alexametrics
Kamis, 1 Oktober 2020
Kamis, 1 Oktober 2020

Berbincang dengan Nurudin, Penjaga Bank Sampah Lisan, Kebon Talo

Di belakang Kantor Bank Sampah Lisan Nurudin menjalani hidupnya sendiri. Menikmati masa tuanya tanpa dengan bahagia. Meski harus sebatang kara.

LALU MOHAMMAD ZAENUDIN, Mataram

==================================

SIANG merayap sejuk. Suasana Kantor Bank Sampah Lisan (BSL) di Kebon Talo sepi dan lengang. Tak terlihat ada aktivitas. Kecuali ceceran sampah plastik yang tak beraturan.

Di belakang kantor BSL, sepetak tanah terhampar. Sebuah rumah dari rangka berugaq sekenem berdiri kokoh. Di sinilah Nurudin sang penjaga BSL menjalani hari tuanya.

“Sebelum kantor ini dibangun, saya sudah tinggal di sini,” kata Nurudin.

Ia hidup sebatang kara di sana. Sekitar empat tahun lalu istrinya meninggal dunia. Nurudin punya tiga anak. Dua diantaranya telah menikah. Sedangkan satu lagi memilih tinggal dengan kakaknya.

“Dagang kecil-kecilan sama kakaknya,” ujarnya.

Tapi Nurudin tetap bersyukur. Pria 64 tahun itu setidaknya telah menjadi orang tua yang baik bagi anak-anaknya. Sekalipun tak mampu menyekolahkan mereka hingga kuliah. Tapi setidaknya semua telah mengenyam pendidikan tingkat atas.

“Ndak mampu kalau kuliah,” akunya.

Memang tidak mudah bagi Nurudin. Pekerjaan sebagai penjaga Bank Sampah tak setinggi gaji pegawai Bank. Label, boleh mengadopsi Bank. Tapi sampai saat ini, Bank Sampah itu belum berhasil menjadi andalan ekonomi.

Dulu, pernah ada rencana menukar sampah dengan emas. Idenya: warga hanya tinggal mengumpulkan sampah-sampah plastik. Lalu dicatat dalam buku tabungan. Kelak jika hasil penjualan sampah plastik menguntungkan, warga akan dibelikan emas.

Sayang, ide ini belum bisa berjalan baik. “Tapi masih aktif, setiap hari paling tidak ada dua truk datang dan pergi bawa sampah di sini,” sebutnya.

Kembali ke kehidupan Nurudin yang tetap setia menjaga bank sampah itu. Dari gangguan orang-orang usil. Penghasilannya memang tidak cukup untuk menguliahkan anak-ananknya. Tapi lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

“Ya (Rp 1,2 juta),” sebutnya.

Itupun ia masih boleh menanami lahan kosong di sekitar kantor BSL dengan singkong. Singkatnya, ia pun mengaku betah tinggal di sana. Sekalipun sebatang kara.

“Tugas saya jaga kebersihan dan satu alat komputer di sini,” ujarnya.

Sampai saat ini, Nurudin bersyukur. Ia bisa menjalankan tugas dengan baik. Beberapa orang yang dulu kerap menggelar judi sabung ayam di lokasi itu, berhasil ia larang. Bahkan anak-anak muda yang kerap pacaran mojok di sana, ia bisa cegah.

Alhamdulillah,” ungkapnya syukur.

Malam ia rajin bangun. Berkeliling memastikan kantor yang berada di tempat yang cukup sepi itu aman dari gangguan tangan jahil.

Untungnya ia punya radio yang setia menemani waktunya. Sembari berjaga, Nurudin kerap bernostalgia. Mengingat masa-masa muda. Dengan mendengar radio bututnya di malam yang semakin tua.

“Wah, umur radio ini sudah sangat lama,” ungkapnya, lalu terkekeh.

Ia memperlihatkan kaset yang masih tersimpan di sana. Namun, Nurudin lupa kaset apa itu. Tape recorderya sudah tidak bisa lagi membaca pita. Sudah tua dan soak. Radio Tape dengan merk Tens itu, hanya bisa dipakai menangkap gelombang radio.

“Kalau malam dengar lagu sambil ronda sendiri. Kalau pagi dan siang kadang dengar berita, biar tahu kebijakan pemerintahan,” ujarnya.

Tape dengan baterai enam biji itu terlihat masih terawat dengan baik. Suaranya jernih menangkap gelombang radio. Sayang, ada satu acara radio yang tidak bisa ia dengar lagi.

“Tidak ada sandiwara radio, saya suka dulu ada Tutur Tinular, Saur Sepuh,” kenangnya.

Dulu sandiawara itu kerap ia ikuti jalan ceritanya. Bersama mendiang istrinya, Milah. Andai saja sandiwara radio itu diputar lagi oleh salah satu stasiun radio, ia pasti akan merasa sangat kesepian.

“Rindu saat-saat ditemani istri mendengar itu,” ungkapnya.

Pria itu tersenyum. Memamerkan beberapa giginya yang masih tersisa. Begitu digoda apakah ia berniat mencari istri lagi, blak-blakan Nurudin mengakui berniat untuk mengakhiri masa dudanya.

“Ya kalau ada jodoh sih mau,” ujarnya lalu kembali tertawa.

Sebenarnya bukan karena alasan biologis Nurudin ingin menikah. Tapi tidak adanya istri yang menemani hari-hari tuanya, membuat Nurudin merasa berat menjalani hidup sendiri.

Misalnya ketika ia sakit, tidak ada siapapun didekatnya yang menyiapkan segala sesuatu. “Jadi bukan hanya untuk alasan (biologis) itu, tapi saat pulang ada yang siapkan makanan, ada yang urus ayam-ayam, ada yang pijit ketika pulang kerja,” harapnya.

Ia yakin dengan pendapatannya menjadi penjaga malam dan rajin menjadi buruh tani, bisa cukup untuk biaya hidup berdua. Membangun mahligai rumah tangga yang menentramkan. Di usia yang semakin senja.

Tak harus cantik dan muda. Tuapun tak mengapa. Asal setia dan mau hidup bersama. Sampai ajal menjemput suatu ketika.

“Dukanya itu saja, tidak ada yang menemani,” tutupnya. (*/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Sah! Gaji dan Tunjangan PPPK Sama dengan PNS

Penantian panjang honorer K2 yang lulus seleksi tes Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) 2019 lalu akhirnya usai sudah. Payung hukum terkait gaji dan tunjangan PPPK telah diterbitkan.

Antisipasi Penyebaran Covid Klaster Kampus!

KONDISI masyarakat pada era tatanan kehidupan baru (new normal) saat ini seolah-olah menggambarkan situasi masyarakat telah beradaptasi dengan tenangnya, kembalinya kehidupan normal saat ini kesadaran kita sebagai masyarakat dalam menghadapi pandemi covid-19 sedikit demi sedikit sudah mulai abai dalam menerapkan pola hidup sehat dalam upaya pencegahan dan memutus rantai penularan virus corona.

Penurunan Kasus Korona di NTB Ternyata Semu

Perubahan warna zona Covid-19 di NTB tidak menentu. Kabupaten Dompu yang sebelumnya digadang-gadang sebagai daerah percontohan kini malah masuk zona merah kasus penularan Covid-19.

Pemerintah Harus Turunkan Harga Tes Swab

TARIF uji usap atau tes swab dinilai masih terlalu mahal. Ketua DPR RI Puan Maharani pun meminta pemerintah mengendalikan tarif tes sebagai salah satu langkah pengendalian dan penanganan penyebaran Covid-19. Jumlah masyarakat yang melakukan tes mandiri akan meningkat ketika harganya lebih terjangkau.

Desa Sekotong Tengah Punya Taman Obat Keluarga

ADA budidaya tanaman obat di Desa Sekotong Tengah, Kecamatan Sekotong, Lombok Barat. Tanaman obat ini dibudidayakan oleh masyarakat setempat melalui Kelompok Taman Obat Keluarga Suren.

Desa Pesanggrahan Lotim, Tangguh Berkat Kawasan Rumah Pangan Lestari

Desa Pesanggrahan terpilih menjadi Kampung Sehat terbaik di Kecamatan Montong Gading. Desa ini punya Tim Gerak Cepat Pemantau Covid-19 yang sigap. Ekonomi masyarakat juga tetap terjaga meski pandemi melanda.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Zona Hijau Korona di NTB Kian Berat

”Indikatornya lebih tajam lagi. Kemarin, yang dihitung hanya pasien positif (Covid-19) saja. Sekarang probable juga dihitung,” kata Kepala Dinas Kesehatan NTB dr Hj Nurhandini Eka Dewi, usai rapat evaluasi penanganan Covid-19, di kantor gubernur NTB, kemarin (28/9).

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.
Enable Notifications    Ok No thanks