alexametrics
Rabu, 30 September 2020
Rabu, 30 September 2020

Nita Home Bakery, Bisnis Roti yang Lahir dari Semangat Sosial

Keprihatian pada sesama tidak hanya melahirkan rasa iba. Tapi kadang memotivasi seseorang untuk berani berbuat. Bergerak membantu sesama.

======================

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram         

USAHA yang ini memang baru seumur jagung. Nita Hermawati pemilik industri rumahan ini pun masih ingat dengan baik. Ia memulai usaha ini pada Kamis 24 Januari 2019 lalu. Tapi, sekalipun baru mencium aroma bisnis toko roti. Nita sudah terkaget-kaget dengan pesanan yang bejibun.

“Tidak ada niat membuka usaha sebenarnya. Tapi di kantor saat itu ada pisang yang begitu disukai teman-teman,” kenang Nita.

Nita sama sekali tak menyangka. Pisang itu justru membuka takdir baru usaha rumahannya. Di rumah pisang itu, ia olah menjadi adonan. Kemudian dengan gen pembuat roti yang ia warisi dari sang ibu, Nita membuat sebuah Bolu Pisang Kukus.

“Saat masih kecil, saya memang sering bantu ibu buat kue kukus. Tapi itu 25 tahun lalu, dan saya baru buat kue lagi baru-baru ini,” kisahnya.

Ada jeda waktu yang sangat lama. Sampai akhirnya Nita kembali mencoba-coba buat kue. Sembari mengingat bagaimana ibunya dulu mengajarinya.

Nita mulanya tak terlalu peduli soal rasa. Ia hanya ingin pisang itu tak mubazir. Barangkali dengan membentuknya jadi lebih menarik, orang akan semakin tertarik untuk menikmatinya.

“Keesokan harinya saya bawa ke kantor. Saya bekerja di Dinas Sosial Provinsi NTB,” ujarnya.

Di luar dugaan, rupanya teman-teman kantor Nita menyukai. Ia pun senang makanan pisang itu tidak mubazir. Bahkan beberapa temannya meminta dibuatkan lagi. Nita pun mememenuhi permintaan lagi.

Ia mengaku senang. Mengolah pisang yang awalnya tak terlalu disukai teman-temannya. Menjadi kue yang membuat mereka ketagihan. Setidaknya antusiasme itu menandai kemampuan ia dalam membuat kue juga teruji.

“Memang sih tidak pakai pisang saja, ada tepung, telur, dan beberapa isi kulkas yang bisa saya pakai buat kue. Tapi hampir di bilang saya merintis usaha ini dari pisang tadi,” ujarnya.

Tiga kali Nita membuat kue. Tiga kali itu pula teman-temannya selalu merespons baik dan suka. Ia lantas berpikir bagaimana kalau untuk keempat kalinya tidak gratis. Tetapi dijual dengan harga yang ramah kantong teman-temannya.

“Sebenarnya alhamdulillah gaji saya cukup. Tapi ada hal lain yang membuat saya terdorong ingin tetap menjalankan usaha ini,” ungkapnya.

Hal lain itu adalah keseharian Nita yang selalu berhadapan dengan anak-anak berkebutuhan khusus dan kaum disabilitas. Nita yang juga seorang pekerja sosial di sana selalu tersentuh melihat kehidupan mereka dengan segala keterbtasannya.

“Andai saja saya bisa bantu mereka, terutama para kaum disabilitas yang ada di luar dengan sedekah materi, mungkin kehidupan mereka sedikit akan lebih ringan,” ungkapnya.

Sejak itu Nita pun semakin semangat untuk membuat home industri roti. Ia menghitung-hitung dalam satu roti, ia bisa dapat untung sekitar Rp 5 ribu. Karenanya seribu rupiah dari hasil penjualan roti itu, ia donasikan. Kemudian diberikan pada kaum disabilitas.

“Saya pun mengkampanyekan jargon ‘belanja sambil beramal’,” ujarnya.

Niat baik Nita disambut baik rekan-rekannya. Tak hanya teman kantor Nita pun berusaha memanfaatkan media sosial dan aplikasi sosial lainnya untuk menjual produknya. Satu per satu teman-temannya tertarik membeli hingga ada yang berkali-kali repeat order.

Pesanan tidak hanya datang dari sekitar. Tetapi hingga luar daerah, seperti Sumbawa, Bandung, hingga Kalimatan. Dalam sehari Nita mengaku harus membuat 20-30 pcs roti. Dengan berbagai macam varian yang di-request.

“Sebenarnya pesanan bisa lebih dari 30 pcs, tapi saya hanya mampu memenuhi pesanan paling maksimal 30. Di luar itu angkat tangan saya,” jelasnya.

Saat ini Nita memenuhi pesanan dibantu anak dan suaminya. Sebenarnya laris manisnya roti Nita sempat didengar seorang chef kafe di wilayah Kekait, Lombok Barat. Chef itu pun sempat menawarkan diri mau jadi karyawan Nita.

“Tapi bagaimana ya, saya masih senang menekuni dulu bersama keluarga,” ujarnya.

Ia tak menampik ke depan ingin melihat usaha itu semakin besar. Tapi saat ini ia ingin merahasiakan resepnya dulu. Lalu tetap membuatnya bersama keluarga kecilnya.

Oh ya. Nita juga mengaku sempat mau berhenti. Ia merasa kesulitan mengatur kerja di kantor dengan pesanan yang bejibun. Tapi seorang teman kantornya Ririn memotivasi Nita.

“Dia (Ririn) bilang ‘jangan batasi harapan orang untuk bisa beramal sambil belanja’,” kutipnya pada pesan temannya itu.

Motivasi sahabatnya itu kembali membakar semangat Nita. Ia pun kini lebih bijaksana membagi waktu. Agar pekerjaan kantornya tidak terganggu. Tetapi ia juga bisa memenuhi permintaan kue dari para pelanggan setianya.

“Sepulang kerja baru saya ke pasar, beli bahan-bahan lalu malamnya buat kue,” jelasnya.

Sampai saat ini, setiap bulan Nita bisa menyisihkan sekitar 750 ribu bagi kaum difabel. Ia senang sekalipun jumlahnya belum terlalu besar. Tapi setidaknya dapat bermanfaat bagi mereka.

“Ada banyak kereasi yang bisa saya buat, semua dari bahan-bahan buah yang menyehatkan. Seperti buah naga, apel, pisang, dan lain-lain. Tergantung pesanan,” tandasnya. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

World Tourism Day, Pembangunan Harmoni Manusia dan Alam

PERUBAHAN arah pembangunan menuju pembangunan berkelanjutan saat ini menjadi tema utama dan agenda universal, termasuk dalam pembangunan disektor kepariwisataan. Pembangunan berkelanjutan yang dimaksud yakni menyeimbangkan dan mengintegrasikan antara pertumbuhan ekonomi, sosial dan lingkungan untuk kelangsungan hidup manusia dan bumi (Resolusi Majlis Umum PBB, 2015).

PLN Diskon 75 Persen Tambah Daya Hingga 3 Oktober

PLN NTB terus mendukung upaya pemulihan ekonomi di masa pandemi. Khususnya bagi pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah dan juga Industri Kecil Menengah. Salah satunya dengan memberikan keringanan Biaya Penyambungan Tambah Daya untuk memberdayakan dan menumbuhkan kegiatan perekonomian UMKM/IKM.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Masih Banyak Masyarakat Yakin Tak Tertular Korona

KESADARAN dan pemahaman masyarakat pada bahaya Covid-19 masih rendah. Hal itu tercermin dari survei Perilaku Masyarakat di Masa Pandemi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Omnibus Law Disahkan, Buruh Ancam Mogok Nasional

Pembahasan RUU Cipta Kerja atau Omnibus Law di DPR yang sudah rampung menimbulkan tanda tanya besar di kalangan pekerja. Sebab, pekerja akan paling terdampak dengan pasal-pasalnya. Salah satunya soal pemberian pesangon.

Optimisme Najmul – Suardi di Tengah Pandemi

Bencana gempa bumi 2018 dan pandemi Covid-19 membawa ujian berat bagi pariwisata di Kabupaten Lombok Utara (KLU). Tetapi semangat tidak boleh padam, masa-masa pandemi harus dilalui dengan penuh keteguhan dan ikhtiar yang kokoh.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks