alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Inovasi dari Desa Ubung, Berlimpah Energi dari Gas Kotoran Sapi

Pasokan gas ke rumah Amaq Samat, 50 tahun, warga Desa Ubung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, tak ada habisnya. Saban hari energi mengalir dari digester biogas di pekarangan rumahnya. Tak kenal kata pusing meski elpiji sedang langka.

 

SIRTUPILLAILI, Lombok Tengah

 

AROMA khas kotoran sapi menguar manakala memasuki pekaragan rumah Amaq Samat. Rumah itu memang bersisian dengan kandang sapi milik sang empunya rumah. Tapi, jangan kira pekarangan rumah itu belepotan dengan kotoran yang lazimnya jadi pupuk kandang tersebut. Sebaliknya, pekarangan itu sungguh bersih.

Semua kotoran sapi dimasukkan Amaq Samat ke dalam digester biogas, persis di sebelah rumahnya. Setiap pagi ia dan istrinya Mawiati, 45 tahun, mengangkut kotoran dari kandang ke digester berkapasitas 4 meter kubik itu.

Saat Lombok Post berkunjung pekan lalu, Amaq Samat dengan senang hati menunjukkan cara ia dan istrinya mengolah kotoran-kotoran itu menjadi sumber engeri ramah lingkungan.

Mawiati masih mengenakan pakaian rapi, ia baru dari acara kondangan di kampung. Tapi ibu dua anak itu bergegas masuk ke kandang. Dengan cekatan ia mengumpulkan kotoran dari lima ekor sapi di kandang itu.

Sejurus kemudian Amaq Samat, mengangkut kotoran itu ke digester biogas menggunakan gerobak dorong. Jaraknya hanya beberapa meter dari kandang. Kotoran kemudian dimasukkan ke dalam inlet atau bak pengaduk.

Sebelum masuk ke dalam digester, kotoran diaduk dengan air sampai menjadi bubur, biasa disebut slurry biogas.

Setelah itu, slurry biogas dialirkan melalui selang ke dalam digester. Bak penampung berbentuk kubah ini hampa udara. Fungsinya sebagai reaktor yang menampung gas metana (CH4) dari kotoran sapi yang diendapkan.

Gas metana ini akan terkumpul di bagian kubah digester. Untuk memanfaatkan gas tersebut, Amaq Samat memasang pipa yang disambung ke dapur rumahnya. Setiap waktu ia bisa menutup dan membuka aliran gas seperti kran air.

Setiap hari keluarga Amaq Samat mendapatkan pasokan 0,83 meter kubik gas. Itu bisa dipakai untuk segala keperluan selama empat jam. ”Tapi saya biasanya hanya memakai untuk masak paling lama dua jam,” katanya.

Terkadang, gas tersebut mereka buang-buang agar bisa memasukkan kotoran sapi lagi. Bahkan, Samat sengaja memasak air banyak, selain untuk menghabiskan gas, ia juga bisa mandi menggunakan air hangat. Baginya itu kemewahan tersendiri.

”Kapan pun mau masak bisa, pokoknya enaklah,” katanya.

Tak heran, keluarga Amaq Samat tidak pernah dipusingkan dengan kelangkaan gas elpiji atau minyak tanah. Pipa-pipa di atas rumahnya senantiasa mengalirkan energi untuk menghidupkan sumbu dapur.

Dulu, sebelum memanfaatkan biogas, Samat seperti warga lain kerap dibuat panik karena kelangkan minyak tanah atau elpiji. Selaku kepala keluarga, kini ia lebih tenang. ”Sebelum ke biogas ini kami pakai minyak tanah dan kayu bakar untuk memasak. Sekarang tidak lagi,” katanya.

Selain mendapat energi melimpah, kebersihan di rumahnya sangat terjaga. Dahulu kotoran sapi ia tumpuk di belakang kandang. Bayangkan betapa ehemehem suasana rumahnya. ”Terkadang juga kami buang ke saluran,” tutur dia.

Dengan lima ekor sapi, setiap hari sekitar 50 kilogram (kg) kotoran numpuk di rumahnya. Kini dengan biogas, 30 kg kotoran sapinya diolah menjadi energi. ”Sisanya yang 20 kg kita pakai untuk besok lagi. Tidak ada yang terbuang sekarang,” katanya.

Ketika terjadi pemadaman listrik, Amaq Samat pun memanfaatkan biogas untuk menyalakan lampu. Namun demikian, belum bisa dipakai untuk barang elektronik. Sebab, daya yang dihasilkan belum seperti listrik dari PLN.

Keluarga Amaq Samat juga mendapatkan keutungan secara ekonomi. Limbah biogas dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan kualitas tinggi. Pupuk padat maupun cairnya sangat bagus untuk tanaman. ”Kalau ada orang yang mau beli saya jual Rp 10 ribu per 10 kg-nya,” katanya.

Tiap 30 kg kotoran sapi menghasilkan limbah slurry padat 75 persen dan slurry cair 25 persen. Dalam sebulan, ia rata-rata menghasilkan 1 ton pupuk dari limbah biogas. Setelah diolah menjadi pupuk, nilainya menjadi tinggi. ”Yang beli warga lokal, juga banyak pesanan dari Bali,” katanya.

Para mahasiswa dari Universitas Mataram dan Universitas Muhammadiyah Mataram paling sering datang membeli sekaligus belajar ke tempatnya. ”Mahasiswa dari Malaysia juga pernah datang belajar ke sini sama dosennya,” ujarnya.

Amaq Samat mulai menikmati biogas sejak 2013. Ketekunannya membuahkan hasil. Ia kerap diundang ke luar daerah untuk menceritakan pengalaman memanfaatkan biogas.

Sayangnya, beberapa warga yang mendapatkan bantuan biogas tidak memanfaatkan secara optimal. Karena malas, kurang tekun merawat. Sehingga digester biogasnya jadi tidak berfungsi. ”Ada yang juga ditinggal untuk kerja jadi TKI di Malaysia,” tuturnya.

Tahun 2013, pembuatan biogas menghabiskan Rp 6,5 juta. Tapi Amaq Samat hanya mengeluarkan uang Rp 1,5 juta. Sisanya bantuan subsidi dari Yayasan Rumah Energi Rp 2 juta, dan pemerintah daerah Rp 3 juta.

Dengan pola itu pemerintah, lembaga swasta, dan masyarakat terlibat dalam kerja sama pembangunan biogas. Partisipasi masyarakat dalam proyek biogas sangat penting. Dengan partisipasi itu mereka punya rasa memiliki dan tanggung jawab.

”Akan menjadi dilema bila setelah dibangun tidak mereka kerjakan. Itu jadi alasan kita kenapa masyarakat harus terlihat,” kata Umar, koordinator Yayasan Rumah Energi NTB.

Pola kerja sama itu dilakukan Hivos bersama Pemprov NTB sejak tahun 2012 sampai 2014. Sebelumnya, pembangunan dilakukan secara swadaya. Tapi karena perkembangannya agak lambat. ”Sehingga kami bersama Dinas ESDM mendorong pola kerja sama tiga pihak itu,” terangnya.

Pola itu berlangsung selama tiga tahun dan berhasil. Tahun pertama di 2012 dibangun 1.000 unit, kemudian 2013 dibangun 900-an unit, dan 2014 sebanyak 403 unit. ”Kala itu NTB menjadi cotoh nasional bagaimana kerja sama pemda dengan swasta,” katanya.

Program biogas rumah (Biru) Hivos di NTB dimulai sejak Juli 2010 sampai saat ini. Namun sejak 2013, program Biru dilaksanakan institusi lokal bernama Yayasan Rumah Energi. Sementara Hivos dan SNV sebagai support teknis. ”Awal pengenalan ke masyarakat sangat sulit,” tutur Umar.

Kala itu, proyek percontohan biogas dibangun di Desa Pujut, Lombok Tengah. Semua didanai Hivos. Seiring berjalannya waktu, dengan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat, program Biru sudah membangun 5.215 unit reaktor biogas, tersebar di seluruh NTB.

Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Utara menjadi dua daerah yang paling responship dan cepat membangun biogas.

Pemda, kata Umar, awalnya tidak berani melaksanakan program karena takut melanggar aturan keuangan. Hanya pemda KLU yang berani membangun pola kerja sama tiga pihak itu. Bahkan, sebelum gempa 2018 KLU menjadi contoh di Indonesia. ”Banyak daerah lain belajar ke sana,” katanya.

Umar mengakui, dari semua reaktor biogas yang dibangun ada saja yang tidak berfungsi. Tapi bukan karena alat yang tidak bagus, masalahnya ada di tingkat warga. ”Ada pemilik rumah yang sudah pindah dan biogasnya tidak dilanjutkan,” katanya.

Ada pula yang ternaknya dijual dan mereka memilih bekerja sebagai buruh migran di luar negeri. Akhirnya biogasnya terbengkalai. Bahkan ada pula karena konflik tanah warisan, sehingga lokasi reaktor biogas tidak bisa mereka kelola lagi. ”Banyak kendala di luar teknis,” katanya.

Saat ini biaya untuk membangun reaktor biogas rata-rata Rp 8,5 juta. Itu sudah termasuk kebutuhan semen, pasir, batu bata, kerikil, dan ongkos tukang. Ia berharap ada lembaga keuangan yang memberikan pinjaman lunak kepada warga untuk membangun biogas. (*/r6)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Bawaslu Dorong Pendaftaran Sengketa Online

Penetapan pasangan calon Pilkada 2020 akan dilakukan pada lusa mendatang (23/9) di Kantor KPU masing-masing daerah. Bawaslu kini mulai mempersiapkan diri menghadapi sengketa pencalonan. Sebab diperkirakan, bapaslon yang dinyatakan tidak memenuhi syarat akan membawa kekecewaannya ke Bawaslu.

Ada Apa dengan Pulau-pulau Kecil?

SAYA diundang oleh Ketua LPPM Unram, Dr. Muhammad Ali dalam diskusi untuk merevisi Rencana Induk Penelitian Universitas Mataram lima tahun ke depan. Salah satu bagian yang cukup alot diskusinya adalah ketika mendiskusikan fokus penelitian di Unram. Mengapa harus ada fokus?

Penyuntikan Vaksin Korona Untuk Warga Dimulai Januari 2021

Pemerintah telah bekerja sama dengan Uni Emirat Arab dan mendapatkan vaksin untuk Covid-19 sebanyak 20 juta dosis. Rencananya, vaksin mulai didistribusikan pada Desember.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.
Enable Notifications    Ok No thanks