alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Pengrajin Cukli Babak Belur

MATARAM-Pengrajin cukli di Kelurahan Sayang-Sayang, jumlahnya terus berkurang. Ini disebabkan karena permintaan pasar yang terus melemah dalam beberapa waktu terakhir.

Romi Karmin, Lurah Sayang-Sayang, Cakranegara bahkan mengatakan tidak sedikit pengrajin beralih pekerjaan. Sekedar untuk memastikan dapur mengepul setiap hari. Salah satunya dengan menjadi pengepul rongsokan.

“Karena pesanan cukli tidak setiap hari masuk. Sedangkan pengeluaran selalu ada setiap hari,” tutur Romi.

Pihaknya sudah mendorong semangat para pengrajin. Tetapi rantai produksi terputus karena barang tidak tahu harus dijual ke mana. Kondisi ini pun membuat para pengrajin di dua kantong produksi cukli, Rungkang Jangkuk dan Lendang Ree sepi dalam beberapa waktu terakhir.

“Hidup segan mati tak mau. Intinya mereka babak belur,” ujarnya.

Ditambahkan Romi, para pengrajin sempat dapat bantuan modal dari Bank BUMN. Bantuan permodalan itu sempat memompa denyut ekonomi para pengrajinan untuk beberapa waktu.

“Tapi karena tidak tahu harus dijual ke mana, ya berhenti lagi,” ungkapnnya.

Jumlah pengrajin dengan permintaan tak sebanding. Ini pun sulit membawa dampak pemerataan ekonomi bagi para pengrajin. Karenanya, wajar akhirnya mereka mencoba mencari mata pencaharian lain. Untuk terus memastikan kebutuhan ekonomi setiap hari terpenuhi dengan baik.

“Kalau saja kita bisa bantu mereka dengan promosi, saya yakin usaha ini bisa bangkit lagi,” terangnya.

Romi melanjutkan tidak semua pengrajin melek teknologi. Mampu memanfaatkan jaringan internet untuk berpromosi usaha. Pun yang paham teknologi, permintaan di luar daerah tidak sebesar yang diharapkan. Sehingga pendapatan belum bisa dikatakan maksimal menggenjot ekonomi para pengrajin.

“Sebenarnya kalau mau, buat saja regulasi yang memungkinkan agar hasil kerajinan cukli warga bisa dibeli oleh pemerintah,” terangnya.

Romi membenarkan, Cukli memang sudah masuk di beberapa kantor dinas. Seperti di ruangan kantor wali kota, gedung dewan, dan beberapa ruangan kepala dinas lain. Tapi sebenarnya belum semua kantor dinas, kantor kecamatan, hingga kelurahan yang telah memiliki parabotan atau mebel dari cukli.

“Belum semua, kalau itu diharuskan agar mereka beli produk cukli, saya yakin para pengrajin kita akan bangkit lagi,” yakinnya. (zad/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks