alexametrics
Sabtu, 23 Oktober 2021
Sabtu, 23 Oktober 2021

Belum Tersentuh Bansos, 1.600 Warga Mataram Terima Bantuan UNDP

MATARAM—Transform bekerja sama dengan United Nations Development Programme (UNDP) menyalurkan bantuan perlindungan sosial dan pelatihan paska pandemi kepada warga di Kota Mataram. Sebanyak 1.600 warga tercatat sebagai penerima. Mereka adalah warga miskin dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang tidak tersentuh bantuan sosial dari pemerintah pusat dan daerah.

“Sasaran penerima bantuan perlindungan sosial mengacu pada DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial),” kata Direktur Transform Markum pada Lombok Post.

Nama-nama penerima bansos perlindungan sosial mengacu DTKS dengan langsung turun melakukan verifikasi dan validasi ke warga. Jika ada warga yang namanya masuk DTKS tapi dianggap mampu, maka akan dialihkan ke yang lain.

“Intinya penerima bantuan ini yang belum tersentuh bantuan sosial dari pusat, baik itu Program Keluarga Harapan (PKH), Bantuan Pangan Non Tunai (BPNT), Bantuan Sosial Tunai (BST), dan bantuan sosial lainnya,” tutur dia.

Dikatakan, bantuan ini bukan hanya dalam bentuk uang tunai Rp 400 ribu untuk masing-masing kepala keluarga (KK). Namun bantuan ini juga menyasar pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) Kota Mataram dengan memberikan pelatihan. Seperti pembuatan kue, menjahit, tata rias, desain grafis, dan sebagainya.

“Setelah pelatihan tentu ada perencanaan untuk membeli alat sesuai kebutuhan. Tapi kami tidak memberikan alat, namun uang tunai agar lebih transparan,” urainya.

Dijelaskan, 1.600 KK penerima manfaat di bagi menjadi dua. Program perlindungan sosial 640 KK dan pembiayaan inovatif sebanyak 960 KK.

Untuk pelatihan pembiyaan inovatif dilakukan di enam kecamatan. Seperti di Kecamatan Sandubaya dilakukan di Kelurahan Selagalas, Kecamatan Cakarenagara di Kelurahan Sayang-Sayang, Kecamatan Selaparang di Kelurahan Rembiga, Kecamatan Mataram di Kelurahan Pagesangan, Kecamatan Sekarbela di Kelurahan Karang Pule, dan Kecamatan Ampenan di Kelurahan Banjar.

“Kita harapkan setelah ada pelatihan, warga bisa mengembangkan usahanya,” harapnya.

Sementara untuk program perlindungan sosial bukan hanya menyasar warga miskin terdampak Covid-19. Namun juga kalangan lanjut usia (lansia), fakir miskin, dan kaum difabel. “Penyaluran dalam bentuk uang tunai, kita kerja sama dengan Kantor Pos. Warga menerima bantuannya di Kantor Pos,” ucapnya.

Dijelaskan, penyaluran bantuan dilakukan dua tahap. Pertama dilakukan September dan kedua dilakukan Oktober. “Penyaluran bantuan tepat sasaran dan berjalan lancar,” kata dia.

Project Manager Transform Alfian Pujian Hadi mengatakan, program ini bertujuan merumuskan metode pembiayaan inovatif untuk masyarakat yang terkena dampak negatif, baik secara sosial maupun ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Disamping itu, merumuskan program inovatif untuk pemulihan ekonomi masyarakat, baik jangka pendek maupun jangka panjang. “Kami juga merancang dan menerapkan langkah-langkah  perlindungan sosial melalui skema kegiatan pembiayaan inovatif untuk mengurangi dampak pandemi Covid-19 bagi masyarakat rentan dan miskin,” ujarnya.

Tahapan penetapan penerima manfaat dimulai dari proses komunikasi dengan tiga organisasi perangkat daerah (OPD). Diantaranya, Bappeda, Dinas Sosial, Dinas Perindustrian, Koperasi dan UKM Kota Mataram.

Tahap awal yang dilakukan berupa kesepakatan penggunaan sumber data. Sehingga diperoleh kesepakatan menggunakan DTKS. Sesuai target program ditetapkan sasaran penerima manfaat sebanyak 1600 KK yang terbagi dalam tiga kategori layanan. Yakni, layanan sosial 40 persen atau 640 KK, layanan bantuan peralatan 60 persen atau  960 KK.

“Sasaran dalam proyek ini adalah mereka yang paling berisiko terkena Covid-19. Seperti penyandang disabilitas, lanjut usia, perempuan, keluarga miskin, pengangguran, dan UMKM,” ucapnya.

Adapun kriteria penentuan penerima dibagi menjadi dua kelompok. Yakni kelompok penerima bantuan perlindungan sosial dan kelompok bantuan pelatihan dan pembiayaan inovatif.

Kriteria kelompok pertama adalah yang tergolong sangat miskin yang akan menerima dana perlindungan sosial melalui transfer tunai yang terdiri dari masyarakat sangat miskin dengan pendapatan kurang dari Rp 500 ribu per bulan, orang cacat, dan lanjut usia.

“Warga akan menerima nilai transfer 40 persen dari anggaran pembiayaan sosial pendukung,” ucap Puji.

Sedangkan kriteria kedua lanjutnya, sekelompok penerima pelatihan inovatif dan pembiayaan yang mencakup orang rentan yang memiliki bisnis atau yang memiliki motivasi untuk berbisnis. Kelompok ini mencakup peserta dengan pendapatan berkisar antara Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta orang per bulan.

“Warga yang menerima bantuan ini yang memiliki usaha kecil atau menengah yang usahanya produktif terdampak pandemi Covid-19 namun tetap memiliki motivasi bisnis. Terutama perempuan, penyandang disabilitas, dan remaja,” tukasnya. (jay/r3)

 

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks