alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Pansus DPRD : Harusnya Mataram Zona Hijau!

MATARAM-Di awal pandemi Covid-19, rasa was-was dan ketakutan menyelimuti masyarakat Kota Mataram. Kini, warga diharapkan tenang dan enjoy meski berada di tengah wabah Covid-19. Dengan catatan, tetap menerapkan protokoler Covid-19.

“Harusnya Kota Mataram ini zona hijau. Karena yang meninggal selama ini adalah yang memiliki komorbid (penyakit penyerta),” jelas anggota Tim Pansus DPRD Kota Mataram M Husni Tamrin,  kepada Lombok Post usai rapat dengan pihak Dinas Kesehatan dan RSUD Kota Mataram.

Ia meminta Wali Kota berani mengumumkan bahwa status Mataram saat ini merupakan zona hijau. Dengan catatan, satgas harus tetap mengupdate data ril pasien murni Covid-19, pasien Covid-19 disertai komorbid, pasien sembuh dan yang meninggal dunia.

Sejauh ini, penyebab kematian pasien yang dinyatakan positif Covid-19 di Kota Mataram menurutnya adalah penyakit inti. Bukan karena Covid-19. Hal itu ditegaskan Husni Tamrin berdasarkan data yang diterima dari pihak rumah sakit dan Dinas Kesehatan Kota Mataram.

Husni Tamrin sendiri juga pernah dinyatakan positif Covid-19 beserta dua anggota keluarganya. “Saya pernah dinyatakan positif dan saya menangani sekitar 150 jamaah tablig yang dinyatakan positif. Saya sekarang sembuh dan jamaah tablig yang dinyatakan positif juga tidak ada yang meninggal dunia,” bebernya.

Selain dinyatakan positif Covid-19, ia mengaku sakit lambung dan diabetes. Penyakitnya itulah yang diobati. Sekarang ia sudah dinyatakan negatif dan sembuh. “Katanya Covid-19 belum ada obatnya tapi saya sembuh. Ini pengalaman empiris saya,” ujar pria yang menjadi Ketua Advokasi dan Edukasi Jamaah Tablig NTB tersebut.

Sehingga ia merasa tidak perlu panik dan mencekam. Harus disikapi dengan tenang. Karena mereka yang positif Covid-19 bisa terjadi ketika imunnya turun. Ketika mereka istirahat, rileks, makan enak, imunnya naik. “Anak istri saya seperti itu juga. Saya ini pemain (orang yang pernah mendapatkan penanganan pasien Covid-19), bukan penonton,” jelasnya.

Husni Tamrin juga menyoroti agar jangan sampai protokoler pemakaman Covid-19 tidak menegakkan syariat agama. Setelah beberapa kali koordinasi dengan rumah sakit kota, memang itu sudah mulai dilaksanakan. Pemakaman pasien Covid-19 disesuaikan dengan syariat agama. Termasuk melibatkan pihak keluarga.

Kemudian tim Pansus juga merekomendasikan agar sekolah segara dibuka. Karena masyarakat sudah sangat gelisah dengan proses pembelajaran dari rumah yang dirasakan jauh tidak efektif. “Tapi kami setuju, protokoler kesehatan harus dilaksanakan. Lengkapi siswa dengan APD, facial shield dan jaga jarak dengan menerapkan sistem shift. Segera buka sekolah secepatnya,” pintanya.

Senada dengan itu, anggota tim pansus lainnya I Gusti Bagus Hari Sudana Putra juga meminta Kota Mataram tidak dibuat mencekam dengan situasi Covid-19. Bahkan ia setuju dengan statemen Direktur RSUD Kota Mataram dr. Lalu Herman Maha Putra jika masyarakat harus bahagia untuk menaikkan imun. Sebagai salah satu upaya mencegah Covid-19.

“Saya setuju protokoler Covid-19 harus diutamakan. Tapi kita memang jangan sampai mencekam, harus enjoy menghadapi Covid-19 ini,” ujar Gus Ari, sapaannya.

Sementara untuk segera dibukanya sekolah, Gus Ari juga mendesak itu segera dilakukan. Karena pasar, mal dan pusat peribadatan lain juga sudah dibuka. “Kita sebagai orang tua ini resah anak terlalu lama tidak sekolah. Psikologis mereka terganggu karena terlalu banyak main gadget ini,” ungkapnya.

Sedangkan Nyayu Ernawati, aggota tim pansus lainnya meminta agar semua dipertimbangkan dengan baik. Ia tidak ingin tim pansus membuat rekomendasi kebijakan tetapi berdampak pada anak-anak. “Senin insyaAllah kami akan bertemu dengan rumah sakit dan selanjutnya dengan Dinas Dikbud terkait rekomendasi pansus pembukaan sekolah,” kata dewan Dapil Ampenan ini.

Nyayu tidak ingin ketika itu direkomendasikan tim Pansus justru berdampak buruk. Meskipun diakuinya anak-anak sudah lelah di rumah. Mereka kangen dan merindukan suasana pembelajaran di rumah.  “Jadi mungkin bisa kita sediakan mereka facial shield, masker, tempat cuci tangan dan jaga jarak. Ini yang harus kami diskusikan,” jelasnya. Pembelajaran juga bisa dilakukan dengan sistem pembagian shift belajar pagi, siang dan sore.

Sementara pihak Dinas Kesehatan Kota Mataram yang diwakili Kabid Yankes dan SDK dr Zulfikar serta Kabid P2P HM Carnoto menejelasakan ada aturan baru Menteri Kesehatan mengenai pandemi Covid-19. Menkes mengeluarkan aturan Nomor HK 413/2020. Ini merupakan revisi kelima penanganan covid-19. Dalam aturan ini tidak lagi istilah Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pemantauan (PDP), Orang Tanpa Gejala (OTG) atau yang lainnya. Istilah tersebut diganti dengan suspek, kontak erat, probable dan discarded.

Penekanan pada aturan terbaru ini adalah mereka yang ditangani adalah masyarakat yang memiliki gejala. Selama tidak bergejala, tidak perlu dilakukan rapid tes atau swab. Mereka cukup melakukan karantina mandiri selama 14 hari.

Jika dalam masa karantina ada gejala, baru kemudian mereka ditangani dengan dilakukan swab. Kemudian rapid tes dilakukan untuk analisa data, berpergian dan kelompok tertentu yang memiliki komorbid.

“Yang utama sekarang adalah bagaimana kita tidak menularkan dan menghindarkan penularan. Jadi penggunaan masker, cuci tangan, jaga jarak dan PHBS,” jelas pihak Dikes memberi penjelasan ke tim pansus.

Sementara juru bicara Satgas Covid-19 Kota Mataram membenarkan hingga saat ini belum ada pasien yang meninggal murni karena Covid-19. “Data dari Dikes semua pasien yang meninggal karena komorbid (penyakit penyerta),” bebernya.

Untuk kluster Gowa atau jamaah tablig yang berdasarkan hasil tracking jumlahnya 150 orang. Mereka sudah dinyatakan negatif. “Semuanya sudah sembuh,” jelasnya.

Data terbaru perkembangan kasus Covid-19 di Kota Mataram 873 pasien positif. 541 orang dinyatakan sembuh, 270 orang dirawat dan 62 orang meninggal dunia (komorbid). (ton/r3)

 

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

14 Ribu UMKM Lombok Utara Diusulkan Terima Banpres

Jumlah UMKM KLU yang diusulkan menerima bantuan presiden (Banpres) Rp 2,4 juta bertambah. Dari sebelumnya hanya 4. 890, kini tercatat ada 14 ribu UMKM. ”Itu berdasarkan laporan kabid saya, sudah 14 ribu UMKM yang tercatat dan diusulkan ke pusat,” ujar Plh Kepala Diskoperindag KLU HM Najib, kemarin (18/9).

Cegah Penyimpangan, Bupati Lobar Amankan 640 Dokumen Aset Daerah

Dinas Arsip dan Perpustakaan Lombok Barat (Lobar) terus mencari dokumen-dokumen aset milik pemkab. ”Kalau arsip (dokumen) hilang, aset daerah juga melayang,” kata Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Lobar H Muhammad Yamil.

Penuh Sampah, Warga Dasan Geres Turun Bersihkan Sungai

Pola hidup bersih digalakkan warga di Lingkungan Dasan Geres Tengah. Salah satunya melalui program sungai bersih. ”Kita ciptakan lingkungan bersih dan asri,” kata Lurah Dasan Geres Hulaifi, kemarin.

Perintah Menteri, RT Wajib Bentuk Satgas Penaganan Covid-19

Upaya menekan penyebaran virus COVID-19 masih harus gencar. Salah satu kebijakan baru yang digagas adalah mewajibkan membentuk satgas penanganan COVID-19 hingga level kelurahan, dusun atau RT/RW. Satgas tersebut nantinya bertugas mengawal pelaksanaan kebijakan satgas pusat di lapangan.

Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

SELAMA berminggu-minggu “kegiatan tidak berarti ini” dilaksanakan tanpa ada maksud apa-apa kecuali biar sampah tidak menumpuk. Namun keberartian “kegiatan tidak berarti ini” justru menjadi simpul efektif dari kebersamaan dan rasa senasib sepenangungan seluruh komponen yang ikut bergotong royong.

Gowes di Jalan Raya Kini Tak Bisa Lagi Serampangan, Ini Aturannya

Belakangan tren bersepeda marak. Agar tertib, maka Kementerian Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 59 Tahun 2020 Tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan pada 14 Agustus lalu. Kemenhub rutin untuk melakukan sosialisasi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks