alexametrics
Jumat, 7 Agustus 2020
Jumat, 7 Agustus 2020

Hasil Tes 16 ODP Reaktif, Kasus Positif Korona di Mataram Diprediksi Melonjak Lagi

MATARAM-Lonjakan kasus pasien terinfeksi virus Korona bisa saja terjadi di Kota Mataram. “Ada 16 orang yang hasil rapid tesnya itu reaktif,” kata Kepala Dinas Kesehatan (Dikes) Kota Mataram dr. H Usman Hadi.

Usman menjelaskan, rapid tes dilakukan untuk menemukan indikasi. Apakah terpapar virus Korona atau tidak. Ditujukan untuk ODP. Mereka yang menunjukkan gejala sakit ringan maupun tanpa gejala, namun baru pulang dari zona merah virus Korona.

Caranya dengan mengambil sampel darah dari ODP. Ketika sampel darah masuk, alat akan menunjukkan reaksi tertentu.

Pengecekan melalui rapid tes tidak bisa menentukan apakah yang bersangkutan positif atau negatif terjangkit virus Korona. Tetapi, jika tes cepat menunjukkan hasil reaktif, petugas kesehatan akan melanjutkan dengan pengambilan swab.

Hanya saja, pengambilan sampel darah untuk rapid tes tidak dilakukan sekali. Minimal dua kali. Di hari pertama kedatangan ODP, kemudian di tes lagi untuk hari ketujuh atau ke-10. ODP dengan hasil tes reaktif, lanjut Usman, memiliki potensi tinggi untuk menjadi positif.

”Rencananya memang akan kita lakukan swab. Kemungkinan melalui RSUP, sehingga bisa diketahui statusnya, apakah positif atau negatif,” jelas Usman.

Mereka yang menunjukkan hasil reaktif, kata Usman, menurut teorinya harus menjalani isolasi. Membatasi aktivitas mereka di luar rumah. Adapun langkah Dikes, 16 ODP reaktif telah diberikan masker. Masing-masing mendapat 10 masker.

”Memang sebaiknya langsung diisolasi,” katanya.

Sejauh ini, Dikes Kota Mataram sudah melakukan rapid tes untuk 110 orang. Rapid tes bakal digencarkan terus. Menyasar warga kota yang berstatus ODP. Termasuk mereka yang pernah melakukan kontak dengan PDP positif.

”Minggu ini akan datang lagi sekitar 500 alat rapid tes,” tuturnya.

Seperti diketahui hingga kemarin tercatat 22 kasus positif korona di Mataram dua diantaranya meninggal dunia, 19 dalam perawatan dan satu sembuh. Sementara pasien dalam pengawasan sebanyak 27 dan 74 orang dalam pemantauan.

Sementara itu, Direktur RSUD Kota Mataram dr. HL Herman Mahaputra mengatakan, kasus positif Korona di Kota Mataram kemungkinan akan bertambah seiring banyaknya warga yang berstatus ODP. “Saya yakin ini bisa bertambah. Kita sekarang masih menunggu hasil Swab 12 PDP (pasien dalam pengawasan),” kata Direktur RSUD Kota Mataram H dr Lalu Herman Mahaputra, kemarin.

Menurutnya, banyaknya kasus positif Korona di Mataram adalah hal yang wajar. Karena Kota Mataram menjadi pusat pemerintahan dan pusat perekonomian, serta pendidikan. “Orang yang berpergian keluar daerah kebanyakan orang Mataram. Sehingga menularkan virus ini ke keluarga dan kerabat,” ungkapnya.

Sekarang, kata pria yang akrab disapa Dokter Jack ini, 12 PDP sudah melakukan tes Swab dan tinggal menunggu hasilnya. “Semakin banyak yang positif, maka semakin mudah ditangani. Daripada tidak kelihatan dan tiba-tiba muncul dengan jumlah yang cukup besar,” jelasnya.

Tracing kontak ini akan terus dilakukan sampai ke akarnya-akarnya. Terutama kepada klaster Gowa (jamaah tablig). Menurutnya, cluster ini cukup banyak. Jadi harus dibasmi sampai ke akar-akarnya.

Selasa (14/4), kata dia, reagen (Pemeriksa Korona) di Rumah Sakit Unram bisa digunakan. Ia sudah melakukan kerja sama dengan pihak Unram untuk melakukan Swab kepada pasien Korona. “Kalau ada alat ini di Unram, kita tak perlu nunggu lama hasil Swab,” ucapnya.

Ia mengatakan, banyaknya warga positif Korona juga karena pemerintah yang kurang tegas. Masih banyak ditemukan kerumunan dan orang yang gelar pernikahan. “Ini harusnya tidak diberikan izin,” kesalnya.

Dia menegaskan, warga yang masih nekat membuat keramaian ini harus diberikan sanksi. Karena jika virus ini diam di tubuh orang yang terjangkit akan lemah. “Hulu yang harus diperbaiki, baru ke hilir,” saran Jack.

Sementara itu  Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika I Nyoman Swandiasa akan mengumumkan nama jelas pasien positif dan PDP. Ini sesuai dengan hasil konsultasi dengan komisi informasi dan ketentuan informasi dari BNPB.

“Kita juga sudah minta camat dan lurah melaporkan jika ada warga yang datang dari luar daerah untuk dilakukan pemeriksaan,” ucapnya.

Selain itu, kata dia, Gugus Tugas Penangaan Covid-19 Kota Mataram juga akan melakukan isolasi terpusat bagi PDP di RSUD Kota Mataram. “Tidak boleh lagi ada PDP yang isolasi mandiri,” tukasnya. (dit/jay/r3)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Novi dan Dinasti Politik Zulkieflimansyah di Sumbawa

Dewi Noviany membantah keluarganya tengah membangun dinasti politik di NTB. Adik kandung  Gubernur NTB H Zulkieflimansyah itu mengklaim proses pencalonannya telah melalui mekanisme penjaringan parpol yang adil.

Partai Berkarya Terbelah, SK Dukungan di NTB Terancam Sia-sia

Goncangan politik hebat terjadi di tengah perburuan Surat Keputusan (SK) partai oleh para Bakal Calon Kepala Daerah (Bacakada). Goncangan itu muncul dari Partai Berkarya. Partai Berkarya versi Muhdi Pr ternyata yang direstui Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham).

Gak Pakai Masker, PNS Bakal Didenda Rp 200 Ribu

Aturan wajib menggunakan masker diberlakukan di Kota Bima. Pemerintah Kota (Pemkot) Bima menegaskan sanksi bagi pelanggar akan mengikuti aturan yang telah ditetapkan Pemerintah Provinsi (Pemrov) NTB.

Tiga Dokter dan Delapan Perawat RSUD Dompu Diisolasi

Sebanyak 11 orang Tenaga Kesehatan (Nakes) RSUD Dompu yang sempat kontak dengan HM, pasien positif Covid-19 meninggal dunia menjalani isolasi. Masing-masing tiga dokter dan delapan perawat.

Lamaran Ditolak, Dosen di Bima Tikam Pacar Hingga Tewas

Naas menimpa  Intan Mulyati, 25 tahun warga Kelurahan Kumbe, Kecamatan Rasanae Timur, Kota Bima. Dia merenggang nyawa ditangan pacarnya sendiri Arif Satriadi, 31 tahun, yang merupakan seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Bima, Rabu (5/8).

Kasus Pengadaan ABBM Poltekes Mataram Segera Naik Penyidikan

Penyelidikan dugaan korupsi pengadaan alat bantu belajar mengajar (ABBM) Poltekkes Mataram tahun 2016 segera rampung. “Progres cukup bagus. Sebentar lagi naik penyidikan,” kata Kasubdit III Ditreskrimsus Polda NTB Kompol Haris Dinzah, Rabu (5/8).

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Gawat, 300 Mata Air di NTB Menghilang

Perusakan lingkungan, khususnya hutan membuat NTB kehilangan hampir 300 mata air. ”Dari 700-an mata air sekarang tersisa 400 sekian titik mata air,” ungkap Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB H Madani Mukarom, Seninn (3/8).

Tabrakan, Pengendara Terbakar di Sindu Cakranegara

Satlantas Polresta Mataram menelusuri penyebab kecelakaan sepeda motor yang terjadi di Jalan Gora, Sindu Cakranegara, Senin malam (3/8). Peristiwa itu menyebabkan pengendara, Gusti Gede Kumbang meninggal dunia dengan kondisi terbakar.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Viral Pengunjung “Disko” Pendakian Savana Propok Rinjani Ditutup

Pengelola bukit Savana Propok, Pokdarwis Desa Bebidas, Kecamatan Wanasaba menindaklanjuti video joget para pendaki yang viral di media sosial. “Untuk mengevaluasi hal tersebut, kami akan menutup bukit mulai 8 Agustus,”  kata Ketua Pokdarwis Bebidas Chandra Susanto pada Lombok Post, kemarin (4/8).
Enable Notifications.    Ok No thanks