alexametrics
Sabtu, 19 September 2020
Sabtu, 19 September 2020

Lima Ribu Data Penerima JPS Kota Mataram Belum Terverifikasi

MATARAM-Data penerima jaring pengaman sosial (JPS) Kota Mataram belum seluruhnya terverifikasi. Ditambah lagi, pemkot belum menggenapi kuota bantuan sebanyak 26 ribu orang.

“Baru sekitar 21 ribu yang klir verifikasi,” kata Asisten II Setda Kota Mataram H Mahmuddin Tura.

Sebanyak 70 ribu warga ditargetkan wali kota Mataram mendapat bantuan. Gabungan dari data di Basis Data Terpadu (BDT) sebanyak 41.598 orang. Kemudian 2.402 orang. Yang keduanya mendapat bantuan dari pemerintah pusat. Kota Mataram selanjutnya melakukan intervensi bantuan terhadap 26 ribu orang. Melalui JPS.

Dari total seluruhnya, data yang baru masuk hingga akhir April kemarin, berdasarkan usulan seluruh OPD, sekitar 65.365 orang. Artinya, JPS Kota Mataram baru merangkum sekitar 21.364 warga untuk menerima bantuan. Dari yang seharusnya sebanyak 26 ribu.

Kata Mahmuddin, sisa 4.635 dipersiapkan khusus sebagai cadangan. ”Jangan sampai masih ada warga yang tidak masuk. Artinya, setelah data anomali , ada warga yang berhak tapi tidak masuk daftar. Itu asumsinya dibulatkan menjadi 70 ribu,” ujarnya.

Ada sekitar 20 kriteria, yang ditentukan wali kota Mataram untuk menerima JPS. Seperti pekerja terkena pemutusan hubungan kerja maupun yang dirumahkan; lansia; disabilitas; anak terlantar; gelandangan dan pengemis; pemulung; perempuan rawan sosial dan ekonomi.

Selanjutnya eks narapidana; ODHA; UMKM; nelayan; buruh perikanan; buruh tani; anak yatim; marbot; veteran; hingga guru tidak tetap. Bantuan berisikan tujuh item. Yang diharapkan bisa meringankan beban warga terdampak covid-19.

”Ada beras 10 kilogram, gula pasir 1 kilogram, dan minyak goreng satu liter,” katanya.

Selain tiga item yang disebut Mahmuddin, paket sembako juga berisi makanan olahan berupa abon ikan. Sabun sebanyak enam batang serta biskuit empat bungkus. Juga telur sebanyak 10 butir.

Untuk ketujuh item dalam paket, nilainya disesuaikan dengan nominal bantuan. Yakni sebesar Rp250 ribu. Kemudian ditambah Rp15 ribu. Untuk biaya pengepakan serta transportasi dari kecamatan hingga kelurahan.

Kata Mahmuddin, proses pengadaan barang disesuaikan dengan aturan dari pemerintah pusat. Terkait dengan pengadaan di tengah pandemi, ada perlakukan khusus. Salah satunya soal penunjukan rekanan.

”Berapapun nilai proyeknya, dilakukan pembelanjaan langsung,” ujarnya.

Dengan metode tersebut, lanjut dia, cukup dengan menggunakan pesanan barang. Selanjutnya, penyedia atau rekanan harus menyiapkan kewajaran harga. Setelah itu, Inspektorat akan mengevaluasi atas tawaran yang diberikan.

Harga kewajaran yang diberikan disesuaikan dengan nominal bantuan. Artinya, setiap barang jika ditotal berjumlah Rp250 ribu, kata Mahmuddin. Meski begitu, ia tak merinci harga per item dari isi bantuan.

”Totalnya Rp265 ribu. Karena ditambah Rp15 ribu dari packing dan transportasi itu,” kata Mahmuddin.

Tiga perusahaan keroyokan menggarap proyek bantuan sembako di JPS Kota Mataram. ”Rekanannya tiga. Dua yang sudah berjalan. Satu lagi masih dalam proses,” kata Kabag Pengadaan Barang dan Jasa Multazam.

Dari tiga rekanan, Multazam hanya menyebut dua. Yakni Bangil Persada dan Niaga Jaya Mandiri.

Dalam pendistribusian sembako JPS, pemkot harus memastikan seluruh rekanan mampu. Juga siap untuk mengerjakan itu dalam waktu singkat. Faktor ini pula yang menjadi prioritas dalam pertimbangan pemilihan rekanan.

Selain diperbolehkan penunjukan langsung, dalam pengadaan darurat pemkot juga diuntungkan. Salah satunya boleh berutang. Rekanan tidak bisa memaksa pemkot untuk langsung membayar. Meski bantuan telah selesai didistribusikan.

”Itu yang utama. Sehingga kesigapan dari penyedia itu harus kita tahu betul. Kenal betul. Sehingga diutamakan rekanan yang dekat. Memang aturannya begitu,” katanya. (dit/r3)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Proyek Pasar ACC Ampenan Terancam Molor

Pengerjaan konstruksi fisik Pasar ACC Ampenan masih dalam proses sanggah. Belajar dari pengalaman tahun lalu, Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Mataram tidak ingin gegabah mengerjakan proyek yang anggarannya dari Kementerian Perdagangan itu. “Kita tidak ingin kejadian seperti  tahun lalu di Pasar Cakarenagara. Molor,” kata Kepala Disdag Kota Mataram H Amran M Amin, kemarin (18/9).

Saat Pandemi, Anak 14 Tahun di Mataram Nikah Dini

Fenomena pernikahan usia anak masih terjadi di Kota Mataram. Seperti yang terjadi di Kelurahan Karang Baru pekan lalu. AA, perempuan usia 14 tahun juga memilih menikah dengan IW, 20 tahun warga kelurahan Selagalas. Keduanya enggan dipisahkan dengan alasan cinta.

Kasus Korona di Mataram Kembali Meningkat

Tren kasus Covid-19 dalam sepekan terakhir mengalami peningkatan. Terjadi penambahan kasus tiap hari. “Biasanya kasus baru positif satu, dua. Tapi tadi malam sepuluh orang yang positif,” kata Juru Bicara Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kota Mataram I Nyoman Suwandiasa, kemarin (17/9).

TGB Minta Kasus Penusukan Syaikh Ali Jaber Diusut Tuntas

Mantan Gubernur NTB yang juga ulama TGB M Zainul Majdi menyinggung kasus penusukan terhadap salah satu ulama nasional Syaikh Ali Jaber. Menurutnya, di balik kasus penusukan ini, ada upaya untuk memecah belah umat dan bangsa Indonesia.

Kampung Sehat NTB Jadi Energi Baru Penanganan Covid-19

Program Kampung Sehat yang diinisiasi Polda NTB mendapat sambutan hangat dari masyarakat dan telah memberi dampak nyata pada upaya memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalilah pun tak sungkan memberikan apresiasi yang tinggi pada Polda NTB atas program inovatif ini.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Pemda di NTB Wajib Daftarkan Honorer Ikut BPJS Ketenagakerjaan

"Seluruh tenaga kerja di NTB, baik yang ada di lingkungan pemerintah atau pun swasta, baik sektor formal maupun informal wajib mendapatkan jaminan sosial ketenagakerjaan," tegas Wisma.
Enable Notifications    Ok No thanks