Dapur ini bukan sekadar tempat memasak.
Ia telah menjadi tulang punggung kemanusiaan sejak awal Juni lalu.
DI TENGAH keramaian para relawan dan bau minyak goreng yang menggantung di udara, sesosok pria tua terbaring diam di atas tikar plastik beralas terpal biru.
Di sekitarnya, belasan bungkus makanan siap saji tersusun dalam kantong merah dan hijau.
Itulah pemandangan harian yang kini menjadi “normal” di dapur umum darurat yang berdiri di halaman Pendopo Wali Kota Mataram.
Masa darurat telah ditetapkan selama 14 hari, tapi tak seorang pun yakin kapan dapur ini akan benar-benar berhenti beroperasi.
“Sehari harus masak untuk sekitar 6.000 nasi bungkus. (Masing-masing siang 3.000 nasi bungkus, malam 3.000 nasi bungkus,” kata Kepala Dapur Umum Dinas Sosial Kota Mataram Siri Aisyah, Rabu (9/7).
Perempuan itu menghela nahas panjang saat ditanya bagaimana rasanya memimpin operasi darurat semacam ini.
“Kami sebenarnya belum sempat istirahat,” ujarnya lirih.
Sebelum banjir datang, tim ini sudah sebulan penuh mendirikan dapur umum untuk membantu warga di pengungsian Pondok Perasi, korban penggusuran akibat sengketa lahan.
“Baru saja dapur di Bintaro ditutup, kami harus pindah ke sini,” tuturnya.
Salah satu anggota tim mengamini, sambil mengaduk wajan besar berisi ayam goreng dalam minyak mendidih.
Wajahnya terlihat lelah, tapi tangannya tetap sigap.
“Tenaga kami memang agak drop. Tapi ini darurat. Nggak bisa santai,” imbuhnya.
Setiap hari, dapur umum ini menyiapkan sekitar 6.000 porsi makanan, dibagi rata antara siang dan malam.
Jumlah itu bukan sekadar angka.
Itu adalah nasi yang dibungkus untuk warga yang rumahnya masih terendam lumpur, untuk para ibu yang tak sempat masak karena sibuk membersihkan rumah.
Juga bagi anak-anak yang hanya bisa menangis karena lapar.
Distribusi mencakup enam kecamatan terdampak: Ampenan, Mataram, Cakranegara, Sandubaya, Sekarbela, dan Selaparang.
Dengan personel yang terbatas, tim ini bekerja nyaris tanpa henti.
Wajah lelah tak hanya tergambar dari juru masak.
Relawan yang mendistribusikan langsung ke posko-posko dan titik kumpul pengungsi juga terlihat letih.
Setiap hari membawa ratusan bungkus makanan ke gang-gang sempit yang tak bisa dijangkau mobil logistik besar bukan pekerjaan gampang.
“Tapi alhamdulillah teman-teman tetap semangat, karena kami yakin ini bernilai amal ibadah,” ucapnya kemudian.
Yang membuat dapur ini bertahan bukanlah fasilitas lengkap atau tenaga profesional. Melainkan niat dan solidaritas.
Dapur ini sebagian besar disokong relawan, sebagian lagi oleh logistik dari Dinas Sosial dan bantuan masyarakat.
“Kita olah semua, yang penting bergizi dan cukup,” ucapnya.
Di sisi lain dua pria berseragam TAGANA terlihat tengah mengaduk masakan besar dalam wajan industri.
Di belakang mereka, truk-truk dapur lapangan berjejer dengan tabung gas dan kompor besar menyala.
Ketika malam turun dan suara penggorengan mereda, satu-dua relawan akan tertidur di tikar.
Kaki yang ditekuk, tubuh yang menggigil di cuaca yang akhir-akhir ini terasa lebih dingin.
Di sekelilingnya, kantong-kantong logistik tersusun rapi.
Mereka tidur seadanya, dengan bantal dari tas ransel dan selimut dari jaket.
Tak ada yang mengeluh. Mereka tahu, istirahat bisa ditunda. Tapi lapar warga tak bisa.
Belum jelas kapan masa darurat akan berakhir.
Tapi satu hal yang pasti, dapur umum ini akan terus hidup selama warga Mataram masih butuh makan di tengah situasi darurat.
“Selama belum ada evaluasi resmi, dan masyarakat masih belum bisa kembali hidup normal, kita tetap masak,” kata Aisyah. (LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram/r9)
Editor : Kimda Farida