alexametrics
Selasa, 29 September 2020
Selasa, 29 September 2020

Pengusaha Hotel Menjerit!

MATARAM-Okupansi hotel ambruk. Rata-rata dalam dua bulan terakhir di bawah 30 persen. Bahkan hotel-hotel kategori medium hingga kecil okupansinya melorot hingga di bawah 15 persen.

“Selama Februari ini, baru 7 orang yang masuk ke hotel saya,” keluh Adi Yasa, pengelola Nutana Hotel Mataram.

Sementara pada bulan Januari lalu pun, kondisinya tak lebih baik. Hal ini lantas membuat para pengelola hotel termasuk dirinya melakukan rasionalisasi.

“Dari pengurangan pegawai hingga tarik modal,” terangnya.

Adi mengatakan, ia tak punya pilihan lain. Terutama untuk menutupi biaya operasional hotel. Bahkan low season diperkirakan akan terus terjadi.

“Hingga bulan April,” duganya.

Ia sendiri belum mengetahui alasan pasti. Apa penyebab kunjungan wisatawan ke kota ambruk. Ia membandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya yang lebih ramai. Dan mencukupi kunjungannya untuk menutupi biaya operasional.

“Bukan karena gempa. Saya juga tidak melihat ini ada kaitannya dengan ongkos pesawat yang mahal,” jelasnya.

Tapi dibandingkan dengan bulan yang sama di tahun lalu. Atau tahun-tahun sebelumnya. Maka tahun inilah yang paling buruk.

“Padahal saya sudah diskon harga hingga 60 persen, cukup buat tutupi operasional saja. Tetap saja sepi,” keluhnya.

Adi membandingkan dengan kondisi di Banyuwangi, Jawa Timur. Di mana wisatawan ternyata tetap ramai. Oleh karena harga tiket miring di sana.

“Coba bayangkan harga tiket Banyuwangi-Kuala Lumpur itu Rp 250 ribu, masuk akal nggak?” bandingnya.

Adi menduga, Pemerintah Daerah di sana berani mengambil keputusan besar. Mendorong wisatawan tetap ramai di awal tahun.

“Kalau tidak disubsidi pemerintah, mana mungkin harga bisa semurah itu,” cetusnya.

Andai saja pemerintah provinsi hingga pemerintah kota bisa melakukan hal yang sama. Seperti yang diupayakan pemerintah Banyuwangi. Adi yakin, para pelaku perhotelan tidak akan sesakit ini melewati masa low season.

“Tapi sepertinya pemerintah kita lebih senang pada kegiatan-kegiatan seremoni,” sindirnya.

Kegiatan itu menurutnya jelas-jelas tidak ada faedahnya bagi para pelaku jasa wisata. Karena yang menikmati sajiannya lebih banyak masyarakat lokal. Sementara target wisatawan tidak pernah tercapai.

“Dulu dalam event great sale, kita pernah diminta turunkan harga hingga 70 persen. Tapi pertanyaannya wisatawannya mana? Gak ada!” sesalnya.

Adi berharap. Mewakili banyak pelaku perhotelan. Pemerintah mau mengevaluasi programnya.

“Kasih subsidi aja tiket ke sini, pasti ramai!” yakinnya.

Jika ramai, gelombang PHK pun tidak perlu dilakukan. Logika para wisatawan lanjut Adi sebenarnya mudah. Asal ada harga yang murah mereka pasti mau melakukan perjalanan ke mana saja.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata Kota Mataram I Made Swastika Negara mengakui. Pihaknya belum merancang program apa saja yang akan digelar. Mendorong jumlah wisatawan meningkat ke ibu kota.

“Tapi secara umum, kami tidak mungkin keluar dari kalender event,” kata Swastika.

Bahkan jika sebelumnya dalam kalender event. Ada program great sale di awal tahun. Swastika memilih untuk mengikuti perubahan kalender event.

“Rencananya Agustus. Yang di awal ini Provinsi,” terangnya.

Swastika lebih tertarik. Menghidupkan beberapa situs pariwisata dengan konten lokal. Daripada memancing agar wisatawan mau datang ke kota dan menginap.

“Seperti pasar seni Sayang-Sayang nanti kita hidupkan dengan pagelaran seni dan budaya,” ujarnya. (zad/r5)

- advertisement mobile-

Berita Terbaru

Turunkan Angka Pernikahan Anak, Lobar Apresiasi Program Yes I Do

"Sudah pas Peran NGO melalui Program Yes I Do sangat bagus menekan tingkat pernikahan anak," kata Kepala DP2KBP3A Lobar Ramdan Hariyanto.

Tetap Tumbuh, Sektor Tambang Topang Ekonomi NTB di Masa Pandemi

Sektor pertambangan memang tak lepas dari fondasi ekonomi provinsi NTB. Di triwulan II 2020, sektor pertambangan dan penggalian yang tumbuh sebesar 47,78 persen mampu menahan laju penurunan ekonomi NTB. Pada triwulan II, ekonomi NTB kontraksi 1,4 persen, namun tanpa sektor pertambangan dan penggalian, kontraksi akan lebih dalam lagi hingga mencapai 7,97 persen.  

Taspen Lindungi JKK JKM Non ASN

PT Taspen kini memberikan jaminan dan perlindungan penuh terhadap pegawai non Aparatur Sipil Negara (ASN)

Nomor 4, Era BARU, Industri 4.0, Menang!

Aqi berkomitmen membuat lompatan besar membawa Kota Mataram lebih maju, nyaman, dan beradab. Ia yakin dengan dukungan semua pihak yang menginginkan ibu kota provinsi NTB bersinar terang. “Sebagai putra Mataram, saya ingin memberikan karya terbaik saya buat tanah kelahiran saya,” katanya dengan suara bertenaga.

UT Mataram Beri Beasiswa KIP-K dan CSR se-NTB

“Penerima beasiswa KIP-K mendapatkan bebas biaya kuliah, buku dan uang saku Rp 700 ribu per bulan yang dibayar di akhir semester,” terang Raden.

Dorong Industri Kreatif : HARUM Rancang Mataram Creative District

ebagai sebuah kota yang terus berkembang, Kota Mataram harus menangkap peluang ini sebagai salah satu penguat daya saing global di masa mendatang.  Bagaimana rencana pengembangan Industri Kreatif di Mataram di masa mendatang berikut petikan wawancara kami dengan H Mohan Roliskana calon wali kota Mataram.

Paling Sering Dibaca

Perubahan Sosial di Era Pandemi

KEHADIRAN pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) telah mengubah tatanan dunia dalam waktu singkat. Barangkali juga tidak ada yang pernah membayangkan bahwa pandemi ini akan menyebabkan derita kemanusiaan yang begitu mendalam. Bahkan dalam waktu yang tidak lama, pandemi ini telah menyebar secara cepat dalam skala luas dan menimbulkan banyak korban jiwa.

Bantuan Uang Tunai untuk Warga Terdampak Korona Diperpanjang Sampai Desember

JAKARTA–Pemerintah memutuskan untuk memperpanjang pemberian bansos. Awalnya, bansos hanya diberikan tiga bulan dari April sampai Juni, namun akhirnya diperpanjang hingga Desember 2020. Sehingga, total...

Perkembangan Bahasa Indonesia sebagai Pemersatu Bangsa

Kongres pemuda kedua pada 28 Oktober 1928 menyatakan pengakuan terhadap tumpah darah yang satu, tanah air indonesia; satu bangsa, bangsa Indonesia; dan menjunjung bahasa...

Karyawan Swasta Gaji di Bawah 5 Juta Bakal Dapat Bansos Rp 600 Ribu

KONSUMSI masyarakat yang rendah membuat pemerintah memutar otak mencari solusi. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Febrio Kacaribu menuturkan, pemerintah tengah memfinalisasi pemberian bansos bagi karyawan non PNS dan BUMN senilai Rp 600 ribu per bulan.

Bantuan Presiden, Pedagang Kaki Lima Bakal Diberi Rp 2,4 Juta

Kucuran bantuan pemerintah dalam rangka stimulus ekonomi di tengah pandemi Covid-19 semakin beragam. Kemarin (19/8) sore di halaman tengah Istana Merdeka bersama sejumlah pedagang kecil, Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkenalkan Bantuan Presiden (Banpres) Produktif.
Enable Notifications    Ok No thanks