LombokPost-Belasan anak di bawah umur yang membawa senjata tajam (sajam) serta terlibat dalam aktivitas ilegal seperti judi bola, panco, dan balap liar diamankan tim gabungan.
Operasi ini telah digelar selama dua malam berturut-turut dan menyasar seluruh wilayah kecamatan Ampenan.
Camat Ampenan, Muzakir Walad, mengungkapkan bahwa operasi ini dilakukan sebagai bagian dari upaya menjaga keamanan dan ketertiban, terutama menjelang bulan Ramadan. “Sesuai dengan arahan pak wali,” tegasnya, Minggu (9/3).
Operasi ini melibatkan personel gabungan bersama personel tiga pilar, linmas, kepala lingkungan, serta pihak terkait lainnya. “Tim dibagi menjadi dua regu dan menyisir berbagai titik rawan dari kawasan Kebon Roek hingga pantai Ampenan,” terangnya.
Dalam operasi yang digelar pada malam Sabtu hingga Minggu dini hari itu tersebut, petugas menemukan banyak pelanggaran, termasuk aksi balap liar, perjudian, serta kepemilikan sajam oleh anak-anak di bawah umur.
Anak SD Kedapatan Bawa Celurit
Salah satu temuan yang mengejutkan dalam operasi ini adalah seorang anak SD kelas 5 yang kedapatan membawa celurit berkarat di bawah jok motornya.
“Saat kami periksa, anak itu masih usia sekolah, kelas 5 SD. Saya tanya, ‘Untuk apa membawa ini?’ dan dia menjawab, ‘Untuk gaya-gayaan’, saya tidak habis pikir,” tuturnya.
Selain itu, anak-anak yang diamankan juga memiliki grup WhatsApp khusus yang digunakan untuk mengorganisir kegiatan ilegal seperti judi bola, panco, dan balap liar.
“Di dalam grup itu, mereka punya jadwal dan titik kumpul. Seperti ada event organizer (EO)-nya sendiri,” terangnya.
Di dalam grup itu, mereka berkomunikasi untuk menentukan lokasi balap atau taruhan. “Lalu datang ramai-ramai ke sana,” jelasnya.
Petugas Dihadang dan Diolok-Olok
Saat melakukan operasi, petugas juga menghadapi perlawanan dari anak-anak tersebut.
Mereka menunjukkan sikap tidak kooperatif, bahkan mengolok-olok petugas.
Saat petugas mencoba menangkap, ada yang justru menantang dan mencoba melarikan diri.
“Beberapa di antara mereka bahkan hampir menabrak petugas dengan motor,” ungkap Muzakir.
Meski begitu, hasil pemeriksaan sementara tidak menemukan indikasi anak-anak tersebut berada di bawah pengaruh minuman keras atau narkoba.
“Dari yang kami identifikasi, mereka lebih terdorong oleh euforia dan pengaruh lingkungan. Anak-anak ini merasa keren dengan membawa sajam atau terlibat dalam aktivitas berbahaya,” tambahnya.
Anak-anak dari Luar Kota Mataram
Dalam operasi ini, petugas juga menemukan bahwa banyak di antara mereka berasal dari luar Kecamatan Ampenan, bahkan dari luar Kota Mataram.
“Ada anak-anak dari Getap, Turide, dan Bagek Kembar. Bahkan, malam sebelumnya kami amankan seseorang dari Selong Belanak (Loteng) yang membawa benda tajam,” kata Muzakir.
Total 11 anak diamankan dalam operasi ini, terdiri dari tiga orang yang membawa sajam, rnam orang yang terlibat dalam perjudian, dan dua orang dalam balap liar.
Para orang tua mereka telah dipanggil untuk diberikan peringatan dan pembinaan. “Kami ingatkan para orang tua agar lebih mengawasi anak-anaknya, terutama saat malam hari,” katanya.
Ia juga meminta pedagang untuk lebih peduli jika melihat ada aktivitas perjudian di sekitar tempat mereka berjualan.
Sebagai langkah antisipasi, pihak Kecamatan Ampenan akan terus meningkatkan intensitas operasi ini, terutama selama bulan Ramadan, agar masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan nyaman dan aman.
“Kami akan terus melakukan patroli dari tengah malam hingga sahur. Ini demi keamanan bersama dan menciptakan suasana Ramadan yang kondusif,” pungkasnya. (zad)
Editor : Jelo Sangaji