alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Rinai Hujan Warnai Nyepi Tahun Baru Caka 1941

MATARAM-Sepi menandai istirahatnya alam. Hening memberi waktu merenungi kehidupan. Umat Hindu Dharma di Mataram mengawali tapa brata penyepian, begitu Rabu Malam (6/3) perlahan terlelap. Dalam gelap yang membutakan.

Lampu-lampu dipadamkan. Keramaian pawai Ogoh-Ogoh dari pagi hingga sore hari di kawasan Cakranegara, memudar dari ingatan. Petang pun merangkak tua. Menjadi malam yang menggulita.

Bau menyengat minyak tanah dan sambaran api yang membara. Antara pemuda Negara Sakah dan Sweta di Tugu Tani, Cakranegara pun sayup-sayup berganti hening. Sementara patung Ogoh-Ogoh penolak Bala di gang-gang kawasan Hindu, semakin basah oleh bulir embun yang dingin.

“Saya rasa kalau pemaknaan Nyepi itu dilaksanakan dengan baik Pemilu kita nanti akan berjalan damai,” kata Wali Kota Mataram H Ahyar Abduh.

Nyepi tak sekedar menandai tibanya masa merenung dalam keheningan. Tetapi juga waktu untuk menyelipkan harapan dan janji yang kuyat. Di tahun baru Caka yang baru ini harus lebih baik lagi.

“Ini Nyepi untuk tahun baru Caka 1941, yang kemarin 1940 kan,” imbuh Ahyar.

Ahyar mengaku bahagia. Mataram bisa jadi contoh. Heterogennya suku dan keyakinan masyarakat, justru telah mempererat persaudaraan yang muncul.

Pawai Ogoh-Ogoh sebelum Nyepi dan perang api tak hanya jadi hiburan masyarakat Hindu-Bali. Tetapi juga masyarakat Kota Mataram secara umum.

“Ini kebersamaan yang nyata dan harus kita jaga,” ajaknya.

Ahyar mengaku juga sempat belajar tentang Catur Brata Penyepian. Di mana masyarakat Hindu larut dalam penyepian yang utuh. Pantang menyalakan api atau amati geni selama Nyepi. Pantang berkarya atau beraktivitas disebut Amati Karya. Lalu pantang menghibur diri dan senang-senang atau amati lelanguan.

“Lalu tadi ada amati lelungaan atau pantang berpergian,” ujarnya.

Dalam konteks menghadapi pemilu, Ahyar berharap Amati Geni bisa benar-benar dihayati dengan baik. Karena api dalam hal ini tidak hanya berarti tekstual. Tetapi kontekstual. Bukan hanya dalam arti harfiah tetapi juga maknawi api itu sendiri.

Sementara itu, pada hari Nyepi Kamis (7/3) kemarin, hujan terpantau turun deras dan cukup lama. Dari inforgrafis BMKG yang diterima Lombok Post, mendung menutupi hampir tigaperempat pulau Lombok. Sementara Kota Mataram ditutupi menyeluruh.

Hujan turun dari pukul 14.50 wita. Dan terus turun hingga sore hari. Di tengah alam yang istirahat dalam sepi. Rinai hujan membasuh bumi menambah kesejukan dalam nyepi.

Ketua Panitia Pelaksana Pecaruan dan Ogoh-Ogoh Kota Mataram AA Made Djelantik Agung Barawangsa menyebut, 123 Ogoh-Ogoh menyemarakan pawai Ogoh-Ogoh hingga tiba waktu senja. Sebanyak 111 diantaranya dari Kota Mataram. Sedangkan 10 Ogoh-Ogoh partisipasi dari masyarakat Hindu Kabupaten Lombok Barat.

“Ada dua Ogoh-Ogoh lainnya dari Kabupaten Lombok Tengah,” terang Brawangsa.

Pria yang juga Krama Pura Meru, ini mengatakan Ogoh-Ogoh merupakan media efektif. Mengenalkan anak muda Hindu tentang wujud-wujud Bhuta Kala.

“Dari jumlah memang berkurang dibanding tahun lalu, tapi kualitasnya dan tetap sama,” tegasnya.

Ketua Paisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Mataram Ida Made Santi Adnya, menyampaikan substansi energi Ogoh-Ogoh dan Nyepi lebih dari semangat berparade dan atraksi buaya.

“Ada pesan pesan persatuan dan persaudaraan yang ingin dibawa,” terangnya.

Meski saat ini suhu politik tengah panas. Jelang Pilpres dan Pileg. Adnya berharap momen ini dapat memperkokoh presaudaraan kembali. Uniknya Adnya juga berpesan agar warga Hindu tetap memperhatikan lingkungan. Selama berparade.

“Mari sambut tahun baru Caka 1941 yang damai,” harapnya.

Sementara itu, di sisi kota lain begitu Umat Hindu Kota larut dalam nyepi. Perlahan-lahan kota kembali terlihat bersih. Begitu para petugas kebersihan dan pemulung berjibaku mempercantik wajah ibu kota kembali.

Tradisi Perang Api

Sekadar diketahui, setelah pawai Ogoh-Ogoh digelar, ada tradisi Perang Api. Tradisi inisangat dinanti para pemuda banjar Negarasakah dan banjar Sweta, Kelurahan Mayura.

Cuaca mendung dan gerimis tidak menyurutkan para pemuda yang akan melakukan perang api. Sebelum matahari terbenam, para pemuda melakukan perang api dengan membakar gobok (daun kelapa yang sudah kering). “Ini tradisi turun-menurun,” kata banjar Sweta I Komang Sumarsana.

Dalam tradisi tersebut, dua kelompok pemuda ini saling berhadapan. Mereka berperang dengan senjata gobok yang dibakar.

“Ritual ini ini untuk mengusir wabah penyakit yang dibawa roh-roh jahat yang ada di muka bumi mengganggu manusia. Ini kami lakukan dengan cara perang api,” sebut Komang.

Ketika gobok telah menyala, kedua kelompok pemuda itu pun bergerak. Mereka berlari sambil memutar gobok guna memukul lawan. “Ini tiap tahun kami lakukan usai pawai Ogoh-Ogoh,” sebutnya.

Meski api terlihat membara dan pemuda ini terlihat beringas pada saat perang. Dua banjar yang berbeda tetap menjaga persaudaraan dan saling menghargai. Usai perang, mereka berpelukan dan bersalaman sebagai wujud kokohnya persatuan menjaga tradisi leluhur mereka.

Sementara itu Tokoh Adat Hindu Banjar Negarasakah  I Wayan Rauh mengatakan, tradisi ini memiliki makna melawan hawa nafsu, emosi, ambisi. “Darma (kebaikan) melawan darma (keburukan),” terang pria yang juga menjadi ketua RT 5 Negarasakah Utara ini.

Ia berharap dengan perang api bisa menjaga kebersamaan, saling menghargai, dan menghormati. Serta hidup rukun damai sesama manusia. “Perang api harus dijaga dan dirawat agar nantinya tidak punah,” harapnya. (zad/jay/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

HARUM Goda Pemilih Millenial Lewat Lomba Film Pendek dan E-Sport

Bakal Calon Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana mencoba menggoda pemilih milenial. Caranya, dengan menggelar film pendek dan e-sport. "Orang yang menggeluti dunia film tidak banyak. Bagi sebagian orang ini ekslusif. Prosesnya panjang," kata Mohan Sabtu malam (19/9) lalu.

Cerita Shaina Babheer saat Memerankan Sosok Kikin dalam film MOHAN

Shaina Azizah Putri dipilih untuk memerankan sosok Kikin Roliskana dalam film pendek berjudul "Mohan". Ini menjadi tantangan baru bagi dara yang sudah membintangi beberapa sinetron dan FTV nasional ini.

“Menara Eiffel”di Desa Seruni Mumbul Lombok Timur Ramai Pengunjung

Pengelola wisata Denda Seruni, Desa Seruni Mumbul, Kecamatan Pringgabaya tak ingin puas dengan keberhasilannya menyedot wisatawan. Realisasi target PADes Rp 30 juta per bulan harus dapat bertambah.

Bale Mediasi Lotim Damaikan Delapan Perselisihan

SELONG-Permohonan mediasi terus berdatangan ke Bale Mediasi Lotim. “Sudah ada 36 permohonan yang masuk,” kata Koordinator Administrasi Bale Mediasi Lotim Lalu Dhodik Martha Sumarna pada Lombok Post, kemarin (18/9).

Korem 162/WB Gelar Bakti Sosial di KEK Mandalika

Sejumlah kegiatan bakti sosial di gelar Korem 162/WB dalam rangka menyambut HUT TNI ke-75 di Loteng. “Terima kasih TNI karena menggelar salah satu rangkaian HUT-nya, di daerah kami tercinta,” ujar Asisten II Setda Loteng H Nasrun, kemarin (18/9).

Dugaan Korupsi Pembangunan RS Pratama Dompu Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pembangunan Rumah Sakit (RS) Pratama Manggelewa, Dompu, tahun 2017 sebentar lagi rampung. ”Kira-kira dua minggu lagi kita naikkan ke penyidikan,” kata Direktur Reserse Kriminal Khusus (Dirreskrimsus) Polda NTB Kombes Pol I Gusti Putu Gede Ekawana Putra, kemarin (18/9).

Paling Sering Dibaca

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Hasil Uji Diragukan, Dua Merek Alat Rapid Test asal China Dipakai di NTB

MATARAM-Dua dari tiga merek alat rapid test yang diragukan akurasinya dipakai di NTB. Yakni VivaDiag dan Wondfo. ”Itu kami dapat bantuan dari pusat, silahkan...
Enable Notifications    Ok No thanks