alexametrics
Rabu, 30 November 2022
Rabu, 30 November 2022

Cerita Riana Meilia, Pelaku UMKM NTB Pembuat Pin Khusus Acara KTT G20

Hanya diberi waktu satu purnama, Riana Meilia harus menyiapkan 150 pin KTT G20 dengan kualitas terbaik. Pin tersebut tersemat di dada seluruh kepala negara dan kepala pemerintahan yang hadir di KTT G20. Riana tak hanya membuat bangga Bumi Gora, tapi membuat bangga seluruh Indonesia.

 

KUSMAYADI, Mataram

 

SELASA, 6 September 2022, telepon genggam Riana Meilia berdering. Di ujung gawai, Panitia Pusat KTT G20 yang menjadi koordinator penyiapan pin untuk para kepala negara dan delegasi, membagi kabar. Desain milik Riana, ditetapkan menjadi pin resmi KTT G20.

“Panitia Pusat KTT meminta disiapkan 40 pin untuk VVIP dan 110 pin VIP untuk delegasi setingkat menteri,” tutur Riana kepada Lombok Post yang menemuinya akhir pekan lalu di galeri miliknya, Lombok-NTB Pearls.

Terbilang sudah cukup lama Riana tidak berkontak telepon dengan Panitia Pusat KTT G20. Komunikasi terakhir dilakukan pada Juni. Saat itu, Riana mengajukan desain terakhir untuk korespondensi kurasi desain yang sudah dilakukan secara intens semenjak Maret 2022.

Selepas pengajuan desain yang terakhir itu, Riana diminta menunggu informasi lanjutan. Sepanjang Juli hingga Agustus, tak ada informasi apa pun dari Panitia KTT G20. Ibu dari tiga anak ini pun pasif. Sempat sesekali karyawannya bertanya, apakah sudah ada kabar dari Panitia KTT G20. Namun, Riana meminta mereka bersabar dan bertawakkal kepada Allah atas seluruh ikhtiar yang telah dilakukan.

Sampai kemudian kabar itu datang. Namun, tiada keistimewaan waktu bagi Riana dan timnya. Dia hanya diberi waktu selama satu bulan untuk menyiapkan seluruh pin tersebut. Sementara untuk kontrol kualtias, Panitia KTT G20 memercayakan sepenuhnya pada Riana.

Bismillah. Riana memantapkan hati. Permintaan Panitia KTT disanggupi. Dipilihnya sepuluh karyawan terbaik untuk menyiapkan pin tersebut. Yang berarti, satu karyawan akan menuntaskan 15 pin selama satu bulan.

Sedari awal, Riana sadar sepenuhnya, begitu ditunjuk oleh Panitia Pusat KTT G20, tangggung jawab besar berada di pundaknya. Riana tahu, ada nama baik negara yang akan dipertaruhkan. Karena itu, dia memberlakukan kontrol yang sungguh ketat. Tak ada toleransi. Semua harus benar-benar presisi. Berat dan ukurannya. Jika ada yang berlebih atau kurang, pin harus dibenahi ulang.

Riana bersyukur, memiliki kepala tukang yang luar biasa. Sangat mengerti keinginannya dan dapat menerjemahkan rancangannya dengan sangat baik.

Seluruh pin tersebut dikerjakan dengan handmade. Melibatkan para perajin perak andal dari Desa Ungga, Lombok Tengah. Wujud pin tersebut serupa dengan logo G20 yang terinspirasi dari gunungan wayang kulit dan Batik Kawung. Pin dibuat tiga dimensi dengan sangat detail. Bahan bakunya perak 92,5 persen kemudian dilapisi emas 24 karat.

Tiga hari lebih cepat dari tenggat, seluruh 40 pin untuk Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan serta 110 pin untuk delegasi setingkat menteri pun dituntaskan. Pin tersebut ditempatkan dalam kotak istimewa dengan dominasi warna cokelat yang dirancang khusus oleh Riana, termasuk goody bag-nya. Seluruh pin kemudian diserahterimakan kepada Panitia Pusat G20.

“Tapi kami masih belum tenang. Perasaan kami masih tetap dag dig dug,” kata Riana.

Untuk alasan keamanan, oleh Panitia KTT G20, pin tersebut memang diminta tanpa peniti atau jarum. Pin melekat dengan magnet pada outfit yang dikenakan para kepala negara dan delegasi  KTT. Karena itu, Riana rada-rada khawatir, jangan-jangan nanti ada kejadian pin tersebut terlepas lantaran magnet tidak kuat atau hal lainnya.

Sebagai bagian dari quality control, tentu saja, pengujian sudah berulang kali dilakukan. Tak berbilang pula, para karyawan yang mengerjakan pin tersebut memberi garansi tentang daya tahan magnetnya, sehingga turut menenangkan dan menguatkan Riana.

Baca Juga :  Bandara Lombok Siapkan Slot Parkir Pesawat untuk Delegasi VVIP G20

Toh, meski begitu, Riana menolak berdiam diri. Secara khusus dia terbang ke Bali pada hari terakhir KTT G20 untuk memastikan tak ada insiden pin yang terlepas. Kebetulan pula, dia juga diundang secara khusus untuk hadir dalam workshop kerajinan tangan dalam agenda Spouse Program yang diikuti para istri dan suami Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan yang hadir di KTT G20.

“Alhamdulillah, kami bersyukur pada Allah tiada henti. Yang kami khawatirkan tidak terjadi,” imbuh Riana.

 

Permintaan Presiden Jokowi

 

Ihwal Riana turut andil menyiapkan pin untuk KTT G20 bermula dari pameran yang diikutinya di Pantai Kuta, Mandalika, pada Januari 2022. Saat itu, Kepala Bank Indonesia Perwakilan NTB Heru Saptaji, meminta Riana ikut dalam pameran tersebut yang kemudian disanggupinya dengan senang hati. Mengikuti pameran adalah salah satu caranya mengenalkan produknya ke khalayak.

Pandemi memang telah membuat bisnis kerajinan mutiara dan perhiasan meredup sebagaimana bisnis lainnya yang ikut terpukul. Bersyukur, selama pandemi, omzet Lombok-NTB Perals milik Riana, masih bisa ditopang oleh pemesanan dan penjualan secara online. Kendati begitu, tetap membuatnya harus mengistirahatkan sebagian karyawan.

Saat itu, kepada Riana, Heru Saptaji menyampaikan, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana Joko Widodo, dijadwalkan mengunjungi pameran. Pada saat yang sama, Presiden memang sedang menggelar serangkaian kunjungan kerja untuk mengecek kesiapan Sirkuit Mandalika yang akan menjadi tuan rumah MotoGP, event balap motor paling akbar di dunia.

Riana pun memboyong desain perhiasan terbaik dari perak dan mutiara yang dimiliki Lombok-NTB Perals dalam pameran tersebut. Dan benar. Presiden kemudian mampir di booth milik Riana saat mengunjungi pameran. Saat itulah, Kepala Negara langsung jatuh hati pada sebuah bros berbahan perak rancangan Riana yang berbentuk sayap kumbang.

Kepada Menteri Sekretaris Negara Pratikno yang mendampinginya, Presiden lalu menyampaikan, bros seperti itulah yang dicari dan diidamkannya untuk pin bagi seluruh kepala negara dan kepala pemerintahan yang akan hadir dalam KTT G20. Selain akan dikenakan selama KTT berlangsung, pin tersebut akan menjadi souvenir dari Indonesia untuk para delegasi. Presiden Jokowi pun meminta Riana yang membuat pin tersebut.

Bros berbentuk sayap kumbang itu kemudian diboyong Menteri Pratikno ke Jakarta untuk ditunjukkan kepada Panitia Pusat G20. Namun, setelah itu tak ada informasi lebih lanjut. Sampai kemudian pada Maret 2022, Riana dihubungi Panitia Pusat G20. Riana diminta mengajukan desain, termasuk dokumen-dokumen rekam jejak Lombok-NTB Pearls sebagai dokumen pendukung. Semenjak itu, korespondensi sebagai bagian dari proses kurasi berlangsung intens, hingga sampai pada Juni, saat Riana menyerahkan desain terakhir.

 

Bergelimang Prestasi

 

Riana bukanlah pemain baru dalam bisnis kerajinan mutiara dan perhiasan. Rekam jejaknya begitu terentang panjang. Sudah lebih dari dua dekade. Selama itu pula, Riana telah menorehkan berbagai prestasi bergengsi. Tahun 2018 misalnya, Riana menjadi pengusaha pertama dari NTB yang memenangkan penghargaan Good Design Indonesia, sebuah pengharhaan desain paling bergengsi di tanah air. Kalung Arkan Kerang Mabe Half Pearl Motif Rambut karyanya ditetapkan sebagai yang terbaik. Pada tahun yang sama, Kalung Arkan tersebut dikirim mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi desain produk terbaik tingkat dunia yakni G-Mark di Jepang.

Sementara, sebelum meraih GDI 2018 itu, total telah ada 20 penghargaan bergengsi tingkat nasional yang dimenanginya. Diawali dengan penghargaan dari Kementerian Perdagangan pada 2009. Lalu disusul penghargaan dari Dekranas dan Femina Award pada tahun yang sama.

Pada 2012, Riana juga meraih penghargaan Mutumanikam Nusantara. Lalu disusul penghargaan dari Kementerian Perindustrian, dan Indonesia Good Desain tahun yang sama. Setelah itu, tiap tahun dia selalu mendapat penghargaan. Tahun 2013 total ada dua penghargaan yang diterimanya. Lalu tahun 2014 ada tiga penghargaan, tahun 2015 dua penghargaan, tahun 2016 dua penghargaan, dan tahun 2017 tiga penghargaan.

Baca Juga :  Infrastruktur Jaringan Telekomunikasi KTT G20 Hampir Rampung

Riana sesungguhnya tak pernah sekolah desain. Seluruh apa yang dicapainya saat ini adalah hasil dari kerja keras dan ketekunannya belajar secara otodidak. Dalam mencipta, dia menyemai imajinasi. Lalu mengolah imajinasi tersebut menjadi rasa yang diwujudkan dalam sebuah keindahan seni rupa tiada tara.

Produk Riana pun melanglang buana ke seantero dunia. Sebelum pandemi, saban hari, pelanggan-pelanggannya datang ke galerinya. Pelanggan-pelangannya menunggu-nunggu buah karya terbaiknya. Mereka di antaranya kolektor mutiara. Ada pula istri-istri pejabat negara.

Semua bermula di dekade 1990-an, saat salah seorang koleganya dari Korea Selatan meminta tolong pada Riana untuk dicarikan mutiara mabe. Itu adalah sebutan untuk mutiara setengah bundar asal Lombok yang kala itu mulai dikenal sebagai daerah penghasil mutiara laut selatan terbaik di dunia.

Lantaran belum paham betul soal keindahan mutiara Lombok tersebut, Riana pun tidak langsung dapat memenuhi permintaan koleganya itu. Apalagi, kala itu, dia baru saja kembali ke Indonesia seusai menemani sang suami menuntut ilmu di Amerika Serikat.

Setidaknya perlu dua tahun bagi Riana blusukan ke sentra-sentra budidaya mutiara di Lombok. Sekalius pengurus Ikatan Pengusaha Wanita Indonesia ini mempelajari seluk-beluknya. Sampai akhirnya kemudian dia menemukan sedikitnya 100 biji mutiara yang diminta koleganya.

“Dan saya terpikat oleh keindahannya,” kata Riana.

Lalu, mulailah dia menekuni bisnis mutiara. Diawalinya dengan menjual mutiara air tawar berkualitas rendah dan mutiara mabe. Namun, bisnis tersebut terbilang tidak sukses. Selain lantaran persaingan di pasar mutiara biasa yang cukup ketat. Sebagian besar pelanggannya pun lebih senang dengan mutiara kualitas wahid.

            Dihadapkan pada fakta betapa sulit menjual mutiara low grade, maka Riana membulatkan tekad banting stir. Dia beralih ke mutiara top quality. Itu dilakukannya pada tahun 2000. Sebuah pilihan yang terbukti benar. Sebab, semenjak itu, penjualannya justru sangat bagus.

            Memang ada konsekuensi yang harus dibayar. Tentulah, tak mudah mendapatkan mutiara kualitas tinggi itu. Riana mesti mencarinya sendiri langsung ke sentra budidaya mutiara. Dia harus tekun dan telaten.

            “Tapi justru di situ tantangannya. Dan hasilnya pun sepadan,” kata Riana.

            Seiring waktu, perjalanan bisnisnya pun berkembang. Dari menjual mutiara, kemudian merambah kerajinan mutiara. Riana mempelajari keterampilan merancang perhiasan berbasis mutiara secara otodidak. Setelah menghasilkan sejumlah desain, ia pun mulai merekrut karyawan untuk mengikat mutiara pada perhiasan.

            Naluri bisnis yang kuat, menjadikan Riana tahu apa yang diminati pasar. Dia tahu, bahwa pasar selalu menginginkan mutiara kualitas terbaik. Dan itulah kunci bisnisnya kian moncer dan bertahan. Disokong dengan para perajin andal, bahan-bahan alam berkualitas tinggi yang dipadu kesungguhan hati dan kreasi penuh presisi, maka lahirlah produk-produk indah dari tangan Riana.

            “We make quality and beauty,” katanya mengenai produknya yang mengedepankan kualitas dan keindahan tersebut. Riana pun selalu turun tangan langsung untuk final check, sebelum produknya siap jual. Dan seluruhnya adalah produk handmade.

Selain itu, tentu produk-produk rancangan Riana ekslusif. Setiap rancangan perhiasannya memang hanya untuk diproduksi terbatas. Rancangan-rancangan pun dibuat orisinil dan beda. Dibuat dengan dengan perpaduan antara mutiara dan bahan-bahan alam lain.

Imajinasi dan kreasi memang tanpa batas. Sungguh, betapa Bumi Gora, bangga memiliki Riana. (*)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks
/