Selasa, 31 Januari 2023
Selasa, 31 Januari 2023

Lezatnya Donat Mimi Rasa, Tetap Lembut Meski Tanpa Kentang

Pandemi Covid-19 menjadi berkah bagi Dwi Sri Agustiani. Gerak masyarakat yang dibatasi waktu itu dimanfaatkannya untuk membuat donat dan hingga kini laris manis dipasaran.

 

ALI ROJAI, Mataram

 

“INI berkah Korona,” kata Ani, sapaan karibnya.

Jalan Gotog Royong, Kelurahan Pejeruk, Kecamatan Ampenan waktu itu cukup padat. Tepat di sebelah barat kantor lurah ada kios khusus menjajakan donat. Di depan kios terpampang spanduk bertuliskan Donat Mimi Rasa. Nama sebua brand donat yang diracik Ani sejak merebaknya pandemi Covid-19. “Kalau jual di kios baru berjalan satu tahun,” tutur ibu dua anak ini.

Dia terlihat sibuk membuat adonan donat. Kios yang ukurannya sekitar 4 kali 6 meter sekaligus menjadi tempat produksi. Tangannya cukup cekatan membuat donat yang langsung dijajakan di etalase dengan berbagai topping. “Satu hari kita habiskan 5 kilogram tepung,” terang perempuan kelahiran 1986 ini.

Dia tidak tahu secara pasti omzet penjualan donat setiap hari. Karena pesanan yang datang tidak menentu. Selain memasarkan secara offline, dia juga memasarkan donat dengan brand Mimi Rasa secara online di media sosial. “Kita ada marketing juga,” terang Ani.

Baca Juga :  Bantu Promosi, Pemkab Loteng Gandeng UMKM di Banyak Acara

Dia tidak seperti pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lainnya yang kerap memanfaatkan bazar atau pameran  untuk memasarkan produknya. Dia percaya diri jika donat yang diraciknya memiliki pangsa pasar sendiri. Meski donat yang dibuatnya tanpa kentang, namun soal rasa tidak kalah dengan donat yang ada di mal. “Rasanya agak lembut,” tutur Ani.Selain itu, masa kedaluarsa Donat Mimi Rasa cukup lama. Bisa tahan sampai empat hari.

Usaha kuliner mulai dilakoni sejak merebaknya pandemi Covid-19. Ruang gerak masyarakat yang waktu itu dibatasi mengharuskannya dia dan anak-anaknya menghabiskan waktu di rumah. Tidak ada kerjaan dengan berdiam di rumah membuat ia mencoba belajar membuat donat secara otodidak.

Awalnya, donat yang diraciknya hanya dikonsumsi keluarga. Namun karena rasanya cukup lembut dia mencoba memasarkan melalui medsos. Tak tanggung-tanggung pesanan waktu itu cukup banyak. “Omzet tergantung pesanan,” ujar perempuan asal Pejeruk ini.

Baca Juga :  Nikmatnya Berbuka Puasa di Pantai Mapak Indah

Saat ini kata dia, tingkat penjualan masih dibawah Rp 1 juta per hari. Kendati demikian usaha kuliner satu ini cukup menjanjikan karena untung yang didapatkan lumayan besar. Untuk harga donat satu kotak yang isinya 12 biji dibanderol Rp 30 ribu.

Sementara yang isinya 6 biji dibanderol Rp 15 ribu. Dulu kata dia,  donat dijual dengan harga Rp 25 ribu untuk satu kotak yang isinya 12 biji. Namun beberapa pekan lalu dia mulai menaikkan harga karena bahan-bahan pembuatan mengalami kenaikan. “Kalau harga bahan-bahan naik dan kita tidak naikkan harga malah dapat capek aja,” tutur perempuan 36 tahun ini.

Tiap hari dia memproduksi donat untuk dipasarkan secara offline dan online. Untuk pemasaran secara offline pembeli yang  datang ke kios. Sementara pesanan secara online biasanya banyak yang minta diantarkan langsung ke rumahnya. “Anak-anak sekolah banyak yang datang ke sini beli donat,” pungkasnya. (*/r3)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications OK No thanks