alexametrics
Sabtu, 23 Oktober 2021
Sabtu, 23 Oktober 2021

Mataram Bangun Pengolahan Limbah Terpadu, 11 KK Bakal Direlokasi

MATARAM-Di Bageq Kembar, Tanjung Karang, Sekarbela akan dibangun Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpadu (SPALD-T). Proyek itu dibangun di atas lahan seluas 3,5 Hektare (Ha).

“(Jadi) bukan limbah B3,” kata Kepala Dinas PU Kota Mataram Miftahurrahman, dikonfirmasi Lombok Post, kemarin (11/10).

Gambaran umumnya, SPALD-T adalah sistem pengelolaan yang dilakukan dengan mengalirkan air limbah domestik dari sumber secara kolektif ke sub sistem Pengolahan Terpusat sebelum akhirnya dibuang ke badan air permukaan.

Upaya ini diperlukan untuk mengurangi tingkat pencemaran lingkungan oleh air limbah dari berbagai tempat produksi di Kota Mataram.

Rencanannya pembangunan SPALD-T mulai berjalan tahun ini. “Tahun ini sedang dalam tahapan penyusunan Amdal Jaringan dan Amdal Instalasi Pengelolaan Air Limbahnya,” imbuhnya.

Detail pembangunan SPALD-T dipegang oleh kementerian pusat. “Pembangunan oleh Kementerian Pusat melalui Kementerian PUPR,” jelasnya.

Proses pembangunan ditarget selesai 2022. “Mudah-mudahan bisa terlaksana sesuai rencana,” harapnya.

Tingkat pencemaran oleh air limbah sudah pada tahap wajib diatensi. Sejumlah industri mikro hingga menengah telah lama beroperasi dengan limbah dibuang sporadis.

Kebanyakan para pelaku industri membuang air limbah ke saluran air yang sangat berbahaya bagi ekosistem lingkungan.

Oleh karenanya pembangunan SPALD-T, diharapkan menjadi solusi nyata menghadapi bahaya kerusakan lingkungan lebih masif.

“Estimasi awal (anggaran) Rp 36 Miliar untuk perkembangan selanjutnya nanti kita lihat berapa besar anggarannya, itu informasi sementara semua keputusan ada di pemerintah pusat,” pungkasnya.

Sementara itu, dampak sosial pembangunan SPALD-T, berakibat direlokasinya sejumlah pemukiman nelayan di Bageq Kembar.

Namun Camat Sekarbela Cahya Samudra menyebut tidak ada yang dirugikan. Hal itu karena nelayan di sana membangun di atas lahan yang bukan milik mereka.

“Mereka membangun di atas lahan yang bukan tanahnya (sementara di sana ada rencana pembangunan), jadi kita akan arahkan ke Rusunawa (Bintaro),” kata Camat Sekarbela Cahya Samudra.

Hasil pertemuan dengan warga, Cahya meyakinkan tidak ada persoalan atau penolakan serius. “Ya karena mereka tahu itu bukan lahannya,” terangnya.

Pantauan Lombok Post, lahan itu saat ini dimanfaatkan oleh warga membuang sampah organik. Namun Cahya menegaskan tempat itu tidak pernah dibuka sebagai TPS.

“Itu memang kita tutup, memang ada warga yang secara ilegal buang sampah ke sana,” jelasnya.

Selain warga, terlihat juga Dinas Lingkungan Hidup (DLH) membuang sisa perantingan pohon ke tempat itu. Tetapi bukan untuk sampah anorganik atau sampah rumah tangga dan pasar.

Kepala Dinas DLH H Kemal Islam tak menampik memerintahkan anak buahnya membuang di sana.

“Ya kan sebelumnya belum terpakai, tetapi sekarang sedang dalam persiapan-persiapan (sehingga tidak membuang ke sana lagi),” jelasnya.

Sampah organik relatif lebih mudah terurai dibanding anorganik. Pertimbangan itu nampaknya yang mendasari DLH sempat membuang sampah di lokasi itu.

Rencana pembangunan SPALD-T, telah terungkap sejak tahun 2019 lalu. Namun baru tahun ini dapat direalisasi.

Persiapan telah meliputi pembuatan Detail Engineering Design (DED) hingga penyiapan lahan.

Usai dibangun pemkot berencana membentuk unit pelaksana teknis khusus untuk mengelola SPALD-T. Tetapi sebelumnya akan ada pendampingan satu tahun dari kementerian sebelum diserahterimakan. (zad/r3)

Berita Terbaru

Paling Sering Dibaca

Enable Notifications    OK No thanks