alexametrics
Jumat, 10 Juli 2020
Jumat, 10 Juli 2020

Ditolak Polres Loteng, Mahsun Ingin Laporkan Ibu Kandung ke Polda NTB

Langkah Mahsun yang ingin mempolisikan ibunya Kalsum tidak berhenti di Polres Lombok Tengah. Pria asal Dusun Berobot Desa Ranggagata, Kecamatan Praya Barat tersebut berencana mendatangi Polda NTB.

 

——————————–

 

“Sikap saya ini, bukan berarti ingin memenjarakan ibu saya,” kilah pria kelahiran Ranggagata 10 Desember 1973 tersebut saat ditemui Lombok Post dikediamannya.

Dia berharap, ibunya diberikan pelajaran dan diingatkan oleh polisi. Sehingga, jalan terakhir akan mendatangi Polda NTB. Rencananya akan berkonsultasi, sekaligus meminta tolong ke Polda NTB. Bila perlu bertemu langsung dengan kapolda NTB. “Saya ingin, ibu saya kembali ke rumah, sekaligus membawa motor,” ujarnya.

BACA JUGA : Anak Pidanakan Ibu Kandung, Polres Loteng : Laporan Kami Tolak!

Dia tidak terima, motor jenis Honda BeAT dengan nomor polisi DR 6791 CD,  itu dibawa pergi oleh ibunya. Menurut Mahsun, seharusnya, motor itu diberikan dirinya. Bukan digunakan oleh saudara-saudara kandung dari ibunya. Apalagi, motor yang dimaksud sepertinya jarang dirawat.

Mahsun sendiri merupakan anak tunggal dari Kalsum dan almarhum suaminya Madahan. Motor dibeli sejak akhir 2018 lalu itu setelah tanah warisan dari almarhum suami dijual. Luasnya mencapai 40 are, dijual Rp 6 juta per are atau setara Rp 240 juta. Dari jumlah itu, Rp 15 juta diberikan ke ibunya. “Bersama saya beli motor itu Rp 11 juta,” cerita bapak tiga anak tersebut.

Sisa uangnya, ditabung di bank, membeli pekarangan rumah, sawah, kebun dan membangun rumah untuk ibunya. Lokasinya, berdekatan dengan rumahnya sendiri.

Awalnya, keluarga mereka cukup harmonis. Namun, karena sering terjadi ketegangan antara ibunya dan istri, akhirnya sang ibu  memilih mengalah.

Perempuan kelahiran 31 Desember 1959 itu, mengalah dan pergi dari rumah April lalu. Ia membawa motor tersebut ke rumah keluarganya di Dusun Buntage Desa Giri Sasak, Kecamatan Kuripan, Lombok Barat. Inilah yang membuat Mahsun kesal. Tidak terima dengan hal itu, Mahsun melaporkan ibunya atas dugaan penggelapan kendaraan bermotor ke Polsek Praya Barat Daya. Namun laporannya ditolak.

Persoalan itu juga, sempat dimediasi oleh Pemdes Ranggagata, maupun Pemdes Giri Sasak. Namun, tidak ada titik temu. Puncaknya, keluarga dipertemukan di halaman Polres Loteng, Sabtu (27/6). “Menurut saya tidak ada titik temu. Karena apa yang saya inginkan, tidak terpenuhi,” sesalnya.

Sementara itu, Kalsum merasa kecewa atas sikap anak kesayangannya. Seharusnya, hal itu tidak dilakukan. “Ini namanya anak durhaka. Lihat saja balasan dari Allah SWT, tunggu saja,” tegasnya didampingi adiknya Amaq Ramli dan Kepala Dusun (Kadus) Buntage Asrul Asmanulhakim.

 

Dia menceritakan, sejak dalam kandungan hingga masa balita dan tumbuh dewasa, anak kesayangannya itu luar biasa diperhatikan. Mau apa saja dituruti. Apalagi, dia anak satu-satunya. Begitu punya istri yang ketiga, sikapnya berubah. Berani melawan orang tua.

“Awalnya saya hanya bisa bersabar dan berdoa. Tapi, lama-lama saya tidak tahan, saya pilih tinggal di rumah saudara saya sendiri,” cerita Kalsum.

 

Soal rencana dilaporkan ke Polda NTB, ibu 61 tahun tersebut yakin dan percaya, Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dia siap menjalani sisa-sisa hidupnya dengan ujian dan cobaan yang datang langsung dari anaknya sendiri. “Benar-benar anak durhaka,” tegasnya lagi. (DSS/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Mataram Bisa Tiru Depok, Tak Pakai Masker Denda Rp 200 Ribu

Pemkot Mataram merespons kritikan Wakil Gubernur NTB. Kemarin, tim gabungan yang terdiri dari Satpol PP, TNI, dan Polri melakukan penertiban di pagi buta. Sasarannya, para pedagang di Pasar Kebon Roek, Ampenan.

Kuliah ke Luar Daerah, Warga Mataram Harus Bebas Korona

Warga Kota Mataram yang kuliah di luar daerah cukup banyak. Kemarin kata dia, sekitar 50 mahasiswa mengajukan permintaan melakukan rapid test. Dari jumlah tersebut tidak ada yang hasilnya reaktif.

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Di Kediri Lobar, Ibu Rumah Tangga Diduga Jual Narkoba

WM, 28 tahun, warga asal Kediri Selatan ditangkap Satres Narkoba Polres Lobar. Ia bersama kedua rekannya MA dan MU diduga menjadi penjual dan penyalahguna narkotika jenis sabu. Bahkan, WM alias Dewi ini diketahui sebagai penjual obat penenang tanpa izin pihak instansi kesehatan.

Pariwisata Lesu, Pengusaha Travel Lombok Bertahan lewat Promo

Agen travel perjalanan wisata terus berupaya bertahan dalam ketidakpastian Pandemi Korona. Sektor ini menjadi salah satu yang paling terdampak akibat turunnya kunjungan wisatawan. ”Kami upayakan tetap bangkit seiring dengan penerapan new normal yang sedang digaungkan,” kata Kukuh Laro, pemilik Duta Lombok Transport.

Berdayakan UMKM Lokal, Bappeda NTB Tunggu Pergub

Pergub Pemberdayaan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) hingga kini belum rampung. Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) NTB masih menunggu kelanjutan masukan dan revisi dari gubernur. ”Sampai hari ini (kemarin,Red) kita belum terima. Jika sudah ada, akan langsung kita jadikan landasan dalam memberdayakan UKM/IKM,” kata Kepala Bappeda NTB Amry Rakhman, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (9/7/2020).

Paling Sering Dibaca

Jika Masih Tak Patuh, Seluruh Pasar di Mataram Bakal Ditutup Paksa

akil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah mengancam akan menutup pasar yang mengabaikan protokol kesehatan. Ancaman tersebut disampaikan Wagub saat menggelar inspeksi mendadak di Pasar Mandalika, kemarin (8/7). Dia mendapati langsung banyak pedagang dan pembeli tidak mengenakan masker.

Zona Merah Korona, Wagub NTB : Mana Pol PP Mataram, Kenapa Sembunyi?

Pemkot Mataram dinilai lemah dalam merespon dan menangani Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun begitu geregetan. Meski zona merah dengan kasus positif dan kematian tiap hari, penerapan protokol kesehatan di ibu kota justru sangat longgar. Tak lagi ada pengawasan macam sedang tidak terjadi apa-apa.

Istri Model Suami Youtuber, Bantah Cari Sensasi “Mahar Sandal Jepit”

Pernikahan dengan mahar sandal jepit Iwan Firman Wahyudi dan Helmi Susanti bukan bermaksud mencari  sensasi di media sosial. Menurut mereka ikatan mereka tulus beralas kasih sayang.

Pilbup Loteng, Lale Prayatni Mulai Goyang Posisi Pathul Bahri

Lobi politik tersaji di DPP Partai Gerindra. Dari informasi yang dihimpun Lombok Post, diam-diam SK Gerindra dibidik Prayatni melalui ‘lorong’ Wakil Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra Hashim Djojohadikusumo.

Turun dari Rinjani, Warga Lombok Tengah Tewas Jatuh ke Jurang

Pendakian di Gunung Rinjani kembali memakan korban jiwa. Sahli, 36 tahun, warga Desa Tampak Siring, Lombok Tengah meninggal setelah terjatuh ke jurang di kawasan Gunung Rinjani, Senin (6/7).
Enable Notifications.    Ok No thanks