LombokPost — Anggota DPRD Kota Mataram dari Daerah Pemilihan (Dapil) Ampenan, Muchtar, mendorong pemerintah daerah melakukan terobosan nyata dalam penataan dan pengelolaan kawasan pesisir Kota Mataram agar mampu memberi nilai tambah bagi kesejahteraan nelayan sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah (PAD).
Muchtar mengungkapkan, dirinya pernah membandingkan pengelolaan pesisir Kota Mataram dengan pesisir Tegal. Meski panjang garis pantai Tegal hanya sekitar tujuh kilometer, daerah tersebut mampu mengelola sektor perikanan dengan baik melalui keberadaan pasar ikan yang kala itu menghasilkan pendapatan hingga miliaran rupiah per tahun.
“Waktu itu saya bandingkan, Kota Tegal bisa punya pasar ikan dengan hasil sekitar Rp 7 miliar per tahun. Sementara Kota Mataram punya garis pantai hampir sembilan kilometer, tapi pengelolaan nelayannya masih sangat tradisional,” ujarnya, Jumat (6/2/2026).
Ia menyebut, salah satu alasan yang pernah disampaikan adalah hasil tangkapan nelayan Kota Mataram dinilai terbatas, seperti didominasi ikan tongkol, sehingga dianggap belum layak untuk dibangun pasar ikan modern seperti di Tegal. Namun menurutnya, alasan tersebut tidak semestinya menjadi penghambat untuk belajar dan berbenah.
Baca Juga: Pemerintah Targetkan Serap 240 Ribu Ton Setara Beras dari NTB
“Minimal kita ambil pembelajaran. Kenapa mereka bisa, kenapa kita tidak? Padahal alat tangkap nelayan kita sekarang juga sudah cukup bagus,” katanya.
Muchtar menilai, pembangunan pasar yang kini berlangsung di kawasan Bintaro, diharapkan dapat menjadi titik awal menuju pengelolaan sektor perikanan yang lebih terintegrasi. Ia menekankan, pasar tersebut nantinya tidak hanya dimanfaatkan nelayan Kota Mataram, tetapi juga nelayan dari Lombok Barat dan Lombok Timur.
“Artinya pasar itu potensinya lintas daerah, bukan hanya untuk Kota Mataram,” jelasnya.
Selain pasar ikan, Muchtar juga menyinggung rencana lama pemerintah kota untuk membangun jalan tembus di sepanjang pesisir. Jalan tersebut diharapkan dapat menunjang aktivitas ekonomi masyarakat pesisir, terutama ketika nelayan tidak melaut akibat pasang atau cuaca buruk.
“Kalau ada akses jalan pesisir, saat nelayan tidak melaut mereka tetap bisa beraktivitas, berjualan, atau mengembangkan usaha di kawasan pantai,” ujarnya.
Terkait kondisi pesisir saat ini, Muchtar mengakui keinginan pemerintah kota untuk melakukan penataan sebenarnya cukup tinggi. Namun, keterbatasan anggaran menjadi kendala utama.
“Kalau hanya punya keinginan tentu tidak cukup. Harus ada terbosan. Misalnya menjalin kerja sama dengan pemerintah provinsi, atau berkomunikasi dengan anggota DPR RI untuk bersama-sama menata kawasan pantai ini,” tegasnya.
Ia menilai, kawasan pantai di Kota Mataram, khususnya Pantai Tanjung Karang, terkesan kurang mendapat perhatian dibandingkan pantai-pantai lain yang telah beberapa kali direvitalisasi.
“Pantai Boom atau eks Pelabuhan Ampenan sudah dua-tiga kali direvitalisasi infrastrukturnya. Sementara Pantai Tanjung Karang dan beberapa titik pesisir lainnya seperti terlupakan, padahal ini aset besar,” katanya.
Muchtar menekankan, dorongan yang ia sampaikan bukan hanya untuk Pantai Tanjung Karang semata, melainkan penataan menyeluruh sepanjang hampir sembilan kilometer garis pantai di wilayah Ampenan.
“Kalau kita kelola dengan baik, potensinya besar untuk pariwisata dan peningkatan PAD,” ujarnya.
Ia mencontohkan, salah satu pantai di kawasan Ampenan yang kini mulai berkembang sebagai objek wisata telah menarik kunjungan dari masyarakat luar daerah. Menurutnya, pola tersebut bisa direplikasi di titik-titik pesisir lainnya.
“Kuncinya kebersihan dan kenyamanan. Kalau pantai bersih dan nyaman, orang pasti datang. Setelah itu, promosi akan berjalan dengan sendirinya,” jelasnya.
Lebih jauh, Muchtar optimistis, jika kawasan pesisir Kota Mataram tertata dengan baik, investor juga akan mulai melirik.
“Sekarang orang mencari tempat yang bersih dan nyaman. Kalau Mataram bisa menunjukkan itu, meskipun pantainya tidak panjang, tapi bersih dan tertata, saya yakin investor akan tertarik,” pungkasnya.
Editor : Lalu Mohammad Zaenudin