alexametrics
Kamis, 24 September 2020
Kamis, 24 September 2020

Rp 1,6 Triliun Dana Bantuan Korban Gempa Tahap II Segera Cair

MATARAM-Kabar segar datang dari pemerintah pusat. Dana bantuan pembangunan rumah untuk korban gempa di NTB tahap II akan dicairkan lagi. Jumlahnya Rp 1,6 triliun dari total Rp 2,5 triliun yang diajukan ke Kementerian Keuangan.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB H Muhammad Rum di Mataram, kemarin (11/3) mengungkapkan, pengusulan pencairan dana telah diajukan BNPB ke Kementerian Keuangan. “Kita diberitahu, untuk Rp 1,6 triliun akan segera dicairkan,” kata Rum.

Pencairan tahap II ini akan melengkapi jumlah dana yang telah dicairkan Tahap I yang mencapai Rp 3,5 triliun. Dana Rp 3,5 triliun ini sendiri saat ini sudah berada di rekening para korban gempa. Sebagian lagi ada di rekening milik Kelompok Masyarakat untuk pembangunan rumah. Meski begitu, jumlah rumah yang terbangun belum terlalu signifikan.

Rum menjelaskan, usulan pencairan dana Tahap II ini telah diajukan ke Direktorat Jenderal Anggaran (DJA) Kemenkeu RI untuk diberikan Surat Persetujuan sebagai tanda ‘lampu hijau’ pencairan dana. Sehingga, posisinya saat ini tinggal menunggu Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA).

“Kalau sudah DIPA, artinya sudah melalui proses administrasi yang nantinya akan masuk ke rekening BNPB. Tinggal menunggu pencairan. Mudah-mudahan dalam minggu ini,” kata Rum.

Soal pencairan dana yang bertahap ini, Rum menjelaskan, pemerintah pusat memiliki penilaian sendiri terhadap progress pembangunan kembali rumah para korban gempa. Menurut pemerintah pusat, bantuan dana stimulan Tahap I yang sudah digelontorkan ke NTB, sampai saat ini belum dimanfaatkan oleh warga terdampak. Pemerintah pusat menilai, hasil dari penanganan rumah rusak berat, sedang dan ringan belum terlihat.

“Jadi belum terlalu kelihatan hasilnya. Toh kalau dikasi ya akan sama aja begitu juga. Jadi berangsur-angsur dicairkan. Ya bertahap,” ujarnya.

Dijelaskan, kondisi tersebut sudah ia komunikasikan ke Wakil Gubernur NTB Hj Sitti Rohmi Djalillah. Ia pun diminta tetap mengawal proses pencairan dana tersebut. Setelah dana itu cair, BPBD NTB langsung mentransfer ke rekening masyarakat, kemudian diharapkan untuk segera membentuk Pokmas.

Rum mengatakan sampai saat ini, baru 75 persen masyarakat yang rumahnya rusak berat, menerima bantuan stimulan sebesar Rp 50 juta. Sementara 25 persen masih menerima Rp 25 juta. Sehingga besar harapannya, dana Rp 1,6 triliun untuk mengisi sisa rekening masyarakat yang baru Rp 25 juta.

Menunggu Setengah Tahun

Sementara itu, warga korban gempa yang rumahnya sudah jadi, kini bisa tersenyum kembali. Tapi bagi yang belum hanya bisa menggerutu. Protes berkali-kali serasa tidak mempan. Sementara warga yang berkecukupan bisa membangun sendiri. Itulah kondisi korban gempa Lombok-Sumbawa saat ini.

Seperti H Halid Sukri, 60 tahun warga asal Desa Kekait, Kecamatan Gunungsari, Lombok Barat. Ia kini merasa lebih tenang. Sebab, rumah instan sederhana sehat (Risha) miliknya sudah rampung. Halid dan keluarganya bisa kembali tinggal di rumah setelah tujuh bulan atau setengah tahun lebih menunggu. Mereka mengungsi sejak gempa menghancurkan rumahnya, Agustus-September 2018.

Pria yang merupakan guru ngaji itu lebih beruntung dibandingkan warga lainnya. Rumahnya lebih cepat rampung karena dia merupakan penerima bantuan yang langsung diserahkan Presiden Joko Widodo di Lombok Utara. Rumah itu kini dia manfaatkan juga sebagai tempat mengaji anak-anak.

”Alhamdulillah sekarang ngajinya sudah tidak di tenda lagi,” katanya.

Halid berharap, rumah warga yang lain juga cepat selesai seperti dirinya. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan warga saat ini. Tinggal di pengungsian atau hunian sementara (huntara) tidak enak. Ditambah beban pikiran rumah tidak kunjung rampung.

Tujuh bulan lebih mereka bersama-sama tinggal di pengungsian, suka dukanya sudah dirasakan. Namun, ia menjalaninya dengan penuh kesabaran. Wajar bila ia sangat bersyukur ketika rumahnya akhirnya rampung.

Sementara nasib berbeda dialami Sugito, 34 tahun, warga Kekait lainnya. Dia sudah membentuk kelompok masyarakat (Pokmas), tetapi pencairannya susah sekali. Semua persyaratan sudah dipenuhinya, namun tetap saja tidak mudah.

Pengajuan pencairan sudah sebulan sampai sekarang belum ada kabar. ”Kata mereka (ikuti) prosedur dan kita sudah jalani, tetapi pencairannya yang sulit,” keluhnya.

Masyarakat menurutnya tidak sepintar para pejabat, ia sangat berharap tidak lagi dipersulit. Sebab, sudah setengah tahun mereka tidur di bawah tenda terus. ”Kalau janji bisa dikarungi sudah penuh berapa karung janjinya,” keluh Sugito.

Sementara nasib kurang baik masih dialami Sura’i, 39 tahun warga Desa Guntur Macan. Rumahnya belulm dibangun. Tapi banyak warga di desanya yang sudah membangun sendiri. ”Yang kaya jaq sudah bangun pakai uang sendiri, kita yang ngandelin uang pemerintah belum sama sekali,” keluhnya.

Ia dan warga lain yang tinggal di pengungsian hanya bisa berharap bantuan bisa segera diterima dan rumah terbangun. Sebab, sudah terlalu lama warga tinggal di pengungsian. Situasi itu cukup sulit bagi Sura’i dan keluarga.

Terkait hal ini, H Muhammad Rum menjelaskan, terhadap warga yang sudah membuat Pokmas dan mengaku ajukan dana sebulan lebih, harus dipastikan Pokmasnya sudah punya uang atau tidak. Karena anggota tidak mentransfer ke rekening Pokmas juga tidak bisa dicairkan.

Menurutnya, tim sedang bekerja kerasa untuk mempercepat pembangunan rumah tahan gempa. Baik rumah rusak berat, sedang dan rusak ringan. Progres perbaikan rumah pun terus mengalami penambahan.

Hingga kemarin, jumlah rumah tahan gempa yang sedang dan sudah selesain dibangun mencapai 12.866 unit. Dalam bentuk Risha 3.611 unit, rumah instan kayu (Rika) 2.786 unit, rumah intan konvensional (Riko) 5.813 unit, bentuk lainnya 287 unit dan rumah yang dibangun secara mandiri oleh warga 369 unit.

Jumlah Pokmas yang terbengtuk 6.085 dengan anggota 122.232 KK, sementara jumlah rekening Pokmas yang terisi 3.667 rekening untuk 70.309 KK. Sementara jumlah dana yang ditransfer ke rekening warga mencapai Rp 3,5 triliun, tersisa Rp 2,5 miliar di rekening BPBD Lombok Barat, Sumbawa dan Sumbawa Barat.

”Kami terus mendorong agar uang yang ditransfer itu segera ditransfer ke rekening Pokmas,” imbuhnya. (yun/ili/van/r8)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Hasil Survei Indikator, Elektabilitas HARUM Paling Tinggi

“Pak Mohan Roliskana hingga sejauh ini paling potensial menang dalam pemilihan mendatang,” ujar  Wakil Ketua DPP Golkar Ahmad Doli Kurnia dalam pemaparan yang dilakukan secara online dari DPP Golkar Jakarta, (18/9) lalu.

Polisi Pantau Kampanye Hitam di Pilwali Mataram

Pelaksanaan Pilkada di Kota Mataram mendapat atensi penuh pihak TNI-Polri. Polresta Mataram dan Kodim 1606 Lobar telah melakukan pemetaan potensi konflik dan mencegah secara dini beberapa konflik yang biasa terjadi pada masa Pilkada.

Trailer Film MOHAN Bikin Baper

Kreativitas sineas Kota Mataram terasa bergairah. Ditandai dengan garapan film bergenre drama romantic berjudul ‘Mohan’ yang disutradai Trish Pradana. Film yang direncanakan berdurasi sekitar 35 menit ini mengisahkan perjalanan asmara Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskan dengan istrinya Hj Kinastri Roliskana. Film Mohan dijadwalkan mulai tayang Bulan Oktober mendatang.

Pasangan Calon Harus Memberi Perhatian pada DPT

PESERTA pemilihan yaitu Pasangan Calon harus menunjukkan perhatian lebih pada seluruh tahapan yang ada, bukan hanya pada saat pendaftaran calon atau pada pemungutan suara saja. Salah satu tahapan yang sangat menentukan ialah tahapan Penyusunan dan Pemutakhiran Daftar Pemilih atau cukup disebut dengan penyusunan DPT.

Pendataan Bantuan Kuota Internet untuk Siswa Guru dan Mahasiswa Kacau

Hari pertama penyaluran bantuan subsidi kuota internet untuk siswa, guru, mahasiswa, dan dosen langsung berpolemik. Proses pendataan dan verifikasi nomor ponsel dinilai kacau.

Calon Kepala Daerah Wajib Jadi Influencer Protokol Kesehatan

DPR, pemerintah dan KPU telah memutuskan akan tetap melaksanakan pilkada serentak pada 9 Desember. Para calon kepala daerah (Cakada)  diminta menjadi influencer protokol kesehatan  agar pilkada tidak memunculkan klaster baru Covid-19.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Sutradara Trish Pradana, Angkat Kisah Mohan ke Layar Lebar

Sutradara Trish Pradana tak henti melahirkan karya. Di tengah Pandemi Korona ini ia kembali ke balik layar menuntaskan film baru bertajuk "Mohan". Ini merupakan film yang diangkat dari kisah hidup Wakil Wali Kota Mataram H Mohan Roliskana sewaktu remaja.
Enable Notifications    Ok No thanks