tahan. ”Sekarang banyak benih mati saat budi daya, ini kerugian,” katanya.

Dalam satu unit keramba dibutuhkan 7.000 ekor benih, bila 50 persen atau 3.500 ekor saja benih yang berhatan hidup sudah beruntung.

Dengan asumsi 3.500 ekor menghasilkan 700 kg, dan harga jual jual Rp 350 ribu per kg, pembudidaya bisa mendapatkan Rp 245 juta tiap kali panen. ”Kalau yang hidup lebih banyak, hasilnya juga pasti lebih banyak,” jelasnya.

Kepala Bidang Perikanan Budi Daya, DKP NTB Sasi Rustandi menambahkan, bila penangkapan dan ekspor benih lobster dibuka dampak positif dan negatifnya pasti ada. ”Peluang dan tantangannya sama besar,” kata Sasi.

Peluangnya jelas, budi daya lobster sangat menjanjikan. Tapi di sisi lain, jika kran ekspor benih dibuka, Vietnam akan diuntungkan. Selama ini merekalah yang berhasil budi daya dengan baik. Mereka menjadi pemain utama ekspor lobster. ”Kita di belakang Vietnam dari sisi teknologi budi daya,” katanya.

Selain teknologi budi daya maju, dari sisi geografis juga dekat dengan pasar utama yakni China. ”Alternatifnya kita bisa cari pasar lain seperti Amerika Serikat, Eropa Jepang, dan negara asia lainnya,” ujarnya. (tih/ili/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Antisipasi Penyebaran Covid Klaster Kampus!

KONDISI masyarakat pada era tatanan kehidupan baru (new normal) saat ini seolah-olah menggambarkan situasi masyarakat telah beradaptasi dengan tenangnya, kembalinya kehidupan normal saat ini kesadaran kita sebagai masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 sedikit demi sedikit sudah mulai abai dalam menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan dan memutus rantai penularan virus corona.

Penurunan Kasus Korona di NTB Ternyata Semu

Perubahan warna zona Covid-19 di NTB tidak menentu. Kabupaten Dompu yang sebelumnya digadang-gadang sebagai daerah percontohan kini malah masuk zona merah kasus penularan Covid-19.

Pemerintah Harus Turunkan Harga Tes Swab

TARIF uji usap atau tes swab dinilai masih terlalu mahal. Ketua DPR RI Puan Maharani pun meminta pemerintah mengendalikan tarif tes sebagai salah satu langkah pengendalian dan penanganan penyebaran Covid-19. Jumlah masyarakat yang melakukan tes mandiri akan meningkat ketika harganya lebih terjangkau.

Desa Sekotong Tengah Punya Taman Obat Keluarga

ADA budidaya tanaman obat di Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tanaman obat ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Taman Obat Keluarga Suren.

Desa Pesanggrahan Lotim, Tangguh Berkat Kawasan Rumah Pangan Lestari

Desa Pesanggrahan terpilih menjadi Kampung Sehat terbaik di Kecamatan Montong Gading. Desa ini punya Tim Gerak Cepat Pemantau Covid-19 yang sigap. Ekonomi masyarakat juga tetap terjaga meski pandemi melanda.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks