alexametrics
Minggu, 20 September 2020
Minggu, 20 September 2020

Ketika Kaum Disabilitas Jadi Bintang Film, di Balik Layar Alma The Move

Siapa bilang kaum disabilitas tidak bisa main film. Keterbatasan fisik tidak membatasi kreativitas mereka. Beradu akting layaknya bintang sinetron bisa mereka lahap tanpa canggung. Hal itu dibuktikan anak-anak Yayasan Lombok Care yang menunjukkan kemampuannya dalam film Alma.    

SIRTUPILLAILI, Mataram

===================

Alma Tiana, 12 tahun, tidak kuasa menahan bahagia. Wajahnya berseri-seri saat ditawarkan bermain dalam sebuah film dan langsung menjadi pemeran utama. Perasaannya campur aduk. Setengah percaya ketika ditawari bermain film.

Anak berkebutuhan khusus sepertinya tidak pernah membayangkan rasanya bisa bermain film. Apalagi remaja dari Desa Sandik itu hanya anak kampung yang juah dari hiruk pikuk dunia perfilman.

Maka wajar tawaran pengalola Yayasan Lombok Care dan sutradara muda Trish Pradana bak mimpi yang menjadi kenyataan. Meski menjadi pemain dalam film pendek, namun kesempatan itu membuat Alma semakin percaya diri. Kesempatan itu benar-benar menjadi pengalaman yang tidak terlupakan. Senang dan bahagia karena mendapat pengalaman baru. Dan kini film Alma siap diputar.

Trish Pradana, sang sutradara juga mendapat pengalaman yang tidak biasa saat mengarahkan anak-anak disabilitas bermain dalam film garapannya. Sutradara muda itu juga mendapat pengalaman yang tidak kalah seru. Banyak kejutan-kejutan dan pelajaran yang dia petik selama syuting dengan anak-anak luar biasa tersebut.

Mengarahkan aktor dan artis dengan kondisi fisik normal tentu berbeda dengan anak-anak disabilitas. Setelah menyusun naskah, Trish tidak langsung berkomunikasi dengan anak-anak tersebut. Tapi dia memilih berdiskusi dengan  guru-guru mereka.

Melalui perantara guru itulah, dia akhirnya bisa menyakinkan anak-anak tersebut untuk akting sesuai dengan yang diinginkannya dalam film tersebut. ”Syukurnya anak-anak ini pintar-pintar dan sangat bersemangat diajak akting,” katanya.

Sutradara film Obituary ini mengaku, dia harus menggunakan pendekatan yang tidak biasa dalam menggarap film Alma. Semua anak-anak yang jadi pemeran adalah penyandang disabilitas.

Tenaga mereka tidak bisa dipaksa seperti pemain film lainnya. Kadang-kadang mereka tiba-tiba merasa lelah dan ingin istirahat. ”Ketika mereka lelah, ya istirahat. Tenaga mereka tidak bisa kita push,” ungkapnya.

Syuting dilakukan setelah anak-anak itu pulang sekolah. Di atas pukul 11.00 Wita. Sehingga tidak mengganggu jam pelajaran mereka.

Selama lima hari, anak-anak tersebut harus syuting sampai sore. Bahkan di hari terakhir, syuting dilakukan sampai malam hari.

Di tengah-tengah syuting, anak-anak itu kadang merasa lelah. Karena tidak bisa memaksa, Trish harus menggunakan trik ala guru TK. Ia selalu membawa es krim dan aneka jajanan.

Ketika ditawarkan es krim dan jajan anak-anak tersebut kembali bersemangat.  ”Kalau diberi makan es krim, mereka langsung semangat,” tuturnya.

Bahkan, selama syuting sutradara harus ditemani guru untuk menghadapi anak-anak tersebut. Sang guru bisa mengarahkan mereka agar akting bagus, bahkan dicandain kalau tidak bagus akan diganti dengan pemeran lain. Dengan begitu mereka tambah semangat. ”Semangat mereka luar biasa, syukurnya orang tua mendukung,” katanya.

Film Alma sendiri berkisah sosok Alma, seorang penyandang disabilitas. Kakinya lumpuh dan tidak bisa berjalan normal seperti anak lainnya. Tanpa bantuan tongkat dia tidak berdiri dan berjalan. Namun dia punya mimpi besar untuk menjadi seorang model. Mimpi yang hampir mustahil sebagai kaum difabel.

Alma punya sosok teman yang selalu setia bersamanya. Yakni Syafa. Penderita hidrosefalus yang juga punya mimpi besar dengan keterbatasan fisik yang dimilikinya. Kedua sahabat penyandang disabilitas itu tidak pernah mengenal kata lelah untuk mewujudkan mimpi-mimpinya.

Trish menuturkan, kekuatan besar film itu adalah mimpi anak-anak disabilitas. Meski punya keterbatasan fisik, tapi mereka berani mendobrak dan menjadikan kekurangan sebagai kekuatan untuk berani berbuat dan berani maju.

”Bayangkan saja, dia lumpuh tetapi dia mau jadi model dan berjalan di atas panggung,” tandasnya. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

14 Ribu UMKM Lombok Utara Diusulkan Terima Banpres

Jumlah UMKM KLU yang diusulkan menerima bantuan presiden (Banpres) Rp 2,4 juta bertambah. Dari sebelumnya hanya 4. 890, kini tercatat ada 14 ribu UMKM. ”Itu berdasarkan laporan kabid saya, sudah 14 ribu UMKM yang tercatat dan diusulkan ke pusat,” ujar Plh Kepala Diskoperindag KLU HM Najib, kemarin (18/9).

Cegah Penyimpangan, Bupati Lobar Amankan 640 Dokumen Aset Daerah

Dinas Arsip dan Perpustakaan Lombok Barat (Lobar) terus mencari dokumen-dokumen aset milik pemkab. ”Kalau arsip (dokumen) hilang, aset daerah juga melayang,” kata Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Lobar H Muhammad Yamil.

Penuh Sampah, Warga Dasan Geres Turun Bersihkan Sungai

Pola hidup bersih digalakkan warga di Lingkungan Dasan Geres Tengah. Salah satunya melalui program sungai bersih. ”Kita ciptakan lingkungan bersih dan asri,” kata Lurah Dasan Geres Hulaifi, kemarin.

Perintah Menteri, RT Wajib Bentuk Satgas Penaganan Covid-19

Upaya menekan penyebaran virus COVID-19 masih harus gencar. Salah satu kebijakan baru yang digagas adalah mewajibkan membentuk satgas penanganan COVID-19 hingga level kelurahan, dusun atau RT/RW. Satgas tersebut nantinya bertugas mengawal pelaksanaan kebijakan satgas pusat di lapangan.

Senggigi Telah Kembali (Bagian-2)

SELAMA berminggu-minggu “kegiatan tidak berarti ini” dilaksanakan tanpa ada maksud apa-apa kecuali biar sampah tidak menumpuk. Namun keberartian “kegiatan tidak berarti ini” justru menjadi simpul efektif dari kebersamaan dan rasa senasib sepenangungan seluruh komponen yang ikut bergotong royong.

Gowes di Jalan Raya Kini Tak Bisa Lagi Serampangan, Ini Aturannya

Belakangan tren bersepeda marak. Agar tertib, maka Kementerian Perhubungan mengeluarkan Peraturan Menteri Perhubungan Nomor PM 59 Tahun 2020 Tentang Keselamatan Pesepeda di Jalan pada 14 Agustus lalu. Kemenhub rutin untuk melakukan sosialisasi.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks