alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Lama Tak Sekolah “Merariq Kodeq” di NTB Terus Bertambah

LOMBOK TIMUR-Sudah sekian waktu berlalu, tapi Sri Pancarina masih menyesali benar keputusan lima siswinya yang memilih menikah dini. Padahal, mereka baru saja menyelesaikan ujian ketika itu.

’’Hasil ujian belum keluar, mereka sudah menikah duluan,” kata Rina, sapaan akrab kepala SMPN 5 Selong, Lombok Timur (Lotim), Nusa Tenggara Barat, itu kepada Lombok Post kemarin (26/8).

Setiap tahun, lanjut Rina, memang ada siswinya yang memilih putus sekolah untuk menikah. Tapi, kejadian tersebut tidak sebanyak tahun ini.

Menurut dia, faktor proses belajar dari rumah selama pandemi Covid-19 memang sangat memengaruhi peningkatan kasus pernikahan anak di Lotim. ’’Ditambah lagi kurangnya pengawasan orang tua di rumah,” jelasnya.

Kasus pernikahan anak di Lotim melonjak tinggi selama pandemi Covid-19. Sampai Juli 2020, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur mencatat ada 15 kasus. Sebelas di antaranya terjadi pada Mei, Juni, dan Juli.

Itu pun hanya yang dilaporkan atau yang tercatat. Sangat mungkin yang terjadi di Lotim ini adalah fenomena gunung es. Yang tak terlaporkan malah lebih banyak.

Menurut Kepala Bidang Perlindungan Anak DP3AKB Lotim Hazrin, angka pernikahan dini tersebut meningkat secara signifikan sejak Mei lalu. ’’Ada lima kasus di bulan itu,” kata Hazrin.

Setiap tahun, kasus pernikahan anak di Lotim memang meningkat. Dalam rekapan Hazrin, sembilan kasus pernikahan anak terjadi pada 2018. Angka itu naik dua kali lipat pada 2019 menjadi 17 kasus.

Tahun ini yang baru berjalan delapan bulan, jumlahnya sudah hampir menyamai tahun lalu. Terutama setelah diberlakukannya pembelajaran dari rumah.

’’Jika dianalisis, bisa saja peningkatan kasus ini terjadi sejak anak belajar di rumah selama pandemi Covid-19,” ujar Hazrin.

Anak yang memilih menikah dini itu rata-rata berusia 17 tahun. Ada juga yang berusia 14 tahun dengan pasangan 19 tahun.

Sekali lagi, kasus tersebut merupakan yang terlaporkan. Sedangkan yang terjadi di bawah tangan lainnya dipastikan lebih banyak. ’’Melihat rata-rata usianya, tentu tidak ada yang mendapat dispensasi. Semua selesai dengan proses agama,” jelasnya.

Artinya, mereka baru sebatas menikah secara agama. Sebab, secara negara, pernikahan hanya dilakukan dengan batas usia minimal 19 tahun.

Kepala DP3AKB Lotim Asrul Sani membenarkan bahwa kasus yang terlaporkan hanya sebagian kecil dari kasus pernikahan anak yang terjadi di Lotim. Dia menuturkan, berdasar data angka kelahiran menurut umur yang dikeluarkan Dinas Kesehatan Lotim pada 2019, terdapat 289 ibu melahirkan yang berusia di bawah 20 tahun.

Artinya, jumlah kasus pernikahan anak pada tahun itu mencapai ratusan. ’’Apalagi tahun ini. Jumlahnya bisa mencapai ratusan juga,” kata Asrul.

Menurut dia, di luar faktor belajar dari rumah saat pandemi Covid-19, peran orang tua memang menjadi kunci utama. Selain itu, peran guru tak kalah penting dalam mengedukasi peserta didik di sekolah.

Adat dalam pernikahan Sasak memang menjadi salah satu faktor yang membuat pernikahan dini tak bisa dicegah. Karena secara psikologis, perempuan yang sudah dibawa lari oleh laki-laki ke rumahnya akan menjadi aib tersendiri jika dipulangkan atau dibatalkan proses pernikahannya.

’’Jadi, rasanya sia-sia berbagai penyuluhan kepada siswa yang sudah kita lakukan selama ini,” terang Rina.

Menurut Rina, di setiap mediasi yang dilakukan sekolah, tak ada satu pernikahan pun yang bisa dibatalkan. Penyebab di setiap mediasi hampir sama. Pihak keluarga justru yang paling getol mempertahankan agar pernikahan tersebut tetap bisa dilanjutkan. ’’Saya mau bagaimana lagi,” sesalnya.

Salah seorang tokoh agama Lotim, TGH Gunawan Ruslan, menerangkan, sebenarnya ada perbedaan antara adat dan agama dalam hal tradisi maling. Dalam agama, jika justru membawa mudarat bagi perempuan dan anak, sudah tentu sebaiknya pernikahan tidak dilangsungkan. Namun, dalam adat, hal itu sering kali dipaksakan.

Fasilitator Advokasi Buruh Migran Indonesia (ADBMI) Lotim Fauzan menerangkan, kasus buruh migran, perceraian, dan pernikahan dini merupakan satu mata rantai permasalahan sosial yang selama ini terjadi di Lotim. Dia menuturkan, sebagian besar anak yang melakukan pernikahan dini adalah keluarga pekerja migran Indonesia (PMI).

Menurut dia, jumlah PMI yang didominasi warga Lotim berbanding lurus dengan angka perceraian dan pernikahan dini yang penyebabnya berkelindan satu sama lain. Pernikahan dini disebabkan anak yang tak terurus karena ditinggal orang tuanya ke luar negeri. Sedangkan mereka yang menikah di usia dini, kebanyakan akan mencari nafkah ke luar negeri.

Namun, di sisi lain, Fauzan juga meyakini kasus pernikahan dini saat ini terjadi akibat pembelajaran dari rumah selama pandemi Covid-19. ’’Itu sangat jelas. Agustus ini, ada tiga kasus pernikahan anak yang saya temui dan belum terlaporkan,” jelasnya.

 

Semua Provinsi Ada

 

Sementara itu, berdasar data Badan Pusat Statistik (BPS), tidak ada provinsi yang nol pernikahan anak. Kondisi tersebut bertabrakan dengan target pemerintah menurunkan stunting hingga tinggal 14 persen.

Kepala BKKBN Hasto Wardoyo menuturkan, untuk mewujudkan tujuan pemerintah itu, harus fokus intervensi sebelum kehamilan. ”Selain fokus pengaturan jarak kelahiran, pranikah jadi perhatian,” ungkapnya.

Pernikahan anak, kata Hasto, memiliki banyak dampak minus. Untuk itu, perlu diberikan pemahaman bagi calon pengantin maupun masyarakat secara luas. ”Pemahaman reproduksi di jenjang sekolah ini penting,” ucapnya.

Risiko kehamilan pada tahun pertama pernikahan mencapai 80 persen. Padahal, ada risiko kehamilan pada usia muda. Misalnya, kehamilan pada usia remaja tentu berdampak pada pertumbuhan.

Risiko menopause terjadi pada usia lebih muda. Belum lagi pada kesehatan calon anaknya. ”Kalau belum mampu nikah, mendingan puasa daripada menikah hanya untuk menghindari zina,” katanya.

Terpisah, Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kemen PPPA Lenny N. Rosalin membeberkan bahwa ada peran strategis perempuan di tingkat desa. ”Kami yakin perempuan-perempuan champions (pegiat perempuan andalan, Red) di desa masing-masing bakal mampu bergerak untuk mencegah perkawinan anak,” ujarnya.

Lenny menyatakan, ada 22 provinsi yang angka pernikahan dininya di atas angka nasional. Itu menurut survei BPS 2019 pada perempuan usia 20 sampai 24 tahun yang sudah menikah pada usia di bawah 18 tahun.

Secara nasional, angka pernikahan dini mencapai 10,82 persen. Jawa Timur menjadi salah satu provinsi yang pernikahan dininya di atas angka nasional. Sementara itu, DKI Jakarta dan Jogjakarta menjadi provinsi terendah angka pernikahan dininya. (tih/JPG/r6)

 

Pernikahan Sebelum Usia 18 Tahun Tertinggi pada 2019

 

KALIMANTAN SELATAN

21,2 persen

KALIMANTAN TENGAH

20,2 persen

SULAWESI BARAT

19,2 persen

KALIMANTAN BARAT

17,9 persen

SULAWESI TENGGARA

16,6 persen

SULAWESI TENGAH

16,3 persen

NTB

16,1 persen

BANGKA BELITUNG

15,5 persen

JAMBI

14,8 persen

MALUKU UTARA

14,4 persen

NASIONAL

10,82 persen

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Bawaslu Dorong Pendaftaran Sengketa Online

Penetapan pasangan calon Pilkada 2020 akan dilakukan pada lusa mendatang (23/9) di Kantor KPU masing-masing daerah. Bawaslu kini mulai mempersiapkan diri menghadapi sengketa pencalonan. Sebab diperkirakan, bapaslon yang dinyatakan tidak memenuhi syarat akan membawa kekecewaannya ke Bawaslu.

Ada Apa dengan Pulau-pulau Kecil?

SAYA diundang oleh Ketua LPPM Unram, Dr. Muhammad Ali dalam diskusi untuk merevisi Rencana Induk Penelitian Universitas Mataram lima tahun ke depan. Salah satu bagian yang cukup alot diskusinya adalah ketika mendiskusikan fokus penelitian di Unram. Mengapa harus ada fokus?

Penyuntikan Vaksin Korona Untuk Warga Dimulai Januari 2021

Pemerintah telah bekerja sama dengan Uni Emirat Arab dan mendapatkan vaksin untuk Covid-19 sebanyak 20 juta dosis. Rencananya, vaksin mulai didistribusikan pada Desember.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.
Enable Notifications    Ok No thanks