LombokPost – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Mataram berada dalam posisi sulit. Di tengah tingginya risiko bencana yang kompleks di Ibu Kota NTB, BPBD justru menghadapi potensi pemangkasan anggaran operasional untuk tahun 2026 akibat defisit anggaran daerah. Kondisi ini memaksa BPBD harus memutar otak agar program mitigasi dan kesiapsiagaan bencana tetap berjalan efektif.
“Pemotongan anggaran ini adalah suatu keniscayaan dengan situasi seperti ini. Di sanalah kami bersiasat tanpa mengurangi esensinya,” ujar Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Mataram, Moh. Yusuf.
Yusuf mengungkapkan bahwa alokasi dana untuk program BPBD di tahun 2025 adalah sekitar Rp 300 juta. Jumlah ini diperkirakan akan menurun drastis pada tahun 2026. Padahal, kebutuhan penanganan bencana di Mataram sangat mendesak mengingat kota ini memiliki karakter wilayah dengan risiko bencana yang beragam dan tinggi.
Untuk menyiasati keterbatasan dana, BPBD terpaksa mengurangi jumlah peserta dalam program pelatihan, seperti Desa Tangguh Bencana (Destana).
“Misalnya saat pelatihan Destana biasanya 30 peserta, hanya kami undang setengahnya. Namun 12 tahapannya tetap kami jelaskan lengkap,” jelas Yusuf.
BPBD Mataram menargetkan pelaksanaan simulasi mitigasi bencana di semua kelurahan, dengan fokus khusus pada simulasi tsunami di 9 kilometer wilayah pesisir sungai.
Ketergantungan pada Dana Pusat dan Internasional
Yusuf memaparkan bahwa anggaran kebencanaan BPBD idealnya bersumber memadai dari APBD untuk operasional, kesiapsiagaan, tanggap darurat, hingga pemulihan. Namun, minimnya dana lokal memaksa BPBD bergantung pada dukungan BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) dan pendanaan luar negeri.
Contoh dukungan yang telah diterima:
* Proyek IDRIP (Indonesia Disaster Resilience Initiatives Project): Program yang didanai pusat dan Bank Dunia ini membantu delapan kelurahan, termasuk pengadaan tiga alat early warning system (EWS) untuk tsunami.
* Apresiasi BNPB: Pemberian kendaraan dapur umum yang vital saat membantu korban banjir di berbagai titik pada Juli lalu.
Melihat kompleksitas risiko bencana di Mataram, BPBD kini memfokuskan upaya mitigasi berbasis komunitas. Target strategis BPBD adalah membentuk Desa Tangguh Bencana (Destana) di seluruh 50 kelurahan yang ada di Kota Mataram.
“Kota Mataram ini kompleks bencananya. Karena itu, kita upayakan seluruh kelurahan menjadi Destana,” tegas Yusuf, menekankan pentingnya kesiapsiagaan di level paling bawah.