alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Nasib Jembatan Penyeberangan Orang setelah Tidak Difungsikan

Tidak semua fasilitas umum dipelihara dengan baik. Banyak yang dibiarkan terbengkalai begitu saja. Malah penggunaannya beralih fungsi. Seperti Jembatan Penyeberangan Orang (JPO).

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

==========================

Seperti biasa, lalu lintas di perempatan Jalan Sandubaya pada siang hari sangat ramai. Ratusan kendaraan lewat dari segala arah. Semua jenis kendaraan tumpah ruah dijalan itu. Seperti tidak berhenti dan tidak berujung. Menandakan aktifitas masyarakat masih menggeliat. Tanpa mengenal lelah dan waktu.

Meski banyak kendaraan yang lalu lalang. Tidak sedikit pula para warga memilih menyebrang secara manual. Padahal, di kawasan itu ada JPO. Tidak dimanfaatkan sama sekali. Seperti rangkaian besi tua yang membelah jalan itu.

“Memang gak ada yang mau nyeberang pakai itu,” kata Mahsur.

Dia seorang tukang ojek yang biasa mangkal di kawasan itu. Usianya sekarang injak 50 tahun. Jadi tukang ojek sejak 30 tahun yang lalu. Warga asli Babakan. Dirinya mengatakan, masyarakat pengguna JPO itu di setiap harinya hanya satu atau dua orang saja. Bahkan tidak ada.

“Saya setiap hari di sini, dalam seminggu aja bisa dihitung pakai jari, paling ada satu atau dua orang yang pakai,” katanya.

Alasan masyarakat cukup klasik. Tidak mau repot-repot nyebrang pakai JPO. Karena akan memakan waktu lama, terutama saat mereka naik puluhan anak tangga. Makanya tidak heran, selain ngojek, Mahsur juga sering dimintai tolong untuk menyebrangkan orang.

“Bantu-bantu berhentiin kendaraan, biar mereka bisa lewat,” tegasnya.

Koran ini penasaran, ingin membuktikan perkataan Pak Mahsur. Apa sih yang menjadi penyebab masyarakat enggan memanfaatkan JPO ini. Ditengah panasnya terik matahari menerpa Kota Mataram, Koran ini bersama Pak Mahsur mulai menapaki anak tangga yang ada. Tampak tidak ada yang aneh, anak tangga masih kokoh untuk pejalan kaki.

Namun rasa penasaran Koran ini langsung terjawab. Setelah berada diposisi atas JPO. Penampakkan aneh dan menyedihkan mulai terlihat. Ada sampah, bungkus dan putung rokok, baju bergelantungan. Bahkan yang paling menganggu adalah aroma pesing bekas kencing manusia begitu menguar, saat angin meniup JPO itu dengan kencangnya.

“Itu baju yang gangguan jiwa yang suka tidur di sini,” jelas memecah keheningan.

Koran ini sama sekali tidak bergeming mendengar penjelasan Pak Mahsur. JPO yang nampak kokoh dari bawah memang tidak menampakkan apa-apa, setelah sampai di atas. Semua itu berubah karena jembatan sendiri sudah dalam keadaan rapuh. Ada lubang menganga dan kondisi besi yang jadi alas perlahan mulai rapuh. Menandakan usia JPO yang tidak lagi muda dan benar benar butuh perawatan.

Ia menyayangkan kondisi ini. JPO yang ada merupakan fasilitas yang harus di jaga pemerintah. Memang angka kecelakaan di jalan Sandubaya ini masih tergolong kecil. Namun menurutnya, itu bukan jadi alasan jika JPO ini dibiarkan begitu saja.

“Bagaimana orang mau pakai JPO-nya kalau kondisinya kayak begini, gak bersih dan bau pesing, orang mau lewat jadi mikir,” terangnya.

Selain itu, pemanfaatan JPO juga tidak tepat guna. JPO yang ada hanya dijadikan pajangan untuk pemasangan baliho-baliho caleg. Ya memang ada keuntungan buat Pemkot Mataram, tetapi alangkah baiknya kata Pak Mahsur, bagaimana JPO memang diperuntukkan bagi pengguna jalan untuk menyebrang.

Selain itu, penerangan juga tidak ada di area penyeberangan. Lampu hanya menyoroti bagian yang menghadap ke arah baliho saja. Maka tidak heran, kondisi gelap menyebabkan JPO semakin tidak dimanfaatan. Setelah sepuluh menit kami berbincang. Kami langsung turun dan melanjutkan pembicaraan di warung sebrang JPO.

Pak Mahsur hanya seorang tukang ojek, tetapi ia memiliki harapan besar pada Pemkot Mataram agar fasilitas yang ada bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh masyarakat. “Saya ingin lihat JPO ini kayak di kota-kota besar, yang sering saya lihat di TV,” terangnya.

Ia memimpikan JPO bisa jadi tempat berswafoto bagi anak-anak muda. Setidaknya ada JPO yang instagramable. Fotonya bisa di upload di media sosial.

Jika tidak bisa seperti itu, Pemkot Mataram bisa lakukan pemeliharaan rutin soal ini. Agar bisa berfungsi dengan baik. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks