alexametrics
Senin, 28 September 2020
Senin, 28 September 2020

Wisata Halal Imbangi Dominasi Barat

MATARAM-Pariwisata halal merupakan kosep kepariwisataan paling tepat di tengah guncangan revolusi industri 4.0. Wisata halal sekaligus menjadi penyeimbang dominasi budaya barat dalam pengembangan pariwisata Indonesia. NTB dengan wisata halalnya berada di jalur yang benar. Tinggal mengemasnya agar diterima secara global.

”Ini tantangan yang harus dijawab, bagaimana membuat wisata halal lebih diterima secara universal,” kata Dosen Program Studi Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Pariwisata Nusa Dua Bali Ignatius Sonny Wyarso Amiluhur, pada Lombok Post, kemarin (1/5).

Dia mengatakan, pemahaman masyarakat tentang wisata halal harus diluruskan. Jangan sampai terjebak pada bayangan pariwisata halal harus bernuansa Arab. Tapi konsep pelayanan pariwisata yang ramah terhadap kebutuhan turis, khususnya wisatawan muslim. Bentuknya bisa dengan menjaga kebersihan, menyediakan makanan yang halal, menyediakan fasilitas ibadah, hingga pelayanan yang ramah.

”Sebagian besar sudah diterapkan di banyak hotel,” katanya.

Sonny menilai, wisata halal merupakan model pariwisata yang memiliki kemampuan adaptasi dan ketahanan tinggi terhadap perubahan sosial dalam revolusi 4.0. Sekaligus mampu memperkokoh jiwa kebudayaan yang hidup di tengah masyarakat. Bila selama ini, teori pengembangan wisata selalu diadopsi dari budaya barat, wisata halal menurutnya merupakan kosep yang lahir dari nilai timur.

Wisata halal juga menjadi penting. Sebab, revolusi industri 4.0 menimbulkan guncangan kebudayaan di tengah masyarakat. Termasuk sektor pariwisata. Ketika pariwisata Indonesia didominasi kepentingan ekonomi, lambat laun identitas nasional lebih banyak ditentukan selera pasar, poster-poster wisata digital, cendera mata, dan buku panduan.

Kondisi itu membuat pariwisata Indonesia semakin jauh dari nilai-nilai budaya masyarakat. Pada akhirnya pariwisata Indonesia hanya menjadi industri mediocre (biasa-biasa saja). Harusnya menjadi sebuah seni perjalanan untuk menemukan nilai-nilai dari peradaban lama nusantara.

Ditegaskan, dalam menghadapi goncangan budaya itu, diperlukan model kepariwisataan beyond cultural tourism, tidak sekedar pariwisata budaya yang selama ini dikembangkan Indonesia. Hal itu ditemukan dalam model pariwisata halal.

Ia mengingatkan, pengemasan wisata halal membutuhkan kreativitas tinggi. Bila tidak menggali dari dalam kebudayaan Indonesia, maka segala proses kreatif itu hanya akan sampai pada taraf imitasi saja, selalu terbelakang dan tidak menjadi trend setter. ”Akibatnya, keunikan yang seharusnya menjadi identitas nasional menjadi kabur,” katanya.

Dampak lainnya, memunculkan pemujaan pariwisata yang berorientasi pada hasil capaian ekonomi berupa target-target kunjungan, dan nilai finansial yang diperoleh. Harusnya terbangun representasi nilai-nilai asli yang otonom dan bebas.

Ia mencontohkan, beberapa waktu lalu pemerintah Indonesia menggulirkan gagasan jalur Cheng-Ho untuk menarik wisatawan, namun jalur Cheng-Ho hanya relevan bagi wisatawan China. Harusnya perjalanan Ibn Battuta bisa menjadi contoh. Ia memiliki jalur perjalanan yang lebih menarik. Dia menempuh perjalanan 170.000 KM selama setelah 29 tahun, dimulai tahun 1325 dari Maroko dan kemudian kembali ke Maroko pada tahun 1354.

Dia mengunjungi hampir semua wilayah Eropa, Afrika dan Asia. Dia juga mampir ke Sumatera yang dikenalnya sebagai samudera. Riwayat perjalannya kemudian dibukukan dengan judul Ar-Rihlah yang berarti Lawatan. Catatan perjalanan itu menjadi bagian penting untuk mengenal peradaban-peradaban yang dilaluinya. Jalur yang dilalui Ibn Battuta bisa digagas sebagai bentuk seni perjalanan dalam wisata halal secara internasional.

Menjawab hal itu, Gubernur NTB H Zulkieflimansyah menjelaskan, pengembangan wisata halal terus dilakukan. Penyempurnaan atas pelaksanaan di lapangan terus dilakukan tim OPD. Mereka tidak pernah surut untuk melakukan promosi dan mengangkat konsep wisata halal.

”Kemarin kita dapat penghargaan sebagai wisata halal terbaik di Indonesia, ini memacu semangat kami,” ujarnya.

Gubernur Zul membantah, wisata halal tidak diseriusi setelah TGB HM Zainul Majdi tidak lagi menjadi gubernur. Pemerintahannya tetap melanjutkan pengembangan wisata halal. Dia berharap NTB bisa menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. (ili/r6)

Berita sebelumyaPolri Klaim May Day Aman
Berita berikutnyaMHA Bersihkan Pantai Kuta
- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Proyek Pembangunan Dermaga Senggigi Tak Jelas

Dermaga Senggigi berpotensi mangkrak lebih lama. Meski Dinas Perhubungan (Dishub) Lombok Barat (Lobar) tetap mengupayakan kelanjutan pembangunannya. ”Mau tidak mau harus kita lanjutkan. Itu kewajiban kita,” kata Kadishub Lobar HM Najib.

Distribusi Bantuan Beras Lelet, Dewan Minta Pemprov NTB Ambil Alih

”Pemda harus secepatnya koordinasi ke pusat, kalau ada kemungkinan ambil alih, take over secepatnya, kasihan masyarakat,” tegas Anggota Komisi V DPRD NTB Akhdiansyah, Minggu (27/9/2020).

Kantongi Persetujuan Mendagri, Pjs Bupati Boleh Lakukan Mutasi

”Bisa (rombak) tetapi ada kendali di situ yakni rekom KASN. Pejabat definitif saja harus ada rekom KASN,” katanya.

Akhir September, Tren Konsumsi BBM dan LPG di NTB Meningkat

”Jumlah ini meningkat dibandingkan Bulan Mei 2020, ketika Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dilaksanakan di berbagai daerah,” kata Unit Manager Communication, Relations, & CSR MOR V Jatimbalinus Rustam Aji, Jumat (25/9/2020) lalu.

LEM Hadirkan Baby Crab dan Gelar Plants Exhibition

Kami terus menghadirkan apa pun yang menjadi kebutuhan dan keinginan konsumen. Terpenting bisa menghibur mereka selama masa pandemi ini,” imbuh Eva.

Soal Kuota Gratis, Sekolah di Mataram Masih Validasi Data

”Verval ini kita lakukan  secara bertahap juga, setiap hari ada saja yang divalidasi,” jelas Suherman.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks