LombokPost - Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram Emirald Isfihan mengatakan, akan mencabut Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi SPPG yang terbukti teledor dalam operasionalnya. Pihaknya tidak akan menoleransi adanya mekanisme yang menyalahi prosedur. Meski sejauh ini investigasi bersama BPOM menunjukkan belum ada kasus keracunan makanan di Mataram, namun ia mengakui adanya penurunan kualitas pangan pada titik-titik tertentu.
“Kami harus sampaikan secara detail agar tidak dipukul rata sebagai kasus keracunan. Di Mataram, persoalannya lebih kepada kualitas jenis makanan, seperti buah yang busuk atau berulat dan kondisi puding. Ini menunjukkan ada risiko di proses pengadaan, penyortiran, hingga pendistribusian,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tantangan muncul terutama saat memasuki masa puasa dengan pola pengemasan makanan kering yang berbeda. Berdasarkan hasil evaluasi bersama Ombudsman, Dikes menemukan adanya kelemahan pada struktur kerja internal SPPG, mulai dari SOP hingga pembagian tugas (tupoksi) SDM pelaksana yang belum jelas.
Baca Juga: 510 SPPG di NTB Sudah Kantongi SLHS, Program MBG Diawasi Ketat
Sebagai langkah nyata, Dikes akan melakukan tinjauan ulang terhadap SLHS di seluruh SPPG yang ada di wilayah ibu kota. Emirald menekankan, dokumen administrasi yang lengkap saja tidak cukup jika implementasi di lapangan tidak sesuai prosedur.
“Jika SLHS lengkap tapi secara prosedural ada mekanisme yang terpotong atau salah, kami secara tegas akan mencabut izinnya. Apalagi jika sampai menimbulkan keracunan, kami tidak ingin ini terulang kembali,” tegasnya.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Disdik Kota Mataram Yusuf menekankan, muara dari seluruh prosedur dan SOP yang dijalankan adalah keselamatan anak-anak sebagai penerima manfaat. Ia menegaskan, pihak sekolah tidak boleh menjadi titik lemah dalam pengawasan ini.
“Saya kira kalau semua prosedur SOP yang sudah disampaikan Pak Kadikes dijalankan, tahapan terakhir ada di penerima manfaat, yaitu anak-anak. Kami menjaga keselamatan dan kesehatan anak, jangan sampai ada siswa yang menjadi korban,” tandasnya.
Editor : Akbar Sirinawa