alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Rumah Rusak Berat 70 Ribu, Baru Selesai 788 Unit

MATARAM-Bulan Maret sudah datang. Inilah bulan di mana pemerintah menargetkan pembangunan kembali rumah korban gempa sudah tutnas. Memang masih ada waktu 30 hari lagi dari sekarang. Namun, target tersebut menjadi musykil.

Untuk rumah rusak berat saja. Saat ini, yang baru selesai dibangun hanya 788 unit. Padahal, yang rusak berat lebih dari 70 ribu unit. Artinya, dalam 30 hari lagi, harus dibangun rumah rusak berat 70 ribu unit lagi. Ini belum termasuk rumah rusak berat dan rumah rusak ringan.

Target menuntaskan pembangunan kembali rumah korban gempa tersebut dicanangkan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Target yang kemudian menjadi acuan rehabilitasi dan rekonstruksi pascagempa di Lombok dan Sumbawa.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daeah (BPBD) NTB menyebutkan, ada 75.138 unit rumah rusak berat. Saat ini, baru 10.388 unit hunian tetap (Huntap) dalam proses pembangunan. Sementara yang sudah selesai dibangun 778 unit. Sebanyak 9.610 unit lainnya masih dalam proses pembangunan.

Rumah-rumah tersebut bentuknya macam-macam. Seperti rumah instan sederhana sehat (Risha), rumah instan kayu (Rika), rumah instan konvensional (Riko), rumah instan sehat baja (Risba), hingga rumah yang dibangun sendiri oleh warga.

Di luar rumah rusak berat tersebut, ada 147.426 unit rumah yang rusak sedang dan rusak ringan. Dari jumlah tersebut, yang sudah selesai diperbaiki baru 2.900 atau 8,56 persen. Sementara rumah yang dalam tahap perbaikan 13.218 unit atau 31 persen dan masih dalam tahap perencanaan 51.268 unit rumah atau 53 persen.

Kepala Pelaksana BPBD NTB H Muhammad Rum mengatakan, dengan terbitnya SK Gubernur NTB Nomor 360-161 Tahun 2019, status masa transisi darurat ke pemulihan diperpanjang 44 hari, dari 27 Februari hingga 12 April.

Sehingga memberikan tambahan waktu bagi tim untuk bekerja di lapangan. Bila melebihi batas waktu yang ditentukan, maka dana siap pakai (DSP) tidak bisa dipakai lagi.

”Status transisi darurat bisa diperpanjang sesuai kondisi di lapangan,” jelasnya.

Tapi, jomplangnya jumlah rumah yang terbangun dan belum terbangun, diakuinya membuat target dua bulan akan menjadi sulit. Dalam lima bulan saja rumah rusak berat yang mampu dibangun hanya 10.388 unit dengan 788 yang sudah selesai. Masih ada sisa 64.750 yang harus diselesaikan dua bulan ke depan. Sementara rumah rusak sedang dan ringan menyisakan 144.526 unit rumah lagi.

”Yang penting kita kerja terus semaksimal mungkin, mudah-mudahan ada pertolongan dari Allah,” kata Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD NTB Agung Pramuja, pada Lombok Post, kemarin.

Ia mengaku, saat ini tim sedang bekerja keras menuntaskan perbaikan rumah warga. Para fasilitator bekerja siang dan malam. Pada malam hari mereka membentuk kelompok masyarakat (Pokmas), mendesain gambar rumah, menyusun rencana anggaran biaya (RAB) dan menyusun laporan. Mereka bisa pulang sampai jam 23.00 malam.

”Siang harinya mereka mengurus urusan fisik di lapangan, mengecek material dan mengawasi pembangunan,” katanya.

Dengan kerja keras tim itu, dalam sebulan fasilitator untuk rumah rusak berat dan sedang mampu memperbaiki 2.900 unit rumah warga. Agung mengaku sangat bersyukur dengan capaian itu. Meski jumlah rumah belum terbangun masih banyak, namun ia optimis bisa mencapai hasil maksimal.

Lebih Repot dari Bangun Baru

Sementara itu, meski hanya merehab bagian rumah yang rusak, namun perbaikan rumah rusak sedang dan ringan tidak kalah sulit. Bahkan menurutnya bisa jauh lebih sulit. Dibadingkan rumah rusak berat, fasilitator tinggal mendisain dengan gambar yang sama untuk satu jenis rumah.

Tapi perbaikan harus mendesain sesuai kondisi rumah masing-masing warga. Sehingga setiap rumah memiliki gambar disain yang berbeda. Hal itu cukup menyita banyak waktu.

Dengan banyaknya Pokmas yang terbentuk dan pencairan dana yang sudah lancar. Ia optimis bisa menyelesaikan rumah lebih banyak dalam sisa waktu yang ada. Tapi ia mulai khawatir dengan persediaan material bahan bangunan, serta tenaga tukang yang mulai berkurang.

”Semua mengerjakan rumah dalam waktu bersamaan, tukang mulai susah didapatkan,” ungkapnya.

Termasuk bahan bangunan seperti batu bata, pasir dan semen. Dalam dua bulan ke depan pembangunan rumah akan dilakukan dalam waktu bersamaan. Sehingga harus dipastikan kebutuhan bahan bangunan dan tenaga tukang bisa terpenuhi. (ili/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Ada Apa dengan Pulau-pulau Kecil?

SAYA diundang oleh Ketua LPPM Unram, Dr. Muhammad Ali dalam diskusi untuk merevisi Rencana Induk Penelitian Universitas Mataram lima tahun ke depan. Salah satu bagian yang cukup alot diskusinya adalah ketika mendiskusikan fokus penelitian di Unram. Mengapa harus ada fokus?

Penyuntikan Vaksin Korona Untuk Warga Dimulai Januari 2021

Pemerintah telah bekerja sama dengan Uni Emirat Arab dan mendapatkan vaksin untuk Covid-19 sebanyak 20 juta dosis. Rencananya, vaksin mulai didistribusikan pada Desember.

Kampung Sehat, Warga Desa Setanggor Semangat Gotong Royong

GAIRAH warga Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat sedang menggebu-gebu untuk mewujudkan lingkungan mereka yang bersih dan sehat. Karena itu, jangan heran manakala menemukan semangat gotong royong masyarakat di desa ini sangat tinggi.

Satu Gerakan, Warga Desa Kuripan Lawan Penyebaran Covid-19

Warga Desa Kuripan kian konsisten menerapkan protokol kesehatan. Apalagi setelah berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat kabupaten di lomba Kampung Sehat. Sederet inovasi pun telah disiapkan Desa Kuripan.

Simulasi KBM Tatap Muka SMA Sederajat di NTB Pekan Kedua Dimulai

Simulasi KBM tatap muka untuk SMA sederajat di NTB memasuki pekan kedua. ”Sambil kami tetap memantau perkembangan penyebaran Pandemi Virus Korona,” kata Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan, pada Lombok Post, Minggu (20/9/2020).  

Mendikbud Pastikan Wacana Penghapusan Mapel Sejarah Hoaks

”Tidak ada sama sekali kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” tegas dia.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.
Enable Notifications    Ok No thanks