alexametrics
Jumat, 12 Agustus 2022
Jumat, 12 Agustus 2022

RSIA Permata Hati Pastikan Penanganan Pasien Sesuai Prosedur

Kawal Penyembuhan Pasien hingga Tuntas

MATARAM—Rumah Sakit Khusus Ibu dan Anak (RSIA) Permata Hati Mataram mengklarifikasi tudingan dugaan malpraktik kepada salah satu pasiennya yang melahirkan secara bedah sesar. Manajemen menyebut informasi itu cenderung provokatif dan mengarah ke pencemaran nama baik lantaran tidak adanya konfirmasi resmi dari rumah sakit.

Direktur RSIA Permata Hati dr Agus Toriq menyebut, penanganan medis terhadap pasien tersebut sudah sesuai prosedur tetap (protap) rumah sakit. Tidak ada unsur malpraktik yang dilakukan dokter maupun perawat di rumah sakit selama pasien menjalani operasi bedah sesar.

“Di kesempatan ini kami ingin kami melakukan tabayyun (klarifikasi) terhadap pemberitaan-pemberitaan yang tidak berimbang yang menyebabkan distorsi informasi di masyarakat,” kata dr Agus Toriq saat memberikan pernyataan resmi ke media, Rabu (1/6).

Pasien atas nama NA (inisial, Red) diketahui menjalani bedah sesar tgl 10 Mei 2022 di RSIA Permata Hati. Tindakan operasi dilakukan karena persalinan tidak mengalami kemajuan selama delapan jam dan denyut jantung janin mulai tidak normal.

“Pasien datang dalam kondisi sudah pecah ketuban di rumah. Tim medis jaga RS saat itu masih mengupayakan agar pasien bisa melahirkan normal,” tuturnya.

dr Agus Toriq memastikan pihaknya sama sekali tidak pernah mengarahkan persalinan setiap pasien yang datang ke RS Permata Hati untuk dioperasi. Sesuai kebijakan rumah sakit, pasien yang dioperasi adalah mereka yang memang minta dilakukan tindakan medis tersebut karena tidak kuat atau indikasi yang membahayakan dari pertimbangan medis.

Operasi NA berjalan lancar. Dia dan bayinya sehat. Keduanya pulang dari RS keesokan harinya.

Masalah mulai muncul enam hari kemudian. Ditemukan luka operasi yang basah di tubuh NA saat dia datang untuk kontrol ke rumah sakit. Dokter memberikan obat antibiotik dan perawatan luka.

“Dari informasi tim medis berdasarkan keterangan pasien, luka operasi basah karena kemasukan air atau terbuka,” ujarnya.

Baca Juga :  BKD: Mutasi Tak Langgar Prosedur

Padahal menurut dr Agus Toriq, plester operasi tidak boleh terbuka dan harus kering. Sirkulasi udara di rumah juga harus baik agar pasien tidak gerah yang karena keringat bisa berujung terbukanya plester bekas luka operasi dan air dapat masuk. Anatomi tubuh seorang pasien juga mempengaruhi kondisi kepulihan pascaoperasi.

Karena tidak ada perbaikan di bekas luka operasi NA dengan perawatan konservatif, dokter pun memutuskan melakukan operasi untuk membersihkan lapisan kulit yang terinfeksi tersebut pada 24 Mei 2022. Tetapi infeksi daerah operasi terjadi lagi 5 hari kemudian.

Akhirnya pasien diputuskan untuk menjalani operasi pembersihan nanah /infeksi oleh dokter spesialis bedah tgl 31 Mei 2022 .

“Jadi bukan operasi sesar berkali-kali seperti yang dituduhkan ya, tapi kami melakukan operasi pembersihan nanah. Saat ini pasien masih dirawat dan diharapkan pulih 4-5 hari ke depan,” tandasnya.

dr Agus Toriq mengungkapkan, dalam peristiwa ini masyarakat termasuk keluarga pasien harus bisa membedakan antara malpraktik dengan resiko medis. Tindakan medis bisa disebut malpraktik jika dokter atau tim medis melakukan kelalaian atau ketidakhati-hatian dalam menangani pasien.

“Contohnya saat operasi ada gunting yang tertinggal di tubuh pasien atau kain kassa dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Sementara resiko medis adalah kejadian setelah dilakukannya suatu prosedur medis yang sama-sama tidak diharapkan dokter maupun pasien. Seperti pendarahan pascaoperasi karena otot rahim tidak bisa mengkerut dengan normal atau infeksi dari luka operasi seperti yang dialami NA.

“Bahkan untuk operasi sesar, kemungkinan resiko medis seperti infeksi itu bisa terjadi antara 3-15 persen dan itu wajar. Kecuali jika 100 persen infeksinya, baru itu operasinya bermasalah,” jelasnya.

Menurutnya, kondisi yang memungkinkan terjadinya resiko infeksi antara lain, ibu dengan lapisan lemak bawah kulit yang tebal, perawatan perban yang kurang baik (perban terbuka karena keringat  berlebihan atau karena tidak dikeringkan dengan baik saat mandi), kurang mobilisasi, kurang asupan  nutrisi dan air, atau kondisi anemia dan kadar protein darah (albumin) yang rendah.

Baca Juga :  Saefan Ali, Pecinta Offroad yang Belum Terkalahkan di NTB

dr Agus Toriq juga menepis anggapan jika RSIA Permata Hati melayani pasien yang menggunakan BPJS Kesehatan secara setengah hati. Menurutnya, semua dokter sudah terikat pada sumpah profesi untuk melakukan yang terbaik bagi semua pasiennya, tidak memandang latar belakang atau pembiayaannya.

Begitupun RSIA Permata Hati  sebagai  fasilitas Kesehatan rujukan yang melayani peserta BPJS tentunya akan memberikan layanan yang terbaik untuk seluruh peserta BPJS.

“Apalagi 75-80 persen pasien kami adalah peserta BPJS. Jadi sangat tidak tepat jika ada pendapat bahwa karena pakai BPJS penanganan tidak maksimal,” tegasnya.

Dia memastikan semua pasien yang datang ke RSIA Permata Hati akan mendapat standar layanan yang sama. Perlu juga dipahami setiap dokter hanya dapat melakukan upaya yang terbaik untuk semua pasiennya. Mereka juga tidak pernah bisa menjanjikan hasil.

dr Agus Toriq juga menjamin tindakan medis terhadap pasien NA merupakan hasil kesepakatan bersama antara dokter, pasien dan keluarga. Menimbang apa yang terbaik dari keuntungan dan resiko tindakan saat itu. Namun keputusan akhir tetap ada pada pasien dan keluarga

“Komunikasi yang santun, tenang serta saling menghargai, dan penuh prasangka baik antara keluarga pasien dan pihak RS pastinya sangat dibutuhkan dalam rangkaian proses penyembuhan Ny NA,” ucapnya.

Pihak RSIA Permata Hati juga berkomitmen mengawal penyembuhan NA dengan memberikan antibiotik dan suplemen protein selama perawatan. Tidak ada biaya tambahan yang akan dikenakan ke pihak NA untuk membayar obat-obatan paten tersebut. (ida/r10)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/