LombokPost – Kota Mataram mencatatkan prestasi positif dalam penurunan stunting. Berdasarkan data terbaru Oktober 2025, prevalensi stunting di ibu kota Provinsi NTB ini hanya tersisa 5,8 persen.
Angka tersebut jauh menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya yang pernah mencapai 3.700 balita stunting. Kini jumlahnya tersisa sekitar 1.200–1.500 anak.
“Untuk di Kota Mataram ini sekarang sudah tercapai angka kita di 5,8 persen ya, angka stunting kita,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Mataram dr. Emirald Isfihan, Selasa (2/12).
Data Oktober menunjukkan angka pasti 5,84. “Jadi data ini bertanggal bulan Oktober kemarin kita tarik data ini," imbuhnya.
Pihaknya optimistis angka tersebut akan semakin turun pada penimbangan Desember 2025. “Semoga nanti bisa lebih turun lagi," harapnya.
Keberhasilan ini tak lepas dari kolaborasi lintas sektor sejak 2023, jauh sebelum pemerintah pusat meluncurkan gerakan serupa secara nasional. “Nasional belum membuat gerakan orang tua asuh, kita sudah membuat gerakannya," terangnya.
Berbagai pihak dilibatkan, mulai Bursa Efek Indonesia, OJK, organisasi profesi, notaris, hingga pengusaha. “Kemudian kita libatkan juga organisasi profesi ID, notaris, pengusaha juga kita libatkan," ucapnya.
Peran organisasi perempuan juga sangat besar. “Jadi banyak sekali organisasi perempuan yang sebenarnya bisa terlibat dalam menangani atau turut serta membantu penanganan stunting ini," ucapnya.
Pola pembagian tugas OPD pengampu per wilayah terbukti efektif. “Dengan adanya pembagian OPD per wilayah itu juga sangat efektif ya," ucapnya.
Hasilnya, dari yang dulu mencapai 3.000–3.700 balita stunting, kini tersisa 1.200-an saja. “Dulu kan dari angka 3.000 bahkan 3.700 saat itu, sekarang sudah menjadi 1.200-an," pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin