alexametrics
Selasa, 29 September 2020
Selasa, 29 September 2020

Terlalu Lama Belajar di Rumah Pelajar di Selong Lotim Pilih Menikah

 Y ini mengaku AG meminang dirinya saat minatnya bersekolah menurun jauh menyusul libur panjang akibat pandemi. Sekolah dan instansi terkait sudah berusaha mencegah, tapi keluarga merestui.

 

FATIH KUDUS JAELANI, Lombok Timur

 

SEKOLAH libur pagi itu. Y pun memanfaatkannya untuk jalan-jalan bersama sejumlah kawan.

Tak jauh sebenarnya lokasi remaja 15 tahun yang duduk di kelas IX SMP itu berjalan-jalan. Di sekitar tempat tinggalnya di kawasan Kecamatan Selong, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.

Tapi, Dewa Amor rupanya sedang berada di tempat yang sama. AG melihatnya, terpikat, meminta nomor ponselnya, dan tak terlalu lama kemudian Y sudah jadi istri pemuda yang cuma berusia dua tahun di atasnya itu.

’’Inilah janji saya. Sudah takdir dari Yang di Atas,” kata AG kepada Lombok Post yang menemuinya di kediaman keluarga Y.

Mereka menikah secara agama pada 13 Mei lalu. Belum sah secara negara karena menurut Undang-Undang Pernikahan, batas usia pernikahan adalah usia 19 tahun.

Tapi, AG dan Y tak terlalu mempermasalahkan hal itu.

’’Ibu saya mengizinkan,” ujar Y yang turut mendampingi sang suami saat menemui Lombok Post.

AG dan Y adalah satu di antara 15 pasangan yang menikah di bawah umur sepanjang 2020 ini. Menurut catatan Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Lombok Timur, 11 di antara 15 kasus itu terjadi pada Mei, Juni, dan Juli ketika pandemi Covid-19 menghantam Indonesia.

Itu pun hanya yang dilaporkan. Jadi, ada kemungkinan ini fenomena gunung es. Masih banyak pernikahan dini yang tidak terlaporkan atau belum tercatat.

AG yang sehari-hari hanya tinggal bersama sang ayah di kawasan kecamatan yang sama dengan Y itu memilih tidak melanjutkan ke SMA. Dia bekerja sebagai buruh harian.

Sementara itu, Y merupakan anak kedua di antara enam bersaudara. Dia tinggal bersama sang ibu, sedangkan ayahnya sudah lama merantau ke Malaysia.

Kata AG, keinginan untuk menikahi Y tiba-tiba saja tebersit di pikirannya. Waktu itu, dia langsung mengutarakan keinginan tersebut kepada ibunda Y. Awalnya main-main, tapi ditanggapi serius dan terjadilah.

M, ibunda Y, tak berkata banyak saat ditanya mengenai pilihan putri keduanya untuk menikah di usia 15 tahun. ’’Yang penting dia yakin dan bisa memberikan yang terbaik untuk suaminya,” katanya.

Niat pasangan itu sebenarnya sempat dicegah UPTD PPA (unit pelaksana teknis daerah pemberdayaan perempuan dan anak), DP3AKB, dan pihak sekolah bersama kelurahan. Namun, upaya berbagai pihak tak membuahkan hasil.

R, kepala lingkungan tempat AG tinggal, mengatakan, setiap kali ada kasus pernikahan anak, pada saat itu juga dirinya merasa seperti berada di ujung dua mata pisau yang siap melukainya. ’’Di satu sisi, ada aturan yang harus ditegakkan. Di sisi lain, masyarakat harus diamankan,” katanya.

Berdasar pengalamannya, saat mediasi terjadi, keluarga perempuan mengatakan bisa saja anaknya dikembalikan. Namun, mereka juga menegaskan pihak lelaki harus bersedia menanggung risikonya.

Persoalannya, kata R, risiko yang dimaksud penuh ancaman. Kalau denda, mungkin tinggal disebutkan dan dengan mudah bisa dibayar. ’’Tapi, bagaimana jika risiko yang dimaksud adalah ancaman yang bisa saja membahayakan warga saya,” jelasnya.

Di kelasnya, Y merupakan siswi ketiga yang menikah selama pandemi ini. Dia menggelengkan kepala saat ditanya apakah mereka bersepakat menikah bersama atau memengaruhi satu sama lain. Katanya, justru banyak temannya yang belum mengetahui bahwa dirinya kini sudah menikah.

Y juga mengaku bahwa minatnya bersekolah berkurang setelah dua bulan lebih tidak masuk. Tapi, tidak hanya itu. Alasan lainnya tentu ada. Namun, dia tak bisa menjelaskan lebih lanjut mengenai faktor ekonomi.

’’Tapi, kalau waktu itu sekolah, pasti saya tidak ketemu sama suami saya ini. Karena libur sekolah, saya bisa jalan-jalan pagi, lalu ketemu (dan terjadilah pernikahan ini),” terangnya.

GA tak terlalu cemas soal menafkahi sang istri kendati tak punya pekerjaan tetap. Justru pernikahan itu jadi kiat menyemangati dia untuk mencari uang.

’’Di mana ada pekerjaan harian, di sana saya bekerja,” jelas AG.

Selain itu, pikirannya lebih fokus dan tenang daripada saat masih lajang. Dia juga bakal sabar menunggu sampai pernikahannya dengan Y disahkan negara. (*/c7/ttg/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Turunkan Angka Pernikahan Anak, Lobar Apresiasi Program Yes I Do

"Sudah pas Peran NGO melalui Program Yes I Do sangat bagus menekan tingkat pernikahan anak," kata Kepala DP2KBP3A Lobar Ramdan Hariyanto.

Tetap Tumbuh, Sektor Tambang Topang Ekonomi NTB di Masa Pandemi

Sektor pertambangan memang tak lepas dari fondasi ekonomi provinsi NTB. Di triwulan II 2020, sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 47,78 persen mampu menahan laju penurunan ekonomi NTB. Pada triwulan II, ekonomi NTB kontraksi 1,4 persen, namun tanpa sektor pertambangan dan penggalian, kontraksi akan lebih dalam lagi hingga mencapai 7,97 persen.  

Taspen Lindungi JKK JKM Non ASN

PT Taspen kini memberikan jaminan dan perlindungan penuh terhadap pegawai non Aparatur Sipil Negara (ASN)

Nomor 4, Era BARU, Industri 4.0, Menang!

Aqi berkomitmen membuat lompatan besar membawa Kota Mataram lebih maju, nyaman, dan beradab. Ia yakin dengan dukungan semua pihak yang menginginkan ibu kota provinsi NTB bersinar terang. “Sebagai putra Mataram, saya ingin memberikan karya terbaik saya buat tanah kelahiran saya,” katanya dengan suara bertenaga.

UT Mataram Beri Beasiswa KIP-K dan CSR se-NTB

“Penerima beasiswa KIP-K mendapatkan bebas biaya kuliah, buku dan uang saku Rp 700 ribu per bulan yang dibayar di akhir semester,” terang Raden.

Dorong Industri Kreatif : HARUM Rancang Mataram Creative District

ebagai sebuah kota yang terus berkembang, Kota Mataram harus menangkap peluang ini sebagai salah satu penguat daya saing global di masa mendatang.  Bagaimana rencana pengembangan Industri Kreatif di Mataram di masa mendatang berikut petikan wawancara kami dengan H Mohan Roliskana calon wali kota Mataram.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks