alexametrics
Rabu, 21 April 2021
Rabu, 21 April 2021

Cerita M Irman Jayad, Perajin Pot Relief Bonsai

Siapa sangka, karya seni relief taman M Irman Jayad membuat kepincut mantan wali kota dan gubernur waktu itu. Dia pernah membuat relief taman di rumah pribadi kepala daerah itu.

—————————————————————

CUACA sekitar pukul 10.00 Wita Jumat (26/3/2021) cukup panas. Kondisi ini seakan terbayar melihat hasil karya pot relief bonsai yang berjajar di Jalan Adi Sucipto depan SMAN 7 Mataram. Berbagai ukuran pot relief bonsai dalam proses pengerjaan. Ada juga yang sudah jadi lengkap dengan tanaman hias kerdil itu.

M Irman Jayad namanya. Dia adalah seorang perajin relief taman. Tangannya memegang kuas terus bergerak menyentuhkan kuas pada meja relief bonsai yang dibuatnya. Meja relief bonsai ukurannya lebih besar dari pot relief lainnya.

Di tangan Irman, relief bisa dimunculkan dari sebuah pot yang digunakan sebagai wadah untuk tanaman bonsai. Kurang lebih sejak setahun terakhir, pot relief untuk tanamam bonsai sudah ditekuninya. Inspirasi membuat pot relief lahir karena ditengah pandemi Covid-19 jarang ada orang yang memesan relief dinding taman.

Keterbatasan gerak masyarakat saat mewabahnya Korona membuat mereka memilih berdiam di rumah. Bahkan banyak warga yang memanfaatkan diam di rumah dengan memelihara tanaman. “Dulu rumah pribadi mantan wali kota di Kekalik, Kota Mataram, saya yang buatkan relief tamannya,” tutur pria asal Solo, Jawa Tengah ini.

Begitu juga degan rumah pribadi mantan gubernur NTB di Pancor, Lombok Timur, relief taman hasil dari tangan kreatifnya. “Ya, pas di Pancor waktu itu saya buat relief taman,” kenang pria mualaf ini.

Untuk membuat satu pot berukuran kecil hanya memakan waktu dua hari. Dengan menggunakan bahan seperti kerangka besi, kawat nyamuk, dan pasir. Sedangkan untuk meja yang ukurannya besar membutuhkan waktu sampai sepuluh hari.

Kata dia, pot ini harus dirawat, paling tidak dalam setahun sekali dicat ulang. Untuk harga sendiri untuk pot kecil dibanderol Rp 4 sampai 5 juta, sementara ukuran besar harganya bisa sampai Rp 7 juta.

Meski sudah berpengalaman membuat relief taman sejak 1983 silam, dia masih kerepotan membuat pot relief. Terutama pada pengerjaan lubang relief ornamen batu karang. Dibutuhkan kesabaran dan ketelatenan agar apa yang dibuat mirip aslinya. “Ini sudah mulai mirip batu karangnya,” kata Irman melepaskan kuas ditangannya sembari tersenyum.

Sebagai pengrajin relief taman, dia mengeluhkan kondisi saat ini. Ditengah pandemi Covid-19 pesanan pembuatan pot relief juga tidak banyak. Dia mengerjakan pembuatan pot jika ada pesanan. Pembuatan pot tergantung dari selera pemesan.

Selain menyiapkan foto-foto model pot, pemesan juga bisa membawa contoh sendiri dari rumah model pot yang diinginkan. “Kita buatkan sesuai selera pemesan,” tutur pria yang kini tinggal di Babakan, Sandubaya ini.

Kini, dia membutuhkan modal untuk membuka usaha relief taman. Apalagi ditengah pandemi Covid-19 sekarang ini tidak ada orang yang membuat relief taman. “Kadang kita juga terkendala modal kalau ada pesanan. Karena untuk beli bahan seperti besi, semen, kawat kita yang keluarkan dulu,” ucap bapak dua anak ini.

Membuat pot relief bonsai merupakan inovasi yang dilakukan karena tidak ada orang yang membuat relief taman. Dengan konsep ini diharapkan bisa menggaet para pecinta bonsai. “Pot relief membuat harga bonsai bisa lebih tinggi,” tutur dia. (rojai/r2)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications   OK No thanks