alexametrics
Rabu, 30 November 2022
Rabu, 30 November 2022

Napak Tilas Perjalanan Rasul ke Gua Hira Jabal Nur

Di Gua paling bersejarah di dunia ini, umat muslim bisa merasakan bagaimana perjuangan orang yang paling mulia di muka bumi ini.

 

ALFIAN YUSNI-Makkah

 

JUMAT (18/11). Selepas salat Ashar, TGH Muharrar Iqbal mengantar saya, istri dan temannya berkunjung ke Gua Hira di Jabal Nur. ”Kita napak tilas perjuangan Rasul,” ujar pendamping jemaah umrah Muhsinin Tour & Travel ini, kemarin.

Kami berempat berangkat menggunakan H1, minivan milik Hyundai yang dicarter pergi-pulang oleh TGH Muharrar dengan harga RS 200 termasuk supir. ”Jaraknya sekitar 4 kilometer dari hotel kita,” terangnya.

Sekitar 30 menit kemudian kami tiba. Ini yang bikin kami geleng-geleng kepala minibus sebesar H1, kuat juga dipake menanjak tanjakan dengan kemiringan di atas 50 derajat! Subhanallah.

Mobil kami tidak bisa sampai parkir di ujung aspal. Rupanya sudah banyak mobil pengantar peziarah yang didominasi jenis sedan. Aroma ban dan kampas rem tercium, ada juga beberapa sopir yang membuka kap mesin mobilnya supaya mesin cepat dingin.

Bismillah, hap! Tangga pertama kami naiki. Dari total 1.750 anak tangga. Berdasarkan sejumlah referensi.

Pendakian di tahap pertama, tanjakannya agak landai. Meskipun demikian banyak yang sudah ngos-ngosan, di sepertiga pendakian.

”Allahuakbar!!!” Teriak TGH Muharrar terengal-engal.

Di titik peristirahatan pertama, kami memutuskan membeli minuman es jeruk nipis murni. Buahnya langsung diperas di tempat. Mau manis atau sedikit lebih gurih ditambahkan garam. Silahkan. Sesuai selera.

Segar sekali. Saya dan tuan guru sampe habis dua gelas. ”Ini sumber kekuatan kita untuk finis di atas,” seloroh tuan guru.

Kami pun melanjutkan pendakian.

Selama naik ke puncak, sesama peziarah saling menyemangati. Baik yang berpapasan dengan yang baru turun. Maupun dengan mereka yang beristirahat di tengah-tengah pendakian.

Baca Juga :  Melihat Isi Rumah Bandar Sabu di Abian Tubuh

”Ayoo anak muda harus semangat. Jangan kalah sama saya ya nak ya,” ujar seorang wanita parobaya asal Medan yang kami dahului.

Langit semakin gelap. Pendakian menuju tempat paling sakral di dunia itu, menawarkan pemandangan paling amazing di dunia, di kala senja. Tower Zam-zam dan gemerlap lampu kota Makkah terlihat sejauh mata memandang. Ditambah lantunan suara Azan Magrib yang saling bersautan. Syahdu.

Tiba lah kami di puncak Jabal Nur sebelum turun ke Gua Hira. Sambil beristirahat, peziarah bisa salat Magrib di sana.

Waktu hendak salat TGH Muharrar ramai-ramai ditunjuk oleh peziarah untuk menjadi imam.

”Subhanallah. Kaki saya gemetar. Di depan saya itu langsung jurang,” terangnya usai memimpin salat.

Usai salat. Untuk menuju Gua Hira. Dari puncak Jabal Nur itu, peziarah harus turun lagi. Tangga turunannya cukup curam. Tantangannya pun tak cuma itu. Untuk sampai ke titik akhir peziarah harus melewati batu batu besar usai menuruni anak tangga. Kita harus cermat betul memilih pijakan. Jangan sampai terpeleset. Anda bisa terjepit.

Masih ada rintangan lagi. Menyelinap di gua sempit. Untuk masuk dan melintas keluar badan harus miring. Tidak boleh panik di dalamnya. Apalagi waktu semakin gelap. Sinar lampu smartphone harus digunakan. Di tengah gua itu terdapat persimpangan yang bisa digunakan untuk peziarah balik. Sampai di luar, gua tempat Rasul menerima wahyu tertutupi oleh puluhan peziarah yang berebut masuk ke dalamnya. Siapa cepat dia dapat. Ukuran gua itu hanya cukup dipakai salat maksimal tiga orang. Tidak ada petugas yang berjaga dan mengamankan seperti yang ada di dekat Hajar Aswad Ka’bah.

Orang mau keluar setelah berhasil masuk Gua Hira juga penuh risiko. Caranya, peziarah harus menggapai uluran tangan peziarah atau relawan yang berada di atas gua. Kemudian memanjati gua.

Baca Juga :  Pedagang Minyak Kelapa di Tengah Langkanya Minyak Goreng di Lotim

Tak sanggup harus beradu fisik melawan mereka yang berbadan besar itu. Saya dan istri harus puas melihat dari pinggir saja sambil terus bersholawat.

Kami pun kembali turun. Lewat jalur masuk tadi. Rupanya turun dari Jabal Nur ini lebih sulit dari menaikinya. Gelap, curam, dan licin akibat berpasir menjadi tantangannya. Hampir satu jam untuk bisa sampai ke parkiran mobil. Semula saya anggap lebih melelahkan saat sa’i, saya ralat kembali. Turunnya lebih gempor!

 

Banyak Pelajaran dari Sini

 

”Kala itu, Nabi kita, untuk sampai di puncak, tentu lebih berat medannya. Jangan bayangkan menggunakan anak tangga seperti sekarang,” jelas TGH Muharrar Iqbal.

Dijelaskan, dari puncak Jabal Nur, Nabi Muhammad memiliki misi untuk mencerahkan masyarakat Makkah dari wahyu yang diterimanya.

Selain itu, tambah dai humoris ini, untuk pelajaran hidup. Dapat dilihat bagaimana peran seorang istri.

”Khadijah sangat mensuport sang suami. Dari mulai mengantarkan makanan hingga menyelimuti nabi,” tutur tuan guru.

Selain itu, ini yang bikin miris. Ibarat para peziarah yang ingin ngalap berkah, tapi perilaku masih menyimpang.

”Tempat bermulanya Islam, seperti diterlarkan,” keluh TGH Muharrar Iqbal pendamping jemaah umrah Muhsinin Tour & Travel.

Sepanjang pendakian, di setiap sudutnya selalu kita temui sampah botol plastik. ”Pengunjung seperti tidak peduli, tidak membawa pulang sampahnya sendiri,” sesal Muharrar.

Ini, kata dia, juga akibat dari tidak ada perhatian dari pemerintah setempat.

”Mungkin mereka tidak punya dinas pariwisata dan dinas kebersihan,” seloroh Muharrar sambil tertawa. (*)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks
/