alexametrics
Senin, 21 September 2020
Senin, 21 September 2020

Uang Korban Gempa Dicuri Mandor

MATARAM-Aksi sejumlah pihak yang mempermainkan para korban gempa rupanya belum ditindak tegas aparat penegak hukum. Apa yang terjadi di Lombok Utara ini menjadi bukti. Ada mandor yang membawa lari upah tukang untuk pembangunan rumah korban gempa. Nilainya puluhan juta.

Tapi, mereka belum ditangkap aparat penegak hukum sampai sekarang. Solusi untuk warga korban gempa yang upah tukangnya dibawa kabur pun belum ada. Akibatnya, sudah setahun, para korban tinggal di hunian sementara (huntara).

Hal itu terjadi di Dusun Luk Timur, Desa Sambik Bangkol, Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara. Uang ongkos tukang di desa itu dibawa kabur oleh mandor. Satu mandor asal Sumbawa membawa uang ongkos tukang senilai Rp 70 juta, kemudian mandor lainnya asal Madura membawa kabur uang Rp 80 juta.

Uang itu diberikan aplikator untuk membayar upah tukang. Tapi keduanya kini sudah menghilang. Akibatnya, pembangunan rumah di desa itu mangkrak. Para tukang berhenti bekerja sebelum hari raya Idul Fitri lalu. Rencananya pekerjaan akan dilanjutkan setelah Lebaran, namun hingga saat ini belum ada kejelasan.

Warga yang harusnya sudah bisa menempati hunian tetap akhirnya tetap tinggal di huntara tanpa kepastian. Seperti Papuq Nurinah, dia tidur di huntara ukuran 1 x 2 meter. Sementara rumah instan konvensional (Riko) masih berupa tiang-tiang kerangka baja dan pondasi.

”Ini dah rupanya,” kata Papuq  Nurinah sambil tersenyum menunjuk ke arah rumahnya, kemarin (9/8).

Hingga kemarin, tidak ada lagi tukang yang datang melanjutkan pembangunan. Sebagai orang tua dia hanya bisa pasrah.

”Untung saya dibuatkan Huntara sama anak saya,” katanya.

Sohri, warga lainnya mengatakan, dia menyesalkan aplikator tidak pernah datang mengecek pekerjaan tukangnya. Mereka menyerahkan begitu saja kepada mandor, kini mandornya hilang membawa kabur uang ongkos tukang. Dampaknya, rumah-rumah warga belum selesai dibangun.

”Sudah tiga bulan ditinggalkan tukang,” katanya.

Terkait mandor yang membawa uang ongkos tukang, warga dan Pokmas tidak mau tahu. Pihak yang bertanggung jawab adalah aplikator. Pokmas sudah memberikan uang kepada mereka. Aplikator kini harus bertanggung jawab sampai rumah warga benar-benar rampung.

”Harapan kami supaya cepat jadi sebelum musim hujan,” kata Sohri.

Julianto, warga lainnya mengungkapkan, yang membawa kabur uang itu adalah pemborong yang dipercaya mengerjakan pembangunan, bukan aplikator. Tetapi warga meminta pengusaha tetap bertanggung jawab.

Selain dua orang yang membawa kabur uang itu, ada juga pemborong asal Lombok Timur yang berhenti. Mereka mengaku tidak sanggup membayar lagi karena salah perhitungan. Pemborong mengupah tukang dengan pola tenaga harian. Tukang diberi Rp 100 ribu dan peladen Rp 80 ribu per hari. Hanya saja, pemborong mengambil uang di aplikator dengan sistem borongan.

”Nah di (upah) harian itu tempatnya kalah, dia tidak ada lagi uang untuk gaji tukang, akhirnya kabur,” jelasnya.

Di Dusun Luk Timur ada lima Pokmas yang ditangani satu aplikator. Kasusnya hampir sama, namun pengerjaan beberapa rumah saat ini masih berlanjut. Warga masih menunggu giliara dikerjakan rumahnya, sebab satu aplikator menanganai lima Pokmas.

Syafruddin, Ketua RT 06 Dusun Luk Timur, Desa Sambik Bangkol, Kecamatan Gangga menyebutkan, RT-nya ada 276 rumah rusak berat (RB) dan 80 rumah rusak sedang dan ringan. Sudah setahun proses pembangunan, tetapi baru jadi pondasi dan tiang saja. Namun, beberapa rumah sudah hampir rampung, dalam arti struktur kerangka dan atap sudah jadi.

”Kami harap pemerintah memperhatikan kami yang di KLU ini,” katanya.

Progres pembangunan rumah baru 60 persen. Pembangunan terkendala tukang dan bahan bangunan yang minim. Kalaupun ada, harganya mahal. Sementara di satu sisi, bantuan dari pemerintah untuk membangun rumah juga terbatas.

Terkait kondisi itu, Kepala Pelaksana BPBD NTB H Ahsanul Khalik mengatakan, dalam kasus seperti itu pihaknya menduga ada permainan dari oknum Pokmas. Dalam kasus seperti itu, aplikator harus tetap bertanggung jawab untuk melanjutkan pengerjaan.

”Saya sudah bicarakan hal ini dengan APH dan akan ditindaklanjuti,” katanya.

Dia memastikan, kasus seperti ini tidak hanya terjadi di KLU tetapi juga daerah lain, seperti Narmada, Lombok Barat. Semua oknum yang bermain akan didalami perannya. Perbuatan itu jelas merugikan masyarakat penerima bantuan stimulan.

”Tapi kasus ini sifatnya kasuistis, tidak semua daerah,” katanya.

Iamenyebutkan, data terbaru menunjukkan, jumlah rumah tahan gempa yang selesai dibangun 61.948 unit dan dalam proses pembangunan 100.958 unit. Jika ditotal jumlah rumah terbangun mencapai 162.906 unit rumah dari total 222.564 unit rumah rusak. Artinya sebagian besar sudah terbangun, tersisa 59.658 unit rumah belum terbangun, baik rusak berat, rusak sedang, dan rusak ringan. (ili/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Ada Apa dengan Pulau-pulau Kecil?

SAYA diundang oleh Ketua LPPM Unram, Dr. Muhammad Ali dalam diskusi untuk merevisi Rencana Induk Penelitian Universitas Mataram lima tahun ke depan. Salah satu bagian yang cukup alot diskusinya adalah ketika mendiskusikan fokus penelitian di Unram. Mengapa harus ada fokus?

Penyuntikan Vaksin Korona Untuk Warga Dimulai Januari 2021

Pemerintah telah bekerja sama dengan Uni Emirat Arab dan mendapatkan vaksin untuk Covid-19 sebanyak 20 juta dosis. Rencananya, vaksin mulai didistribusikan pada Desember.

Kampung Sehat, Warga Desa Setanggor Semangat Gotong Royong

GAIRAH warga Desa Setanggor, Kecamatan Praya Barat sedang menggebu-gebu untuk mewujudkan lingkungan mereka yang bersih dan sehat. Karena itu, jangan heran manakala menemukan semangat gotong royong masyarakat di desa ini sangat tinggi.

Satu Gerakan, Warga Desa Kuripan Lawan Penyebaran Covid-19

Warga Desa Kuripan kian konsisten menerapkan protokol kesehatan. Apalagi setelah berhasil menyabet juara pertama untuk tingkat kabupaten di lomba Kampung Sehat. Sederet inovasi pun telah disiapkan Desa Kuripan.

Simulasi KBM Tatap Muka SMA Sederajat di NTB Pekan Kedua Dimulai

Simulasi KBM tatap muka untuk SMA sederajat di NTB memasuki pekan kedua. ”Sambil kami tetap memantau perkembangan penyebaran Pandemi Virus Korona,” kata Kepala Dinas Dikbud NTB H Aidy Furqan, pada Lombok Post, Minggu (20/9/2020).  

Mendikbud Pastikan Wacana Penghapusan Mapel Sejarah Hoaks

”Tidak ada sama sekali kebijakan regulasi atau perencanaan penghapusan mata pelajaran sejarah di kurikulum nasional,” tegas dia.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.

Di Tengah Pandemi Korona, Dua Murid SMP di Lombok Tengah Menikah

Saat sekolah tak kunjung dibuka karena Pandemi Korona dua pelajar SMP di Lombok Tengah memilih untuk melangsungkan pernikahan Sabtu (12/9) lalu. Mereka adalah Suhaimi, kelas 2 SMP asal  Desa Pengenjek, Kecamatan Pringgarata menikahi Nur Herawati, kelas 1 SMP.
Enable Notifications    Ok No thanks