alexametrics
Minggu, 12 Juli 2020
Minggu, 12 Juli 2020

Ketua IDI Mataram : Jangan Remehkan Korona!

MATARAM-Ketua Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Kota Mataram dr Rohadi kembali meluruskan pernyataan Direktur RSUD Kota Mataram dr HL Herman Mahaputra. Ia tetap berpendapat bahwa virus Korona bukan flu biasa. Penularannya cukup cepat dan sangat membahayakan.

“Pasien tanpa komorbid jika terpapar Korona kondisinya bisa memburuk,” katanya kepada Lombok Post, Kamis (11/6).

Apa yang disampaikan Lalu Herman Mahaputra alias dr Jack bahwa virus ini obatnya bahagia itu salah. “Itu bukan yang utama. Ada penanganan medisnya,” terangnya.

Memang, kata dia, masyakarat jangan terlalu panik dengan Korona. Namun bukan berarti masyarakat bebas beraktivitas tanpa mengindahkan protokol kesehatan.

Saat ini, ujar dia, Kota Mataram masuk zona merah penyebaran Korona. Bahkan di NTB, Kota Mataram paling tinggi kasus positif Covid-19. “Jangan sampai meremehkan virus ini,” pintanya.

Diutarakan, dengan cara bahagia memang meningkatkan imun tubuh yang sudah ada konsepnya dari psikiater. Tapi, bukan berarti bahagia menjadi faktor utama yang bisa menyembuhkan Korona.

Intinya, kata Rohadi, gejala klinis pada pasien Korona karena beberapa faktor. Pertama virulensi dari virus itu sendiri. Dan daya tahan tubuh.

Memang, kata Rohadi, pasien positif Korona sebagian besar tidak bergejala atau orang tanpa gejala (OTG). Bahkan 80 persen yang terpapar virus ini tanpa gejala, 15 persen sedang berat. Dan lima persen butuh ventilator.

Di dalam tubuh, kata dia, ada yang mengatur gen virus ini. Persoalannya, apakah kondisi tubuh manusia sama. Begitu juga keganasan virus di semua klaster ini, apakah sama. “Seperti klaster Gowa, Jakarta atau yang ada di Wuhan, China apakah sama ganasnya,” terang dia.

Dia tidak menampik, pasien Korona yang meninggal sebagian besar karena memiliki penyakit komorbid atau penyerta. Seperti diabetes, hipertensi, dan imunokompromais.

Dengan adanya penyakit penyerta ini akan memperburuk keadaan pasien. “Ada juga yang tak memiliki komorbid kondisinya buruk,” terangnya.

Dia menjelaskan, virus Korona sifatnya tak seperti flu biasa. Karena penularannya mudah sekali. Tergantung dari mobilitas masyarakat. Semakin banyak warga yang berpergian atau keluar rumah, maka penularannya semakin tinggi. “Virus ini kan butuh inang atau tempat. Jadi manusialah yang jadi inangnya,” terangnya.

Kini, kata dia, hampir 60 persen yang terpapar virus ini adalah laki-laki. Karena mereka beraktivitas atau mencari nafkah sebagai kepala rumah tangga. Belum lagi virus klaster Gowa dan Jakarta yang sudah menyebar. Bahkan, bisa saja orang yang tanpa gejala  menularkan virus yang cukup banyak atau super spreader.

“Saya rasa klaster Gowa banyak yang super spreader,” kata dokter ahli bedah saraf ini.

Jika tidak membatasi diri. Satu pasien Korona bisa menularkan sampai ke 15 orang. Penerapan Sosial Berskala Besar (PSBB) atau Penerapan Covid-19 Berbasis Lingkungan (PCBL) diterapkan Pemkot Mataram guna membatasi mobilitas masyarakat. Pasien positif diminta  diam di rumah. Jangan sampai keluar karena bisa menularkan ke orang lain.

Ia menambahkan, virus ini mudah bermutasi. Bahkan membuat radang di paru. Karena reseptornya tumbuh di liang paru. Kemudian terjadi trambosit atau pembekuan darah. Apalagi yang memiliki komorbid, akan mudah terjadi pemburukan kondisi kesehatan.

Kini, kata dia, new normal yang akan dilakukan pemerintah harus melihat beberapa keilmuan kesehatan dan satgas Covid-19. Penerapan new normal ada tiga syarat. Secara epideomologi kata dia, apakah sudah terkendali fasilitas kesehatan.

Jangan sampai masyarakat meremehkan virus ini. Menganggap tidak ada apa-apa seperti sebelum-sebelumnya. Melainkan, harus menerapkan protokol kesehatan. Seperti gunakan masker, cuci tangan, handsanitizer, jaga jarak, dan hindari kerumunan. Bahkan jangan terlalu lama bicara di ruang tertutup.

“Bila perlu kalau mau bicara di tempat terbuka dan jaga jarak. Karena penularan lewat droplet sangat cepat,” tuturnya.

Sementara Direktur RSUD Kota Mataram dr Lalu Herman Mahaputra mengatakan, penanganan pasien Korona dengan membuat senang atau bahagia bukan hal yang utama. Itu salah satu terapi yang dilakukan agar meningkatkan imun tubuh. “Tetap penanganan Korona harus dilakukan secara medis,” terang dia.

Pada intinya, tambah pria yang karib disapa Jack ini, pasien Korona gejala ringan yang dirawat di Kota Mataram mengaku tidak mengalami sakit secara fisik. Jadi, untuk meningkatkan imun tubuh mereka, diajak senang. Selain melakukan perawawan medis yang utama. (jay/r3)

 

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Ke Praya Tak Pakai Masker, Siap-siap Dihukum Push Up

Menurunnya kesadaran warga menggunakan masker membuat jajaran Polres Lombok Tengah menggelar razia. “Kami sasar pasar-pasar dan pusat pertokoan di wilayah Praya,” kata Kasatnarkoba Polres Loteng Iptu Hizkia Siagian, Jumat (10/7).

JPS Gemilang III Segera Disalurkan, Mudah-mudahan Tepat Sasaran

antuan Jaring Pengaman Sosial (JPS) Gemilang tahap III segera disalurkan. Gubernur NTB H Zulkieflimansyah meminta penyaluran JPS yang terakhir ini dilakukan tanpa cela.

Pemerintah Janji Bantu UMKM NTB Terdampak Korona, Ini Syaratnya

encairan bantuan Rp 800 triliun bagi UMKM dan IKM masih menunggu petujuk pemerintah pusat. ”Kita tunggu petunjuk teknisnya dari kementerian koperasi UKM,” kata Kepala Dinas Koperasi dan UKM NTB Wirajaya Kusuma, Jumat (10/7

Kompak Lawan Korona, Kelurahan Cakra Timur Bertahan di Zona Hijau

Kelurahan Cakranegara Timur patut dicontoh. Saat keluarahan lain di Kota Mataram zona merah Covid-19, justru Cakra Timur berada pada zona hijau. Strategi para pemimpin di wilayah ini membuat virus Korona tak berani mendekat. Apa resepnya?

Berkurban di Masa Korona, Ini Fatwa MUI

Jumat (10/7) malam Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa terbaru bernomor 36/2020 tentang salat Idul Adha dan penyembelihan hewan kurban. MUI di antaranya meminta kegiatan penyembelihan tidak tekonsentrasi pada saat Idul Adha saja.

Batal Berangkat, 16 Jamaah NTB Tarik Ongkos Haji

Karena ibadah haji ditiadakan, 16 orang jamaah calon haji (JCH) asal NTB menarik ongkos haji yang telah dilunasi. ”Masing-masing lima orang dari Mataram, Lombok Barat, Sumbawa, dan satu orang dari Bima,” kata Kepala Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenag NTB H Ali Fikri, Jumat (10/7).

Paling Sering Dibaca

Diserang Penjahat, Perwira Polisi di Sumbawa Meninggal Dunia

IPDA Uji Siswanto, Kepala Unit (Kanit) Reskrim Polsek Utan, Sumbawa gugur dalam bertugas. Ayah tiga anak ini diserang oleh seorang terlapor berinisial RH alias Bim kasus pengancaman. Korban diserang, setelah mendamaikan warga dengan terduga pelaku.

Duka di Lombok Utara, Suami Tewas Tergantung, Istri Tergeletak di Ranjang

Warga Dusun Sumur Jiri, Desa Santong Mulia, Kecamatan Kayangan, Lombok Utara, geger. Pasangan suami istri (pasutri) berinisial S, 25 tahun dan R, 20 tahun ditemukan tewas di dalam rumahnya, Minggu malam (5/7).

12 Karyawan Bank di Cilinaya Mataram Positif Korona

Di Kelurahan Cilinaya misalnya. Di sini tercatat ada 12 karyawan salah satu bank terpapar virus Korona. “Sebenarnya hanya satu. Namun setelah kita tracing, menjadi 12 orang yang positif,” kata Lurah Cilinaya I Gusti Agung Nugrahini, Kamis (9/7)

Pakai Narkoba, Satu Anggota Polisi Ditangkap di Mataram

Tim Subdit II Ditresnarkoba Polda NTB menangkap jaringan narkoba di salah satu hotel di mataram dua pekan lalu. Sebanyak empat orang berinsial E, LA, AD, dan SL. “E adalah polisi aktif, LA dan AD pecatan polisi, SL warga sipil,” kata Dirresnarkoba Polda NTB Kombes Pol Helmi Kwarta Kusuma Putra Rauf, kemarin (10/7).

PKS Berpeluang Kocok Ulang Figur di Pilbup Lombok Tengah

Peta kekuatan politik Bakal Pasangan Calon (Bapaslon) di Lombok Tengah (Loteng) tampak berimbang. Ini terlihat dari hasil survei yang dilakukan PKS bekerja sama dengan Olat Maras Institute (OMI).
Enable Notifications.    Ok No thanks