alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Energi Melimpah dari Halaman Rumah

Warga NTB Manfaatkan Kotoran Sapi Jadi Sumber Energi

Pasokan energi ke rumah warga pemilik biogas tidak ada habisnya. Saban hari energi mengalir dari pekarangan rumah mereka. Keluarga-keluarga ini tidak pernah pusing jika terjadi kelangkaan elpiji. 

 

SIRTUPILLAILI, Lombok Tengah

 

Aroma khas kotoran sapi terendus saat memasuki pekaragan rumah Amaq Samat, 50 tahun, di Desa Ubung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah.Tapi baunya tidak anyir. Pekarangan rumah itu tampak bersih. Meski di depan rumah berdiri kandang sapi, tidak ada tumpukan kotoran di sini.

Semua kotoran  dimasukkan Amaq Samat ke dalam digester biogas, persis di sebelah rumahnya.  Tiap pagi ia dan istrinya Mawiati, 50 tahun, mengangkut kotoran dari kandang menuju reaktor biogas berkapasitas 4 meter kubik itu.

Saat wartawan media ini berkunjung pekan lalu, Amaq Samat dengan senang hati menunjukkan cara mengolah kotoran-kotoran itu menjadi sumber engeri ramah lingkungan.

Mawiati yang masih mengenakan pakaian rapi karena baru pulang dari acara kondangan, bergegas masuk kandang. Dengan cekatan perempuan dua anak ini mengumpulkan kotoran dari lima ekor sapi di kandang itu.

Sejurus kemudian Amaq Samat, mengangkut kotoran itu menggunakan gerobak dorong. Jarak digester hanya beberapa meter dari kandang.

Sebelum masuk ke dalam digester, kotoran terlebih dahulu dimasukkan ke dalam inlet atau bak pengaduk. Kotoran yang dicampur air diaduk sampai menjadi bubur. Biasanya disebut slurry biogas.

BIOGAS: Amaq Samat, 50 tahun mengaduk kotoran sapi di bak pengaduk sebelum dimasukkan ke dalam digester biogas, di Desa Ubung, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. (SIRTU/LOMBOK POST )

Setelah itu, slurry biogas dialirkan melalui saluran yang sudah dibuat ke dalam digester. Bak penampung berbentuk kubah ini hampa udara. Fungsi utamanya sebagai reaktor penampung gas metana (CH4) dari kotoran sapi yang diendapkan.

Gas metan yang terkumpul di bagian kubah kemudian dialirkan menjadi energi. Amaq Samat memasang pipa yang disambung sampai ke dapur rumahnya. Bila gas sedang tidak digunakan, saluran pipa bisa ditutup setiap waktu. ”Kalau mau pakai saya buka, kalau tidak saya tinggal tutup,” jelasnya.

Digester berkapasitas 4 meter kubik itu menghasilkan 0,83 meter kubik gas. Amaq Samat bisa memakainya untuk segala keperluan selama empat jam berturut-turut. ”Tapi istri saya biasanya hanya memakai dua jam untuk memasak,” kata Samat.

Terkadang, gas tersebut mereka buang agar bisa memasukkan kotoran sapi lagi. Bahkan, Samat sengaja memasak air dalam volume banyak, selain untuk menghabiskan gas, ia juga bisa mandi air hangat. Baginya itu kemewahan tersendiri. ”Kapan pun mau masak bisa, pokoknya enaklah,” katanya.

Tak heran, keluarga Amaq Samat tidak pernah dipusingkan dengan kelangkaan gas elpiji atau minyak tanah. Selang-selang di atas rumahnya senantiasa mengalirkan energi untuk menghidupkan sumbu dapur. ”Kalau mau dapat gas tinggal masukkan kotoran sapi,” katanya.

Dulu, sebelum memanfaatkan biogas, Samat seperti warga lain kerap dibuat panik karena kelangkan bahan bakar. Selaku kepala keluarga, kini ia lebih tenang. ”Sebelum ke biogas ini kami pakai minyak tanah dan kayu bakar untuk memasak, sekarang tidak lagi,” tuturnya.

Selain mendapat energi melimpah, kebersihan di rumahnya sangat terjaga. Sebelum memanfaatkan biogas kotoran sapi ia tumpuk di belakang kandang. Karena menumpuk di alam terbuka, baunya kadang tidak karuan. ”Sering juga saya buang ke saluran,” tutu Samat.

BISA DIPINDAH-PINDAH: Abdul Indrawan alias Efek, pengelola Lombok Rafting mengambil limbah cair dari biogas portabel, di Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.( SIRTU/LOMBOK POST )

Lima ekor sapi miliknya menghasilkan sekitar 50 kilogram (kg) kotoran setiap hari. Sedangkan reaktor biogasnya hanya mampu mengolah maksimal 30 kg kotoran. Sisanya 20 kg dia simpan untuk besoknya lagi. ”Tidak ada yang terbuang sekarang,” katanya, tersenyum.

Bila terjadi pemadaman listrik, Amaq Samat pun tidak panik. Ia memanfaatkan biogas untuk menyalakan lampu. Meski belum seterang lampu biasa, namun ia tidak susah-susah membeli lilin atau minyak tanah. Energi biogas juga belum bisa dipakai untuk menyalakan barang elektronik.

Di sisi lain, keluarga Amaq Samat juga mendapatkan keutungan secara ekonomi. Limbah biogas dimanfaatkan sebagai pupuk organik dengan kualitas tinggi. Pupuk padat maupun cair sangat laris. ”Kalau ada orang yang mau beli saya jual Rp 10 ribu per 10 kg-nya,” katanya.

Tiap 30 kg kotoran sapi yang diolah, 75 persen keluar dalam bentuk limbah padat dan limbah cair 25 persen. Limbah slurry itu diolah menjadi pupuk organik.

Dalam sebulan, ia rata-rata menghasilkan 1 ton pupuk biogas. Setelah diolah menjadi pupuk, nilainya sangat tinggi. ”Yang beli warga lokal, juga banyak pesanan dari Bali,” katanya.

Para mahasiswa dari Universitas Mataram dan Universitas Muhammadiyah Mataram paling sering datang membeli sekaligus belajar ke tempatnya. ”Mahasiswa dari Malaysia juga pernah datang belajar ke sini sama dosennya,” ujarnya.

Amaq Samat bersyukur bisa memanfaatkan biogas dengan maksimal. Kerja keras dan ketekunannya sejak 2013 membuahkan hasil. Bahkan ia kerap diundang ke luar daerah untuk menceritakan pengalaman memanfaatkan biogas. ”Kalau kita tekun pasti bagus hasilnya, kuncinya di situ. Sekarang tergantung orangnya,” ujar Samat.

Sayangnya, beberapa warga yang mendapatkan bantuan biogas tidak memanfaatkan dengan baik. Karena malas, kurang tekun merawat, digester biogasnya tidak berfungsi. ”Ada yang juga ditinggal untuk kerja jadi TKI di Malaysia,” tuturnya.

Di Desa Ubung terdapat 30 warga yang mendapatkan bantuan pembuatan biogas. Hampir semuanya berfungsi. ”Kalau permintaan pupuk tinggi kadang saya ambil dari warga lain, kami kerja sama,” kata Samat.

Tahun 2013, pembuatan biogas menghabiskan Rp 6,5 juta. Tapi Amaq Samat hanya mengeluarkan uang Rp 1,5 juta, sisanya bantuan subsidi dari Yayasan Rumah Energi Rp 2 juta, dan pemerintah daerah Rp 3 juta.

Dengan pola kerja sama antara pemerintah, lembaga swasta, dan masyarakat pembangunan biogas berjalan masif. Partisipasi masyarakat sangat penting. Dengan partisipasi itu mereka punya rasa memiliki dan tanggungjawab untuk merawat.

Limbah Dapur Pun Jadi

Manfaat biogas juga dirasakan Abdul Indrawan alias Efek, pengelola tempat wisata Lombok Rafting, di Desa Batu Mekar, Kecamatan Lingsar, Lombok Barat.

Selain mengolah kotoran sapi, ia juga memanfaatkan limbah dapur untuk dimasukkan ke dalam digester. Selain mengurangi sampah dapur, juga bisa menghemat pembelian gas elpiji. ”Kita irit jadinya,” katanya.

Limbah biogas tersebut juga bisa dimanfaatkan menjadi pupuk organik. Pupuk tersebut kemudian dipakainya memupuk sayuran-sayuran yang ditanam. Syaur itu juga sering dimasak bagi para tamu yang memesan paket makanan. ”Daripada beli pupuk di toko-toko kan mahal, lebih baik pakai ini dan lebih sehat,” ujarnya.

Berbeda dengan reaktor digester Amaq Samat, biogas milik Abdul Indrawan merupakan digester portabel. Reaktor biogas itu bisa dipindah-pindah. Hal itu memudahkan pelaku usaha seperti dirinya. ”Kalau kami pindah biogas ini ikut kami pindah,” katanya.

Meski tidak memiliki sapi, ia tertarik dengan konsep biogas karena ramah lingkungan dan manfaatnya banyak sekali.

Hal itu pula yang membuat Hj Ummi Ningsih, warga Desa Narmada, Kecamatan Narmada, Lombok Barat tertarik memanfaatkan energi terbarukan dari biogas. Sejak 2013, ia membangun reaktor biogas di pekarangan rumahnya.

Manfaat yang didapatkan pun sangat banyak, terutama untuk memasak. Bila dibandingkan dengan gas elpiji, menurutnya lebih hemat menggunakan biogas. Selain itu, dia juga mendapatkan pupuk untuk tanaman di rumahnya. ”Limbah padatnya juga saya manfaatkan sebagai bahan campuran pakan ikan,” jelasnya.

Meski tidak memiliki kandang sapi, ia justru tertarik membuat biogas. Ia prihatin kotoran sapi tetangganya disia-siakan. Banyak yang membuang ke kali. ”Sayang sekali. Sebenaranya kaya dengan potensi kita ini, cuma tersia-siakan,” ujar pensiunan guru Bahasa Inggris tersebut.

Karena konsisten mengembangkan energi ramah lingkungan, termasuk pengolahan sampah, Hj Ummi kini kerap dikunjungi mahasiswa untuk belajar, termasuk tamu-tamu dari luar negeri yang tertarik.

LAMPU BIOGAS: Sahraun, warga Desa Bonjeruk, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah menunjukkan lampu biogas miliknya.(SIRTU/LOMBOK POS)

 

Butuh Partisipasi Warga

Biogas milik Amaq Samat, Lombok Rafting, dan Hj Ummi masuk dalam program Biru yang didampingi Yayasan Rumah Energi. Kerja sama pembangunan tetap melibatkan tiga pihak, yakni pemerintah, Rumah Energi, dan masyarakat. Tujuannya agar pemeliharaan biogas bisa berkelanjutan.

”Akan menjadi dilema bila setelah dibangun tidak mereka kerjakan. Itu jadi alasan kita kenapa masyarakat harus terlihat,” kata Umar, koordinator Yayasan Rumah Energi NTB.

Dalam bantuan pembangunan biogas di NTB, Hivos melalui Yayasan Rumah Energi memberikan beberapa syarat bagi calon penerima. Antara lain siap berkontribusi, bersedia merawat, memelihara, dan memanfaatkan biogas.

Kemudian punya lahan pribadi untuk membangun biogas minimal 3×7 meter, dan paling utama memiliki sapi. ”Ini yang disepakati antara pemerintah, masyarakat, dan kita,” katanya.

Dalam penyaluran bantuan, masing-masing pihak membelanjakan anggaran untuk komponen yang berbeda, sehingga ketika dibangun bisa jadi satu reaktor biogas. Pemerintah mengelola anggaran mereka sendiri, Hivos juga membelanjakan dananya sendiri, demikian pula uang kontribusi dari warga.

”Jadi dananya tidak digabungkan. Pemda beli barang apa saja, masyarakat barang apa saja, setelah itu pengelolaan keuangan diatur sendiri-sendiri,” jelasnya.

Pola kerja sama itu dilakukan Hivos bersama pemprov dari tahun 2012 sampai 2014. Sebelumnya, pembangunan dilakukan secara swadaya. Tapi karena perkembangannya agak lambat, mereka mendorong agar pembangunan lebih masif. ”Sehingga kami bersama Dinas ESDM mendorong pola kerja sama tiga pihak itu,” terangnya.

Pola itu berlangsung selama tiga tahun dan cukup berhasil. Tahun pertama dibangun 1.000 unit, kemudian 2013 dibangun 900-an unit, dan 2014 sebanyak 403 unit. ”Kala itu NTB menjadi cotoh nasional bagaimana kerja sama pemda dengan swasta,” katanya.

Program biogas rumah (Biru) Hivos di NTB dimulai sejak Juli 2010 sampai saat ini. Namun sejak 2013, program Biru dilaksanakan institusi lokal bernama Yayasan Rumah Energi. Sementara Hivos dan SNV sebagai support teknis. ”Awal pengenalan ke masyarakat sangat sulit,” tutur Umar.

Susah Payah Yakinkan Pemda

Kala itu, tahun 2010, proyek percontohan biogas dibangun di Desa Pujut, Lombok Tengah. Semua biaya pembangunan didanai Hivos. Seiring berjalannya waktu, dengan dukungan pemerintah daerah dan masyarakat, program Biru sudah membangun 5.215 unit reaktor biogas, tersebar di seluruh NTB.

Kabupaten Lombok Tengah dan Lombok Utara menjadi dua daerah yang paling responsif membangun biogas. Dalam pembangunannya, Yayasan Rumah Energi menggandeng mitra dengan standar pembangunan yang baik. ”Kami membangun harus sampai menyala,” katanya.

Di awal-awal, pemerintah kabupaten/kota di NTB takut bekerja sama dengan Yayasan Rumah Energi. Meski Kementerian ESDM mengalokasikan DAK fisik untuk biogas, pemda tidak berani mengeksekusi karena takut salah langkah. ”Akhirnya dana DAK tersebut banyak yang ditarik pusat,” katanya.

Pemda, kata Umar, waktu itu tidak berani melaksanakan program karena takut dengan aturan keuangan. Hanya pemda KLU yang berani membangun pola kerja sama tiga pihak. Bahkan, sebelum gempa 2018, KLU menjadi contoh di Indonesia. ”Banyak daerah lain belajar ke sana,” katanya.

Untungnya, dukungan penuh diberikan Pemprov NTB. Kala itu, program Biru sejalan dengan program bumi sejuta sapi (BSS) yang sedang digalakkan NTB. ”Potensi sapi yang banyak itu dimanfaatkan untuk energi rumahan, sehingga setiap tahun dianggarkan oleh provinsi,” katanya.

Pun demikian, pembangunan energi terbarukan yang ramah lingkungan ini bukan tanpa hambatan dan tantangan.

Umar mengakui, dari semua reaktor biogas yang dibangun ada saja yang tidak berfungsi. Tapi bukan karena alat yang tidak bagus, masalahnya ada di tingkat warga. ”Ada pemilik rumah yang sudah pindah dan biogasnya tidak dilanjutkan,” katanya.

Ada pula yang ternaknya dijual dan mereka memilih bekerja sebagai buruh migran di luar negeri. Akhirnya biogasnya terbengkalai. Bahkan ada pula karena konflik tanah warisan, sehingga lokasi reaktor biogas tidak bisa mereka kelola lagi. ”Banyak kendala di luar teknis,” katanya.

Pemeliharaan dan perawatan yang kurang baik juga menjadi salah satu penyebab biogas tidak berfungsi. ”Agar tahan puluhan tahun harus rajin merawat, kami siap membantu kalau ada kendala teknis,” ujar Umar.

Tantangannya, masih sedikit warga yang mau membangun sendiri secara swadaya. Itu karena keterbatasan biaya masyarakat dan belum ada lembaga keuangan yang tertarik memberikan kredit untuk membangun reaktor.

Saat ini, biaya untuk membangun reaktor biogas rata-rata Rp 8,5 juta. Itu sudah termasuk kebutuhan semen, pasir, batu bata, kerikil, dan ongkos tukang. Ia berharap ada lembaga keuangan yang memberikan pinjaman lunak kepada warga untuk membangun biogas.

Hasil survei kepuasan pengguna biogas yang dilakukan Rumah Energi menunjukkan, 95 persen warga pengguna biogas di NTB merasa puas. ”Hanya lima persen yang kurang puas, itu yang tidak berfugsi tadi,” jelasnya.

Ia berharap pemanfaatan biogas di NTB dan Indonesia semakin banyak. Dengan cara itu, manusia bisa mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil yang bersumber dari alam seperti batu bara, minyak bumi, dan gas alam.

Potensi yang besar, kata Umar, harus dimaksimalkan. Sehingga warga mendapatkan energi yang murah dan ramah lingkungan.

Kontribusi Masih Minim

Secara umum, pemanfaatan biogas di NTB masih sangat minim. Kontribusinya kurang dari 1 persen dari target 23 persen penggunaan energi terbarukan tahun 2025. Sumbangan energi terbarukan sebagian besar dari pembangkit listrik sebesar 11 persen.

Pembangkit listrik yang memanfaatkan energi terbarukan di NTB kapasitasnya mencapai 41 MW. Terdiri dari Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) dengan kapasitas 15 MW, Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 20 MW, kemudian pembangkit-pembangkit yang tidak terhubung langsung dengan jaringan PLN sekitar 6 MW.

Kepala Seksi Energi Terbarukan, Dinas ESDM NTB Niken Arumdati menjelaskan, biogas merupakan salah satu bentuk energi terbarukan. Pengembangannya dilakukan sebelum 2012, hanya saja saat itu baru sebatas proyek percontohan.  ”Belum masif pembangunannya,” jelas Niken.

Pembangunan dalam jumlah banyak dilakukan sejak 2012, pemprov bekerja sama dengan Hivos. ”Kita kerja sama sharing pendanaan,” katanya.

Masyarakat dilibatkan, namun tidak semua dalam bentuk uang. Mereka yang bisa jadi tukang bisa berpartisipasi dalam bentuk tenaga. ”Ongkos tukang itulah yang dihitung menjadi sumbangsih warga,” jelasnya.

Tapi sejak 2015, skema pembiayaan ditanggung pemprov. Setelah diserahkan ke warga, baru Hivos melalui Yayasan Rumah Energi memberikan pendampingan dan pelatihan. ”Juga layanan purna jual berupa gransi tiga tahun untuk bangunan sipil dan satu tahun untuk kompor,” katanya.

Potensi pemanfaatan biogas di NTB sangat besar. Dengan jumlah sapi 1.095.719 ekor, potensi kotoran sapi yang dihasilkan mencapai 16.435.785 kg per hari. Potensi biogasnya mencapai 591.688 meter kubik per hari.

Kemudian populasi kebaru 125.122 ekor, potensi kotoran yang dihasilkan 1.876.830 kg per hari dengan potensi gas 67.566 meter kubik per hari. Jika potensi itu dimanfaatkan secara optimal, ketergantungan pada bahan bakar fosil akan berkurang.

Jumlah reaktor biogas di NTB sampai 2020 mencapai 6.129 unit. Baik yang dibangun bersama Hivos maupun murni pendanaan pemerintah. ”Tidak semua berfungsi juga karena kebanyakan malas mengisi,” ungkapnya.

Sebab itu, pemerintah tetap menggandeng Rumah Energi yang melakukan pembinaan dan edukasi kepada masyarakat. Kemampuan pemerintah sendiri masih terbatas untuk pembinaan.

Pembangunan biogas, kata Niken, masih minim karena masyarakat masih sangat bergantung pada dana pemerintah. Di sisi lain, kemampuan fiskal daerah sangat terbatas. ”Anggaran pemerintah tidak tetap,” katanya.

Tahun ini, pemprov hanya mampu membangun 44 unit reaktor biogas di Lombok Tengah dan Lombok Timur. Bahkan tahun lalu hanya untuk dua unit biogas. ”Saya tidak tahu tahun depan dengan kapasitas fiskal seperti sekarang (masa pandemi) kita dapat berapa?” katanya.

Pemprov baru bisa membangun biogas lebih banyak jika mendapat dana alokasi khusus (DAK).

Meski demikian pemprov, kata Niken, berkomitmen kuat mengembangkan biogas untuk mengurangi efek rumah kaca. Sebab satu reaktor biogas bisa mengurangi 2,6 ton CO2 per tahun. ”Sangat ramah lingkungan dan punya efek ekonomi juga,” katanya.

Peningkatan CO2 merupakan potensi gas efek rumah kaca yang bisa mengakibatkan suhu panas di bumi. Meningkatnya CO2 di atmosfer dapat menyebabkan pemanasan global yang berdampak pada iklim yang tidak stabil. Pada akhirnya bisa menyebabkan bencana alam. []

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Simulasi KBM Tatap Muka SMA Sederajat di NTB Pekan Kedua Dimulai

Simulasi KBM tatap muka untuk SMA sederajat di NTB memasuki pekan kedua. ”Sambil kami tetap memantau perkembangan penyebaran Pandemi Virus Korona,” kata Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan, pada Lombok Post, Minggu (20/9/2020).  

Mendikbud Pastikan Wacana Penghapusan Mapel Sejarah Hoaks

”Tidak ada sama sekali kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” tegas dia.

HARUM Goda Pemilih Millenial Lewat Lomba Film Pendek dan E-Sport

Bakal Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mencoba menggoda pemilih milenial. Caranya, dengan menggelar film pendek dan e-sport. "Orang yang menggeluti dunia film tidak banyak. Bagi sebagian orang ini ekslusif. Prosesnya panjang," kata Mohan Sabtu malam (19/9) lalu.

Cerita Shaina Babheer saat Memerankan Sosok Kikin dalam film MOHAN

Shaina Azizah Putri dipilih untuk memerankan sosok Kikin Roliskana dalam film pendek berjudul "Mohan". Ini menjadi tantangan baru bagi dara yang sudah membintangi beberapa sinetron dan FTV nasional ini.

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.
Enable Notifications    Ok No thanks