alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Berbincang dengan Pecalang yang Setia Menjaga Kekhidmatan Catur Brata Penyepian

Setiap perayaan Hari Raya Nyepi, atau acara keagamaan umat Hindu, sosok Pecalang sangat dibutuhkan. Mereka bertugas menjaga keamanan dan kekhyusukkan umat dalam beribadah.

YUYUN ERMA KUTARI, Mataram

==========================

Kondisi jalanan di gang-gang Lingkungan di Kecamatan Cakranegara begitu sepi. Yang riak hanyalah air hujan yang jatuh membasahi tanah. Maklum saja, kemarin umat Hindu sedang merayakan Catur Brata Penyepian.

Tampak ada beberapa sosok pria, berbadan tegap. Sedang melirik ke kanan dan ke kiri. Seperti sedang memastikan suasana kondusif.

Dengan penuh kehati-hatian, Koran ini menyapa salah satu Pecalang. Atau yang paling sering dikenal sebagai penjaga keamanan. Bertugas untuk mengamankan dan menertibkan anggota banjar, baik dalam penyelenggaraan upacara adat atau keagamaan.

Dia adalah Nengah Putra. Pria 35 tahun ini bercerita soal tentang pengalamannya menjadi Pecalang pada perayaan hari Raya Nyepi kemarin. Dalam menjalankan empat Catur Brata Penyepian, anggota banjar harus mematuhi dan wajib melaksanakan Amati Geni (pantang menyalakan api), Amati Karya (menghentikan aktivitas kerja), Amati Lelanguan (pantang menghibur diri atau menghentikan kesenangan), dan Amati Lelungaan (pantang bepergian).

“Jadi dalam menjalankan ibadah, semua itu tidak boleh dilakukan, karena yang terpenting bagaimana introspeksi diri, apa saja yang telah kita perbuat selama setahun. Kita merenungi diri,” kata Nengah.

Karena itulah, pentingnya peran Pecalang untuk menjaga kondusivitas beribadah dalam menjalankan Hari Raya Nyepi. Meski tidak sama dengan suasana di Bali, namun Nengah bersyukur dalam merayakan hari Raya Nyepi di Lombok, masyarakat yang penuh dengan kemajemukan dan heterogen, semuanya saling menjaga toleransi antar umat beragama.

Begitupun dengan sesama umat Hindu, juga tetap menerapkan toleransi. Nengah mengatakan, sebagai Pecalang, tetap menjaga keamanan lingkungannya. Namun hal itu juga tidak selalu bersifat kaku. Tetap ada keluwesan dari Pecalang, misalnya ada anggota banjar yang baru melahirkan, itu diberikan sedikit kelonggaran untuk menyalakan lampu.

“Kami imbau agar lampu yang menyala hanya kamar tidur si Bayi atau misalnya ada keluarga banjar yang sakit atau tiba-tiba kecelakaan, boleh menyalakan lampu dan kami jelaskan aturannya,” katanya.

Pecalang bertugas menjaga banjar selama 24 jam. Sebab Catur Brata Penyepian dilaksanakan dari jam enam pagi, menuju jam enam pagi di keesokan harinya.

Sehingga sebagai seorang Pecalang, sudah pasti Nengah tidak aktif menjalani Catur Brata Penyepian bersama keluarganya di rumah. Ia mengaku sudah biasa dan ikhlas mengenai kondisi seperti ini.

Memiliki pekerjaan mulia yang harus dikerjakan di luar rumah, bukan berarti ia bisa santai di jalanan. Justru karena itu, ia harus tetap fokus dan bertanggung jawab terhadap keamanan anggota banjar jika ada yang nekat keluar rumah saat Nyepi.

“Karena kalau ibadah tetap kita jalankan, pagi siang sore malam hanya saja kalau ingin ke tempat suci memang tidak bisa karena harus bertugas, baiknya dilakukan sebelum Nyepi,” kata dia.

Nengah menjelaskan, menjadi seorang Pecalang adalah kehormatan. “Tanggung jawabnya yang besar dan bagi saya ini salah satu jalan untuk mengabdi pada masyarakat,” tegasnya.

Berkaitan dengan suasana perayaan Nyepi, Nengah mengatakan tahun ini memang agak sedikit berbeda. Karena tahun-tahun sebelumnya, menjalani Catur Brata Penyepian dalam musim panas atau kemarau.

Kemarin, Kota Mataram terpantau sepanjang hari terus diterpa hujan. Ini membuat tugasnya agak sedikit lega, sebab otomatis kondisi banjar yang sedang ia jaga, lebih kondusif.

Menurutnya, meski tidak ada arti dalam menjalankan Catur Brata Penyepian dalam kondisi kemarau atau pun hujan, namun sebagai seorang umat Hindu, dirinya tetap berharap bahwa hujan yang turun, merupakan pertanda keberkahan yang melimpah dari Tuhan yang Maha Esa.

“Harapan saya di Hari Raya Nyepi ini, semua orang tetap dan saling menjaga toleransi. Dan yang paling penting adalah, kita semua bisa hidup rukun, tentram, dan damai,” tutupnya. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...
Enable Notifications    Ok No thanks