alexametrics
Rabu, 8 Desember 2021
Rabu, 8 Desember 2021

Kreativitas Komunitas Perjal Minor Meningkatkan Minat Baca di Lombok Timur

Komunitas Perpustakaan Jalanan Minor didirikan oleh beberapa pemuda yang gemar membaca buku di Lotim.  Gerakan yang kemudian dikenal dengan sebutan Perjal Minor ini merombak kebiasaan membaca buku dalam ruangan tertutup yang senyap. Mereka menilai, ngelapak di berbagai tempat jauh lebih efektif dari pada berdiam diri di satu tempat.

—-

‘Cintai Otakmu’. Kata itu terpampang pada banner dalam program ngelapak buku gratis Perjal Minor di Taman Tugu Selong. Dua kata sederhana, tapi mengena di hati pemuda dan pemudi kekinian. Seperti gaya bahasa mereka di banner, anak-anak Perjal Minor juga terlihat tampil seadanya.

Tapi kesederhanaan itu justru menggugah semangat muda-mudi untuk membaca. “Jadi pecinta buku tak harus terlihat seperti kutu buku,” kata Samsul Hadi, salah seorang pendiri Perjal Minor Lotim pada Lombok Post.

Perjal Minor diresmikan Samsul Hadi atau yang akrab disapa Sisik pada 1 Desember 2018. Gerakan itu berawal dari pertemuan dia dengna dua orang kawan bernama M Khairul Hafizin dan Badarudin.

Kata Sisik, mereka bertiga waktu itu bisa dikatakan tak memiliki pekerjaan. Lalu karena sama-sama suka baca, akhirnya mereka berinisiatif untuk bertemu dan mengumpulkan buku bacaan masing-masing di taman tugu Selong.

Awalnya yang terkumpul hanya 20 buku. Kebanyakan novel dan beberapa buku biografi tentang pemikiran para tokoh. Pertama ngelapak, ternyata banyak yang mampir. Para pembaca itu kemudian datang dan menyumbangkan bukunya untuk dipinjam orang lain.

“Jadi setiap yang datang minjam, dia juga nyumbangin buku buat dipinjamkan. Sehingga buku ada di lapak semakin hari semakin bertambah banyak,” tuturnya.

Di tahun keduanya, Perjal Minor kemudian membuat acara bernama ‘kenapa literasi’. Acara itu mendapat respons positif dari kalangan pencinta literasi dan komunitas literasi lainnya. Tidak hanya di Lotim, tapi juga Perjal Minor melebarkan jaringannya ke luar daerah seperti dengan beberapa komunitas literasi yang ada di Mataram. Salah satunya komunitas Buku Ini Aku Pinjam (BIAP).

Selain ‘kenapa literasi’, belakangan Perjal Minor juga melakukan kegiatan book touring. Dari program itu mereka menemukan banyak kantong-kantong komunitas literasi lainnya di Lotim. Karena gerakan itu, sekarang buku yang dimiliki sudah mencapai 400 buah. Selain itu, orang-orang di Perjal Minor juga terus bertambah.

Kata Sisik, Perjal Minor secara tidak langsung mengubah pandangan generasi muda tentang gambaran perpustakaan yang tadinya identik dengan kesepian dan kesunyian. Kata dia, membaca tidak harus menyendiri. Apalagi untuk menumbuhkan minat baca. “Enaknya itu kan diskusi, ngobrol, dan bercandanya,” jelasnya. (tih/r5)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks