alexametrics
Selasa, 22 September 2020
Selasa, 22 September 2020

Sekolah di Mataram Dilematis Jalankan Protokol Pencegahan Korona

SEMENTARA itu, meski Kemendikbud telah meluncurkan Protokol Penanganan Covid-19 di lingkungan pendidikan, sejumlah sekolah di Kota Mataram belum melaksanakannya sepenuhnya.

Pantauan Lombok Post di sejumlah sekolah menemukan hal tersebut. Di SDN 6 Mataram, salaman dengan cium tangan masih dilakukan pada saat siswa bertemu guru. Padahal di dalam protokol kesehatan tersebut, salaman dan cium tangan diminta dihindari sementara waktu.

“Kalau salaman itu masih ya,” kata Kepala SDN 6 Mataram Hj Siti Nurita Laila, saat ditemui, kemarin (11/3).

Ia mengatakan, jika protokol itu diterapkan, pihak sekolah tentu saja dilematis. Karena ada budaya 5S (salam, sapa, senyum, sopan, dan santun) yang diterapkan sekolah, menumbuhkan karakter peserta didik.

“Saat anak-anak melihat guru, mereka refleks, ambil tangan kami untuk salaman, ini yang membuat saya bingung, jadi serba salah ya,” kata dia.

Sedangkan pantauan Lombok Post yang lain, di setiap tempat cuci tangan siswa di depan kelas, belum tersedia sabun. Bahkan ada satu tempat cuci tangan yang masih terisi air karena tersumbat.

Ia mengatakan, murid SDN 6 Mataram tetap dibiasakan mencuci tangan setiap hari. Seperti sebelum masuk kelas, usai memungut sampah, makan dan minum serta aktivitas lain. Hanya saja, pihak sekolah memang tidak menyertakan sepanjang waktu sabun pencuci tangan. Soalnya, para siswa terkadang memakainya untuk dijadikan bahan mainan saja.

“Makanya tidak taruh di sana, tetap akan dimainkan busa-busanya, sampai basah dan itu kami nggak mau kejadian,” jelas Nurita.

Untuk antisipasi virus Korona, pihak sekolah tetap juga bergerak. Seperti memastikan halaman sekolah bersih. Ia mengaku, beberapa hari terakhir ini, murid sudah tidak diikutkan kerja bakti, seperti kebiasaan sebelumnya.

“Sekarang kami sudah maksimalkan petugas kebersihan,” tegasnya.

Sementara untuk penyemprotan cairan desinfektan, saat ini belum diterapkan. Itu hanya dilakukan pada saat pihaknya meminta fogging ke Dinas Kesehatan Kota Mataram untuk pencegahan Malaria dan DBD.

Protokol lainnya yang melarang membagi makanan, minuman, dan memakai alat musik bersama agar dihindari sementara waktu, Nurita mengatakan, kegiatan makan bersama hanya dilakukan satu bulan sekali pada minggu terakhir bulan bersangkutan. Itupun kata dia, pihak sekolah melarang membagi makanan, atau memakai peralatan yang sama untuk dua anak atau lebih.

“Kalau yang tidak bawa bekal, mereka beli di kantin, kalau pakai gelas, atau botol, kami tetap ingatkan orang tua, bawa dari rumah,” jelasnya.

Jika ada murid yang sakit, pihaknya akan segera membawa ke puskesmas terdekat, atau menghubungi orang tua. Sedangkan, untuk kegiatan dharmawisata atau outing class akan ditinjau ulang. “Nanti akan kami bahas lagi, kalau ada yang mengajukan belajar di tempat wisata,” tandasnya.

Di SDN 27 Ampenan, tidak tersedia tempat cuci tangan di depan kelas. Tempat cuci tangan itu ada di depan ruang guru. Bertumpu pada satu wadah besar menyerupai tandon air. Dikelilingi kran lebih dari 10 buah.

“Karena keterbatasan lahan, makanya kami kondisikan seperti itu,” kata Kepala SDN 27 Ampenan Baiq Masnun.

Terkait dengan virus Korona, pihak sekolah mulai membatasi gerak murid yang ingin keluar lingkungan sekolah. Pintu gerbang utama dikunci, yang diandalkan hanya pintu samping sebelah selatan, dengan sistem penjagaan dari petugas keamanan sekolah.

“Keluar masuk murid juga tidak enak ya, apalagi lalu lintas juga padat, kami batasi,” terangnya.

Terkait protokol yang dikeluarkan Kemendikbud, ia mengakui belum sepenuhnya menjalankan. Seperti menyediakan sabun dengan cairan antiseptik atau mengandung alkohol. “Sudah langka sekarang,” kata dia.

Sedangkan untuk mengantisipasi berbagai kondisi saat ini, pihaknya terus berkoordinasi dengan orang tua. Jika ada yang flu atau demam, sebaiknya tidak pergi sekolah dan segera diperiksa ke dokter.

“Saya kontrol melalui wali kelas, siapa yang tidak datang, apa alasannya,” tegas Masnun.

Sedangkan untuk makan bersama, ia mengatakan, SDN 27 Ampenan tidak pernah menerapkan program semacam itu. “Nggak ada program itu,” ujarnya.

Diakui Masnun, sampai saat ini terkait protokol tersebut, Dinas Pendidikan Kota Mataram belum mengeluarkan imbaun secara tertulis. “Kalau lisan, sering sih misalnya kita diingatkan cuci tangan, kalau itu nggak bisa kami tinggalkan,” kata dia.

Sejalan dengan SDN 6 Mataram, pihaknya juga akan meninjau ulang kegiatan kunjungan ke Museum NTB. “Biasanya kami dijadwalkan, tetapi kalau nanti ada imbauan tertulis ya, kami mungkin berhenti sementara waktu,” tandasnya.

Ditemui terpisah, Kepala Disdik Kota Mataram H Lalu Fatwir Uzali menegaskan, dirinya memang belum memerintahkan sekolah menerapkan protokol tersebut. Karena belum ada edaran dari Pemkot Mataram, dalam hal ini Dikes Kota Mataram, untuk penanganan virus Korona.

“Meski ada edaran dari pemerintah pusat, kami belum laksanakan. Kami mau itu ada turunan yang dibuat Pemkot,” kata dia.

Tidak jelas alasannya mengapa hal semacam ini belum diterapkan. Ia berdalih, pengertian kontak fisik seperti salaman dan berjabat tangan dalam protokol itu harus dijelaskan lebih rinci. “Pengertian kontak fisik kan kita tidak tahu seperti apa. Bersalaman yang seperti apa,” ujarnya.

Kemudian apakah virus Korona di Kota Mataram ini, apakah sudah merajalela, terindikasi atau tahap yang mengkhwatirkan atau bagaimana, belum ada yang tahu. “Makanya itu yang membuat kami agak ragu-ragu,” jelasnya.

Jika protokol itu sudah memiliki turunan yang dikeluarkan pemda, maka Disdik Kota Mataram akan bergerak. “Baru kami akan koordinasi seperti apa kegiatan-kegiatan peserta didik, atau pertemuan kalau kondisinya begini,” tegas Fatwir.

Meski begitu, pihaknya bukan tidak mengantisipasi hal ini. Dirinya tetap memantau sekolah, memastikan aktivitas peserta didik, agar tetap sehat. “Kami serukan agar semua sekolah menjaga sanitasi,” tegasnya.

Terutama sampah-sampah. Baik di ruang kelas maupun lingkungan sekolah, semuanya harus bebas. Tenaga pengajar harus rutin memerikan kondisi kesehatan peserta didik. “Yang pastinya tentang kesehatan pribadi,” kata dia.

Kalau hal ini sampai lemah, bisa mendatangkan penyakit. Karena itu, Fatwir mengimbau, sekolah harus terus melanjutkan kegiatan program cuci tangan menggunakan sabun. “Dari TK sampai SMP, saya imbau cuci tangan, sebelum dan sesudah beraktivitas, cuci tangan,” jelasnya.

Selain memnggiatkan cuci tangan, orang tua di rumah harus sering memeriksa kebersihan anak. “Periksa kukunya, ke sekolah harus mandi, pokoknya harus bersih,” terang Fatwir.

Menurutnya, bila program ini sudah menjadi kebiasaan, maka bukan hanya mencegah merebaknya virus Korona, namun penyakit lain seperti DBD, diare, malaria dan lainnya.

“Apalagi kondisi sekarang, kita sudah masuk musim hujan, jadi jaga kebersihan baik sekolah maupun warganya,” katanya. (yun/r6)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sejak Pandemi, Omzet Pedagang Pasar Tradisional Turun 40 persen

”Penurunan omzet juga diikuti penurunan kapasitas pedagang di pasar sebesar 40 persen,” katanya saat ditemui di ruang kerja, Senin (21/9/2020).

Manfaatkan Simulasi KBM Tatap Muka untuk Pembiasaan Pola Hidup Sehat

”Kita lihat mana yang belum pakai masker sekaligus kita kampanye 3M itu, bersama guru-guru yang lain,” jelas Winarna.

Menag Positif Korona, UIN Mataram Langsung Instruksikan Pegawai WFH

”Pegawai UIN Mataram semaksimal mungkin, agar bekerja dari rumah menyelesaikan tugas masing-masing,” tegas dia.

Tagih Piutang Rp 3 Miliar PT GNE Libatkan Kejaksaan

Sekitar Rp 3 miliar uang PT Gerbang NTB Emas (GNE) tercatat sebagai piutang. Sejumlah perusahaan masih berhutang pada perusahaan daerah milik Pemprov NTB ini. “Makanya kita akan menggunakan JPN (jaksa pengacara negara) untuk menagih,” kata Direktur PT GNE Samsul Hadi, Jumat (18/9).

VIDEO : Buron ke Kalimantan, Pulang, Saen Diringkus di Lingsar

Pelarian anggota komplotan pencurian dengan pemberatan berinisial SR alias Saen, berakhir. Pria 31 tahun, asal Dusun Bagek Nunggal, Desa Peteluan Indah, Lingsar, Lombok Barat, itu dibekuk setelah setahun buron. ”Pelaku pulang karena rindu keluarga,” kata Kapolsek Lingsar AKP Dewi Komalasari, Sabtu (19/9).

WCD, Warga Lobar Bebaskan Pantai Cemara dari Sampah

Ribuan orang di Lombok Barat (Lobar) memperingati World Cleanup Day (WCD), akhir pekan kemarin. Kegiatan ini dipusatkan di Pantai Cemara. ”Semuanya terlibat. OPD, kecamatan, desa, bahkan masyarakat juga ramai ikut,” kata Bupati Lobar H Fauzan Khalid, Sabtu (19/9).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Siswa SMP di Loteng Menikah, Kenal Lewat HP, Pacaran Cuma Empat Hari

Meski belum cukup umur, Suhaimi dan Nur Herawati telah resmi menjadi pasangan suami istri. Bagaimana kisahnya sampai mereka memutuskan menikah? Berikut ulasannya.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Dua Terduga Pengedar Ekstasi Tertangkap di Karang Kediri

Dua terduga pengedar ekstasi berinsial PAW alias Patrick, 28 tahun, dan AZP alias Agli, 25 tahun, dibekuk tim Satnarkoba Polresta Mataram, Kamis (17/9) malam. ”Kita tangkap mereka di Lingkungan Karang Kediri, Cakranegara,” kata Kasatnarkoba Polresta Mataram AKP Elyas Ericson, kemarin (18/9).

Film MOHAN, Ini Dia Official Teasernya

Rumah Produksi Warna tengah merampungkan pembuatan film MOHAN. Film bergenre drama remaja tersebut tengah memasuki fase shooting. Namun demikian sebagai bocoran Warna telah meluncurkan cuplikan Official Teaser nya.
Enable Notifications    Ok No thanks