LombokPost-Dinas Pendidikan Kota Mataram mengambil langkah tegas terhadap pelajar yang terlibat balap liar. Sanksi skorsing diberikan sebagai efek jera, sementara pendekatan edukatif terus dilakukan.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Mataram Yusuf mengaku prihatin dengan fenomena balap liar yang melibatkan pelajar di bawah umur. "Kami sangat prihatin dengan maraknya balap liar yang melibatkan pelajar. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak, sehingga kami merasa perlu mengambil tindakan tegas," kata Yusuf.
Ia menjelaskan, sekolah telah memberikan sanksi skorsing kepada pelajar yang terbukti terlibat balap liar. Skorsing ini menjadi langkah awal untuk memberi efek jera. Namun, ia belum menerima laporan rinci terkait jumlah siswa yang disanksi.
"Kami berharap, dengan adanya sanksi ini, para pelajar dapat menyadari kesalahan mereka dan tidak mengulanginya lagi," tegasnya.
Meski demikian, Yusuf menekankan bahwa skorsing bukan satu-satunya solusi. Dinas Pendidikan juga melakukan pendekatan edukatif untuk membangun kesadaran pelajar.
"Kami tidak hanya ingin memberikan hukuman, tetapi juga pemahaman tentang bahaya balap liar. Kami ingin mereka sadar bahwa perilaku ini tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga orang lain," jelasnya.
Pendekatan edukatif dilakukan melalui sosialisasi di sekolah, pelibatan orang tua dalam pembinaan, serta penyuluhan dari kepolisian mengenai bahaya balap liar.
"Ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan sanksi. Harus ada kerja sama dari semua pihak, termasuk sekolah, orang tua, dan masyarakat, untuk mengatasi masalah ini secara menyeluruh," ujarnya.
Sementara itu, Dinas Pendidikan juga mengimbau sekolah-sekolah menyiapkan bahan belajar bagi siswa yang akan menjalani libur Idul Fitri 1446 Hijriah/2025 Masehi. Hal ini untuk memastikan siswa tetap belajar secara mandiri di rumah.
"Libur sekolah dimulai 21 Maret 2025. Kami mengimbau sekolah segera menyiapkan bahan belajar agar siswa tetap memiliki kegiatan positif selama liburan," katanya.
Yusuf juga mengingatkan orang tua untuk mengawasi anak-anak mereka selama libur sekolah, termasuk memastikan mereka sudah di rumah pada pukul 22.00 Wita.
"Kami berharap orang tua aktif mengawasi anak-anak agar tidak melakukan hal-hal negatif yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain," ujarnya.
Selama Ramadan, siswa juga diberikan buku kegiatan berisi berbagai aktivitas positif, seperti berbuka puasa bersama keluarga, salat tarawih, tadarus, dan sahur.
"Para siswa dapat mengisi waktu mereka dengan kegiatan yang bermanfaat selama bulan suci ini," tandasnya. (chi/r7)
Editor : Jelo Sangaji