alexametrics
Rabu, 15 Juli 2020
Rabu, 15 Juli 2020

Kisah Hariani dan Mustiawati Berbagi Suami : Cinta Pertama, Lalui Malam Pertama dengan Bahagia

Saepul Bahri beruntung. Dua perempuan yang dicintainya kini sudah dinikahinya. Mereka pun sudah melalui malam pertama dengan penuh bahagia. Apa alasan dua istrinya rela dimadu? Berikut laporannya.

 

HAMDANI WATHONI, Giri Menang

 

Saepul baru saja bangun tidur saat wartawan Lombok Post kembali bertamu ke rumahnya untuk kedua kali Hari Senin (22/6) lalu. Namun bukan Saepul yang menjadi tujuan untuk diwawancara kali ini. Melainkan dua istrinya, Hariani dan Mustiawati.

Sebelumnya Hariani sempat menolak diwawancara karena malu. Begitu juga Mustiawati. Meski sempat diwawancara, ia tak banyak bicara. Namun kali ini, keduanya mau panjang lebar bercerita.

Ketiganya duduk bertiga. Akur. Entah apa yang ada di dalam hati mereka, tapi ekspresi wajah ketiganya terlihat ceria. Maklum mereka baru beberapa waktu lalu melewati malam pertama pernikahan. Bertiga. Dalam satu rumah.

Hariani lebih dulu mengungkapkan alasannya mau menikah dengan Saepul Bahri. Ia mengaku jatuh hati ke Saepul karena pria yang baru enam bulan pulang dari Malaysia itu mengajarkannya tentang cinta. “Sebelumnya belum pernah pacaran. Saepul cinta pertama saya,” ungkapnya tersipu malu.

Saepul bertukar rayuan dengan Hariani selama tiga bulan sebelum menikah melalui sambungan telepon. Keluguan Saepul lewat kata-katanya membuatnya merasa jatuh hati. Tak ayal, ia pun tak menolak ketika Saepul memintanya menjadi istri.

“Saepul orangnya baik,” nilainya.

Hariani nampaknya sudah lama merindukan kasih sayang laki-laki. Maklum ia ditinggalkan ayahnya yang meninggal sejak masih balita. Sehingga kasih sayang Saepul membuatnya kembali menemukan kehangatan cinta seorang laki-laki. “Makanya pas diajak nikah saya mau,” bebernya.

Namun, Hariani sebenarnya tak pernah menyangka jika Saepul akan menikahi seorang perempuan lain. Perempuan tersebut adalah Mustiawati yang juga sepupunya.

Rumah mereka bersebelahan. Bahkan keduanya memang sudah bersama sejak kecil. Main bersama dan tumbuh bersama. Usia mereka juga sama-sama 23 tahun. “Insya Allah ikhlas,” ujar Hariani ditanya apakah dirinya siap menjalani hidup dengan berbagi cinta.

Sementara Mustiawati mengungkapkan cerita yang berbeda. Ia menuturkan jika Saepul bukanlah cinta pertamanya. Saat Epol datang ke hatinya, justru ada pria lain yang memang lebih dulu sudah menjadi pacarnya. “Ada pacar saya dari Dusun Kelebut, desa sebelah,” ungkapnya.

Ia dan pacarnya bahkan sudah menjalin asmara sekitar sembilan bulan. Namun hatinya berubah ketika Epol–panggilan akrab Saepul Bahri–datang tiga bulan lalu. Lewat rayuan mautnya, Epol berhasil menggoyahkan hati Mustiawati. Hingga ia pun rela berpaling dari pujaan hati yang sebelumnya bertahta di singgasana hatinya.

“Kalau gantengnya sama seperti Epol. Tapi namanya hati tak bisa dibohongi. Sudah terlanjur cinta sama Epol,” akunya.

Saking cintanya, sampai dimadu pun ia rela. Bahkan berbagi cinta dengan sepupunya. Sama seperti Hariani, Mustiawati berjanji tidak akan saling menyakiti. Justru ia berharap rumah tangga mereka bisa menjadi keluarga sakinah, mawaddah, warahmah. “Semoga kami langgeng sampai maut memisahkan,” doanya.

Baca Juga : Kisah Saepul Bahri, Warga Lembar Lobar Nikahi Dua Pacar Sekaligus di Tengah Pandemi Korona

Saepul sendiri mengaku sangat mencintai kedua istrinya. Menurutnya, anugerah menikahi dua istri sekaligus adalah jalan takdir Tuhan yang ditentukan untuknya. “Karena awalnya kan saya minta nomer HP Mustiawati. Tetapi teman ngasih nomor Hariani. Jadinya saya suka dan pacari dua-duanya,” bebernya.

Tak mau kehilangan dua perempuan yang terlanjur dicintainya, ia mempersunting mereka berdua selang sehari. Hariani Rabu Malam, Mustiawati Kamis Malam. “Saya bilang apa adanya. Kalau mau menikah dan hidup susah dengan saya, ayo kita menikah. Karena kan mereka tahu kondisi hidup saya. Saya pekerja serabutan dengan penghasilan tak menentu,” ungkapnya jujur.

Ia bersyukur dua istrinya memiliki keterampilan sejak gadis menjadi tukang jahit. Sehingga dengan saling memahami satu sama lain, Saepul, Hariani, dan Mustiawati berharap bahtera rumah tangga mereka bisa bahagia.(*/r3)

 

 

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Korona Tinggi, Pola Pencegahan Covid 19 di Mataram Perlu Dievaluasi

emkot Mataram memang bekerja. Mereka berupaya memutus mata rantai penularan virus Korona. Sayangnya, kerja para pemangku kebijakan di Pemkot Mataram itu tanpa inovasi.

Enam Bulan, 19 Kasus Kekerasan Terhadap Anak Terjadi di Mataram

Kasus kekerasan anak di Kota Mataram masih sering terjadi. Buktinya, hingga Juli  tercatat sudah terjadi 19 kasus. “Kebanyakan dari kasus ini perebutan hak asuh,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Mataram Hj Dewi Mardiana Ariany, Selasa (14/7).

Larangan Dicabut, PNS Sudah Boleh Lakukan Perjalanan Dinas

Kebijakan pembatasan perjalanan dinas aparatur sipil negara (ASN) resmi dicabut. Kini ASN dibolehkan ke luar kota. Namun, dengan syarat-syarat khusus.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Mataram, Tanpa Masker Tak Boleh Masuk Pasar

Saat ini, sebagian besar masyarakat NTB memang sudah menggunakan masker. Tapi, banyak pula yang memakai masker hanya sampai dagu atau di leher. Sementara di Kota Mataram dan Lombok Barat yang merupakan dua daerah zona merah dengan kasus Covid-19 terparah, banyak pedagang dan pengunjung pasar yang masih bandel. Mereka ngelencer di pasar tanpa masker.

Sukseskan Kampung Sehat, Tiga Pilar di Loteng Kompak

Pemkab, Polres dan Kodim 1620/Lombok Tengah siap menyukseskan lomba kampung sehat. “Harapannya masyarakat mempunyai kemampuan dan kemandirian dalam penanganan covid-19,” papar Kapolres AKBP Esty Setyo Nugroho saat memimpin upacara tiga pilar di Bencingah Alun-Alun Tastura, Praya, Selasa (14/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Usai Pemakaman, Kades Sigerongan Lobar dan Lima Warga Lainnya Reaktif

Aktivitas di Kantor Desa Sigerongan lumpuh. Menyusul hasil rapid test kepala desa dan sejumlah warganya reaktif. Selama 14 hari ke depan, pelayanan di kantor desa ditiadakan sementara.

Korona NTB Masih Parah, Sekolah Hanya Bisa Dibuka di Kota Bima

Ketentuannya, kegiatan di sekolah pada tahun ajaran baru hanya diperbolehkan untuk daerah zona hijau. Karena itu, manakala ada pemerintah daerah yang nekat membuka sekolah non zona hijau. pemerintah pusat memastikan akan memberi sanksi.

Beli Honda ADV150, Hemat Rp 5,7 Juta

Honda ADV150 merupakan skutik penjelajah jalanan canggih dengan desain bodi yang futuristik dan manly. Skutik ini dibekali mesin 150cc eSP yang menyuguhkan performa responsif.

Liburan di Sungai Dodokan Lobar, Bayar Rp 5 Ribu Wisata Sampai Puas

Orang kreatif bisa membuat peluangnya sendiri. Itulah yang dilakukan Siali, warga Desa Taman Ayu, Kecamatan Gerung. Ia membuat Sungai Dodokan jadi spot wisata baru di Lombok Barat (Lobar).

Ikuti Mataram, Lobar Berlakukan Jam Malam

erkembangan pandemi Covid-19 di Lombok Barat (Lobar) semakin mengkhawatirkan. Kasus positif yang mencapai 300 lebih, menjadi atensi penuh Polres Lobar dalam melakukan upaya pencegahan penularan.
Enable Notifications.    Ok No thanks