LombokPost – Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXI Kota Mataram tak hanya menghadirkan lantunan ayat suci. Gelaran ini berubah menjadi pesta rakyat, di mana suasana religius berpadu dengan riuh kehidupan warga.
Lampu-lampu sorot menyoroti panggung, sementara tilawah menggema ke seluruh penjuru lapangan. Namun di sisi lain, deretan pedagang kaki lima menggeliat, menjajakan jagung bakar, sate, hingga gulali.
“Anak-anak senang sekali, bisa lari-larian sambil dengar tilawah,” kata Dian, ibu rumah tangga asal Pagutan, yang selalu datang lebih awal bersama anaknya.
Asap sate, harum jagung, dan manis gulali menjadi warna tersendiri. MTQ seakan menghadirkan kombinasi unik: pesta kuliner rakyat dengan nuansa Qurani.
Di tengah keramaian, anak-anak berlarian mengejar balon. Orang tua mereka tetap khusyuk mendengarkan lantunan qari, menciptakan harmoni antara hiburan dan spiritualitas.
Bagi pedagang, MTQ membawa berkah. Dagangan mereka laris manis setiap malam. Ekonomi rakyat kecil ikut bergerak mengikuti ramainya pengunjung.
Tak heran jika pemerintah menempatkan MTQ sebagai magnet wisata religi. “Ini potensi wisata, MTQ kita jadikan agenda yang hidup dan membanggakan,” tegas Cahya Samudra.
MTQ bukan sekadar kompetisi tilawah, tetapi juga ruang ekonomi yang nyata. Setiap sudut lapangan menjadi saksi interaksi warga, dari urusan rohani hingga kebutuhan perut.
Keramaian diyakini akan memuncak pada malam penutupan. Final tilawah diperkirakan menyedot lebih banyak pengunjung dari berbagai penjuru kota.
Dengan wajah penuh senyum, warga menyebut MTQ sebagai pesta yang mengikat batin. Sebuah pesta rakyat yang religius sekaligus menyejahterakan.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin