alexametrics
Senin, 15 Agustus 2022
Senin, 15 Agustus 2022

Manggung Setelah Absen Sepuluh Tahun, Begini Perasaan Mohan

Naluri memang tidak bisa dibohongi. Jika di dalam ‘DNA’ sudah mengalir darah musik, mau dibungkus sekaku dan formal apapun, bawaannya tetap ingin goyang. Yo men!

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

=================

BISIK-bisik. Rupanya, Mohan Roliskana sempat menolak manggung, Minggu (7/4) malam itu. Padahal ia sudah berpenampilan oke banget.

Wakil Wali Kota Mataram itu sempat ragu. Apa ia bisa tampil kece seperti dulu lagi. Maklum 10 tahun meninggalkan panggung hiburan. Lalu melupakan jeritan histeris para fans yang begitu mudah membakar adrenaline.

“Saya cuma tidak mau ngore (menganggu),” celetuk Mohan sembari tersenyum.

Alasan lainnya masih sama. Mohan harus menempatkan dirinya secara profesional. Ia pendamping kepala daerah. Wibawa, harus tetap di jaga. Tapi bagaimana? Naluri seniman itu terus memacu detak jantungnya.

Apa kata orang kalau ia jingkrak-jingkrak di depan warga yang memadati Lapangan Sangkareang? Sedangkan Reggae, mana asyik tanpa goyang. Bagai sayur tanpa air. Bukan lagi sayur tanpa garam. Kering.

“Tapi teman-teman, terus meminta saya manggung,” kisahnya.

Mohan mengaku dilema. Sampai harus memperdebatkan dalam hati, dosa tidak bila ia berdiri dan memainkan gitar? Orang-orang di bawah panggung pun berteriak. Minta Amtenar — grup band Mohan sebelum jadi Wakil Wali Kota — memainkan atraksi musik yang lebih. Lebih greget.

“Apalagi saya tidak ada persiapan khusus. Saya bimbang,” akunya.

Sampai akhirnya dengan segala pertimbangan. Sampai kehabisan alasan untuk menolak. Mohan, akhirnya mau. Maka gegap-gempitalah, sorak-sorai penonton. Excited. Tapi begitu maju. Mohan masih mengajukan syarat.

Baca Juga :  Berbincang dengan Nurudin, Penjaga Bank Sampah Lisan, Kebon Talo

“Mau, asal di pojok. Bukan di depan,” ujarnya.

Maka jadilah perform sang Rising Star yang berdiri di pojokan. Sudut sempit. Gelap lagi.

Walau begitu, harapan penonton setidaknya terpenuhi. Amtenar benar-benar memenuhi harapan para fansnya. Menampikan perform berbeda di Minggu (8/4) malam itu.

Banyak yang surprise. Melihat penampilan orang nomor dua itu di pojokan. Bergoyang dengan gestur kikuk. Bahkan genjrengan (baca: rhytem) gitarnya terlihat masih power full. Oke punya.

Tapi tahukah? Jika saat itu Mohan grogi bukan kepalang? Ia benar-benar khawatir merusak perform Amtenar, karena sudah lama tidak memainkan gitar listrik.

“Jadi kalau tidak yakin saya kecilkan volume musik gitar saya, takut ganggu harmonisasi musiknya,” bebernya sembari tersenyum.

Manggung bersama Amtenar malam itu, benar-benar membuat Mohan seperti deja vu. Terlempar ke kehidupan, tanpa formalitas dan protokoler yang kaku. Mohan menemukan kembali kemerdekaannya, dalam hentakan musik dan distorsi musik yang sangat harmoni. Nikmat!

“Orang-orang akan mudah tahu, kalau musiknya tidak harmoni pasti itu dari gitar saya. Makanya saya agak sembunyi,” kelakarnya.

Tiga lagu manggung bersama Amtenar membuat hausnya ia pada dunia hiburan terobati. Salah satu lagu karyanya yang pecah di blantika musik “Kau dan Warnamu” salah satu yang ia bawakan malam itu.

Mohan sebenarnya beberapa kali terlihat memainkan gitar di depan publik. Tapi bukan momen di mana ada sorak sorai fans yang berdiri berjam-jam setia di bawah panggung. Lalu ikut bernyanyi.

Baca Juga :  Alih Fungsi Bikin Lahan Pertanian Mataram Semakin Menyusut

“Selebihnya ya di rumah, main sendiri,” kisahnya.

Begitu cara Mohan mengobati rindunya pada dunia musik. Mohan yang dulu sejatinya tidak banyak berubah dengan Mohan kini. Ia tetaplah pria yang mencintai seni, sekalipunn badannya kerap dibungkus pakaian resmi.

“Saya pikir (Penampilan) itu cukup, itupun karena saya ingin menghormati juga semangat teman-teman seniman yang ingin menyuarakan perdamian malam itu. Jadi bukan semata ingin aksi di panggung musik,” tegasnya.

Ada semangat luhur dari aksi musik di Lapangan Sangkareang, Minggu (8/4) kemarin. Yakni menyuarakan tentang perdamaian bagi bangsa. Mohan dan para pemusik itu, merasakan ada iklim politik yang berbeda tahun ini di banding tahun-tahun sebelumnya.

“Bukan hanya saya ya, tapi saya rasa teman-teman seniman dan banyak lagi yang lain merasakan tahun ini iklimnya sedikit lebih panas,” kata Mohan.

Para seniman musik itu, tidak bisa berorasi. Layaknya, para politisi atau tokoh negara yang menyerukan pentingnya perdamianan dan persatuan. Tapi mereka punya cara dan wadah berbeda untuk menyerukan pesan damai pada seluruh negeri.

“Ya melalui musik, mereka coba menyuarakan semangat persaudaraan,” ulasnya.

Salah satu momen kolosal yang paling menarik dari pertunjukan Minggu itu, saat sekitar 400 pemusik manggung bersama. Lalu menyanyikan lagu yang menginsiprasi tentang rasa persudaraan, rasa kebersamaan, dan rasa cinta pada negeri.

“Lagu Rumah Kita, itu kita mainkan secara bersama-sama, hanya untuk memberi kabar pada negeri, mari kita rukun dan damai, selama pemilu dan setelah berakhir nanti,” harapnya. (*/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks
/